Kamis, 23 Oktober 2014

MPB*3

METODE PELAKSANAAN BANGUNAN
  1. A.      PEKERJAAN PERSIAPAN
Pekerjaan persiapan diawali dengan pembersihkan lahan dari rumput, humus, pohon dan dari sampah. Selanjutnya dilakukan pemasangan pagar pengaman pada sekeliling area proyek penentuan as dan peil bangunan, terakhir pemasangan bouwplank. Selain itu air kerja dan listrik kerja harus sudah diperhitungkan penyediaannya oleh pemborong  dengan membelinya. Administrasi proyek juga diurus pada pekerjaan persiapan.
  1. B.       PEKERJAAN TANAH
Pekerjaan tanah dimulai dengan pekerjaan galian tanah. Kemudian mengurug lantai pondasi dengan pasir. Setelah itu mengurug tanah kembali.
  1. C.      PEKERJAAN PONDASI
Pekerjaan pondasi dimulai dari pemasangan profil pondasi, lalu memasang batu kali dengan adukan.
  1. D.      PEKERJAAN BETON BERTULANG
Pekerjaan beton bertulang diawali dari pekerjaan sloof, kolom, balok, plat, dan terakhir ring balk. Tahap awal pada tiap-tiap item pekerjaan di atas adalah pekerjaan pembesian, lalu memasang bekisting, betonisasi, melepas bekisting, dan terakhir merawat beton.
  1. E.       PEKERJAAN DINDING
Pekerjaan dinding diawali dengan memasang batu bata kemudian dilanjutkan pekerjaan plesteran. Pekerjaan dinding dilakukan setelah pekerjaan kolom, balok, dan plat selesai.
Pemasangan pasangan batu bata dilakukan diatas sloof. Pemasangan harus lurus, tegak, tidak siar dan tidak ada batu bata yang pecah melebihi 5 % dan pemasangan batu bata maksimal 1 m per hari.
Pekerjaan plester yaitu bagian yang akan diplester disiram dengan air terlebih dahulu dan plesteran harus menghasilkan bidang yang rata dan sponeng yang lurus. Semua dinding harus diplester dengan 1pc : 3ps untuk pasangan.
  1. F.       PEKERJAAN KUSEN, PINTU, DAN JENDELA
Pekerjaan kayu merupakan pekerjaan kering harus dipisahkan dari pekerjaan pasangan dan pekerjaan beton yang merupakan pekerjaan basah. Pemisahan ini untuk memperjelas jenis pekerjaannya dan tidak saling menggaggu pekerjaan dan pengangkutan material.
  1. G.      PEKERJAAN PENUTUP ATAP
Pekerjaan penutup atap diawali dengan pemasangan kuda-kuda, kemudian pemasangan rangka atap, gording, reng, usuk, dan terakhir pemasangan genteng.
  1. H.      PEKERJAAN SANITASI
Pekerjaan sanitasi dikerjakan mulai saat atau setelah pemasangan Bouwplank atau setelah pemasangan plafond dan sebelum pemasangan lantai. Pekerjaan ini meliputi pembuatan septictank, pemasangan pipa-pipa, pemasangan kloset dan bak mandi. Pemasangan kloset dan pipa perlu diperhatikan agar semuanya berfungsi dengan baik dan tidak ada yang bocor.
  1. I.         PEKERJAAN KERAMIK
Pekerjaan keramik terdiri dari lantai keramik dan dinding keramik.Bahan lantai keramik 30 x 30 cm dan keramik 20 x 20 cm. Sedang bahan dinding keramik adalah keramik 20 x 20 cm. Keramik yang akan dipasang menggunakan spes dan harus disetujui terlebih dahulu oleh direksi. Pemasangan nat sesuai dengan warna keramik dan lantai tidak  boleh bergelombang.
  1. J.        PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK
Pekerjaan instalasi listrik dikerjakan mulai saat atau setelah pemasangan Bowplank atau sebelum pemasangan plafond dan sebelum pengecatan dinding. Pekerjaan ini meliputi pemasangan titik lampu pada tempat yang telah ditentukan dan pemasangan saklar dan stop kontak. Pemasangan kabel pada dinding menggunakan pipa sebagai selubung kabel. Penyelesaian dinding sebagai akibat dari pemasangan saklar perlu diperhatikan dan permukaan dinding harus tetap rapi.
  1. K.      PEKERJAAN KUNCI DAN TERALIS TANGGA
Pekerjaan memasang kunci terdiri dari kunci tanam biasa dan kunci tanam kamar mandi.
  1. L.       PEKERJAAN FINISHING
Setelah semua pekerjaan selesai kemudian mengecat bangunan dan terakhir merapikan dan membersihkan bangunan kembali.





PENJELASAN TIAP ITEM PEKERJAAN
                I.            PEKERJAAN PERSIAPAN
  1. A.    Pembersihan lahan
  • Membersihkan lahan dari rumput, humus, pohon dan dari sampah.
  • Arah pekerjaan ditentukan dengan mempertimbangkan urutan pekerjaan yang akan dilaksanakan berikutnya
  • pembersihan yang merata.

  1. B.     Pembuatan pagar pengaman
  • Pagar terbuat dari seng gelombang dengan tinggi 2 m dan kayu dolken.
  • Dipasang mengelilingi lahan proyek
  1. C.    Penentuan as dan peil bangunan
  • As dan peil bangunan menentukan letak/posisi dan orientasi bangunan
  • Posisi As bangunan diukur dari titik acuan yang telah ditentukan
  • As bangunan harus ditandai dengan jelas(umumnya dengan warna merah) dan diletakan pada ketinggian referensi (mis. + 0,00)
  • As bangunan ini menjadi acuan/referensi as-as yang lain untuk mementukan posisi pondasi, kolom, lantai, dll, pada bangunan yang akan dibuat

  1. D.    Pemasangan bouwplank
  • Bowplank adalah papan-papan yang dipasang disekitar lokasi pekerjaan
  • Kayu yang digunakan adalah kayu 5/7 x 4m dan kayu papan 3/20
  • Bowplank dipasang mendatar sesuai ketinggian rencana, dan dipaku pada beberapa tempat untuk menarik benang-benang as
  • Benang-benang as ini menjadi acuan dalam semua pekerjaan yang menyangkut letak elemen bangunan, lebar pondasi dan tembok, kedalaman galian, dan ketinggian elemen bangunan (lantai, pintu, jendela, dll)
  • Bowplank tidak perlu dipasang menerus, pada beberapa tempat dapat dikosongkan untuk jalan pekerja



             II.            PEKERJAAN TANAH
  1. A.    Pekerjaan galian tanah        
  • Gali tanah sesuai lebar pondasi bagian bawah dan kedalaman rencana
  • Gali sisi-sisi miringnya sehinga dicapai sudut kemiringan yang tepat
  • Tanah hasil galian diletakkan di pinggir galian diluar bouwplank, yang nantinya untuk pekerjaan pengurugan kembali.
  • Cek posisi, lebar, kedalaman, dan kerapiannya, sesuai dengan rencana

  1. Pekerjaan urugan pasir
  • Parit pondasi diurug pasir setebal 10 cm
  1. C.    Pekerjaan urugan tanah
  • Dilakukan urugan kembali terhadap pondasi yang telah terpasang.
  • Pemborong harus melaporkan kepada konsultan pengawas tentang rencana jaringan listrik, telepon, septictank dan lain-lain apabila akan memulai pekerjaan pondasi.
  • Bekas lubang dan parit dalam bangunan harus ditimbun dengan pasir urug dan dipadatkan.
          III.            PEKERJAAN PONDASI
  1. A.       Pasangan pondasi batu kali
  • Pondasi bangunan yang digunakan adalah  pondasi batu kali / batu gunung yang memenuhi persyaratan teknis atau sesuai  keadaan dilapangan .
  • Pasangan pondasi adalah dari batu kali, ukuran pondasi sesuai dengan gambar rencana pondasi atau pondasi batu belah dengan perekat 1pc : 3kp :  10 ps dan kemudian diplester kasar , bagian  bawah  pondasi dipasang batu kosong (aanstamping) tebal 20 cm dengan sela- selanya disisi  pasir urug, disiram air sampai Penuh dan ditumbuk hingga padat dan rata.
  • Celah–celah yang besar antara batu diisi dengan batu kecil yang cocok padatnya.
  • Pasangan pondasi batu kali tidak saling bersentuhan  dan selalu  ada perekat diantaranya hinga rapat.
  • Pada pasangan batu kali sudah harus disiapkan anker besi untuk kolom, kedalaman anker 30 cm harus dicor dan panjang besi yang muncul diatasnya minimal 75 cm.
  • Cor stek kolom dan rapikan kembali
  • Setelah pasangan mengeras, tanah dapat diurug kembali

          IV.            PEKERJAAN BETON BERTULANG
  1. A.    Pembesian
Cara pengerjaan tulangan balok :
  • Buat tulangan sengkang dengan syarat :
  • bengkokan kait minimal 90o ditambah perpanjangan 12d
  • atau bengkokan kait 135o ditambah perpanjangan 6d
  • pembengkokan dilakukan dalam keadaan dingin
  • Potong tulangan memanjang dan bentuk sesuai gambar kerja
  • Masukan tulangan-tulangan memanjang balok pada sela-sela tulangan kolom/balok disebelahnya sesuai dengan dimensi balok dan posisi tulangan
  • Masukan sengkang-sengkang balok sesuai dengan jumlahnya
  • Masukan tulangan-tulangan memanjang balok pada ujung yang lain ke sela-sela kolom/balok sebelahnya
  • Ikat sengkang dengan tulangan memenjang sesuai dengan jarak sengkang yang ditentukan dengan menggunakan kawat bendrat
  • Cek kembali hasil pabrikasi dengan gambar kerja yang ada
  • Pasang pengatur jarak selimut beton/ decking

  1. B.     Bekisting
  • Bekisting dibuat dengan bahan kayu kelas III (terentang) dan balok kayu kelas II, serta dolken diameter 8/400
  • Cek jarak sabuk kolom/balok/sloof/ring balk
  • Cek pertemuan panel sudut bekisting
  • Permukaan plywood dibersihkan dan dilumasi minyak bekisting
  • Penyetelan sabuk dan kayu support bekisting
  • Pemberian mortar pada dudukan bekisting, pastikan mortar yang ditabur mengering

  1. C.    Betonisasi
  • Digunakan beton mutu K-300 dengan campuran 1PC:2PS:3KR
  • Untuk kolom pengecoran dilakukan tiap satu meter
  • Untuk plat dan balok pengecoran dilakukan sekaligus
  • Vibrasi yang cukup selama pengecoran
  • Pengetokan pada keliling luar bekisting
  • Untuk beton pada lantai 2 dari molen diangkut secara bertahap ke lantai 2
  1. D.    Pelepasan bekisting
  • Satu hari setelah pengecoran, bekisting dilepas
  • Melepas scafolding
  • Melepas plywood

  1. E.     Perawatan beton
  • Menyiram beton setiap siang dan sore selama minimal 3 hari
  • Menutupi dengan karung basah
             V.            PEKERJAAN DINDING
  1. A.  Pekerjaan pasangan batu bata
  • Pasang acuan kayu (profil) secara vertikal pada setiap ujung dinding yang akan dipasang.
  • Di ukur dan di tandai jarak setiap ketinggian pasangan bata / batako dan di kontrol kesetimbangan horisontalnya antara ujung satu dengan yang lainnya.
  • Basahi bata yang akan di pasang sampai tidak menyerap air.
  • Beri adukan mortar (sebagai perekat) pada setiap sambungan antara batu bata dan pada setiap sambungan atas dan bawah dari batu bata tidak boleh membentuk garis lurus/vertikal.
  • Usahakan potongan batu bata yang besarnya kurang dari setengahnya tidak dipakai atau tidak dipasang.
  • Tinggi pemasangan dinding batu bata dalam satu hari supaya tidak lebih dari 1 meter, untuk menjaga keruntuhan.
  1. B.  Pekerjaan plesteran dinding
  • Siapkan material yang akan di pakai pada lokasi yang terdekat atau strategis dari dinding yang akan di plester.
  • Siram  permukaan   bata / bataco   dengan  air  sampai   basah  secara  merata   (  curing  ).
  • Buat  adukan   untuk   kamprotan   dengan   perbandingan tertentu (misalkan = 1 pc  :  2  ps)
  • Lakukan   kamprotan  pada   bidang  yang  telah  dicuring dengan   jarak   lemparan  ±  50  cm  dari   permukaan  yang dikamprot  dengan  ketebalan  15 ~  20  mm.
  • Setelah  bidang  yang  dikamprot  kering,  lakukan  penyiraman  ( curing )  selama  3  hari  ;  pagi,  siang  &  sore.
  • Setelah  itu  mulailah   membuat  caplakan  dengan adukan  1  pc  :  3  ps.
  • Buat  kepalaan  dengan  ketebalan  15  mm.
  • Lanjutkan   dengan   penyiraman   jika   kepalaan  telah mengering.
  • Pastikan  bidang  yang  akan  diplester  telah  dicuring.
  • Buat  adukan   1  pc  :  3  ps,  gunakan    pasir   yang   diayak  ( halus ).
  • Lakukan  plesteran   pada  bidang – bidang  yang  telah ada  kepalaannya  sampai  selesai  seluruh  permukaan pada  setiap bagian   dengan   cara   dilempar  dari   jarak ±  50 cm
  • Gunakan   jidar   untuk   meratakan   permukaan  sesuai dengan  kepalaan.
  • Saat plesteran setengah kering, gunakan roskam untuk        mengosok permukaan dinding sampai halus & rata.
  • Lanjutkan dengan curing selama 7 hari : pagi, siang dan sore  sampai  permukaan  plesteran benar – benar basah       seluruhnya.
  • Setelah  cukup  usia  curing,  keringkan  bidang  tersebut  selama  1  hari.
  • Haluskan  permukaan  dinding  dengan  amplas  halus.
  • Plamir   bidang – bidang  plesteran  yang  telah  kering  dengan  menggunakan  plamir  yang baik.
  • Lakukan   sebanyak   3   lapis   ( tiga  kali  pelaksanaan ) sampai  dinding  benar – benar  rata  dan  halus.
          VI.            PEKERJAAN KUSEN, PINTU, DAN JENDELA
  1. A.       Pemasangan kusen
  • Siapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan mudah dijangkau.
  • Rentangkan benang berjarak separuh dari tebal kusen terhadap as bouwplank untuk menentukan kedudukan kusen.
  • Pasang angker pada kusen secukupnya.
  • Dirikan kusen dan tentukan tinggi kedudukan kusen pintu/jendela.
  • Setel kedudukan kusen pintu/jendela sehingga berdiri tegak dengan menggunakan unting-unting.
  • Pasang skur sehingga kedudukannya stabil dan kokoh.
  • Pasang patok untuk diikat bersama dengan skur sehingga kedudukan menjadi kokoh.
  • Cek kembali kedudukan kusen pintu/jendela, apakah sudah sesuai pada tempatnya, ketinggian dan ketegakan dari kusen.
  • Bersihkan tempat sekelilingnya.
  1. B.       Pemasangan daun pintu dan jendela
  • Ukur lebar dan tinggi kusen pintu/jendela.
  • Ukur lebar dan tinggi daun pintu/jendela.
  • Ketam dan potong daun pintu/jendela (bila terlalu lebar dan terlalu tinggi).
  • Masukkan/pasang daun pintu/jendela pada kusennya, stel sampai masuk dengan toleransi kelonggaran 3 – 5 mm, baik ke arah lebar maupun kearah tinggi.
  • Lepaskan daun pintu/jendela, pasang/tanam engsel daun pintu pada tiang  daun pintu (sisi tebal) dengan jarak dari sisi bagian bawah 30 cm, dan dari sisi bagian atas 25 cm (untuk pintu/jendela dengan 2 engsel), dan pada bagian tengah (untuk pintu dengan 3 engsel)
  • Masukkan/pasang lagi daun pintu/jendela pada kusennya, stel sampai baik kedudukannya, kemudian beri tanda pada tiang kusen pintu/jendela tempat engsel yang sesuai dengan engsel pada daun pintu/jendela.
  • Lepaskan sebelah bagian engsel pada daun pintu/jendela dengan cara melepas pennya, kemudian pasang/tanam pada tiang kusen
  • Pasang kembali daun pintu/jendela pada kusennya dengan memasangkan engselnya, kemudian masukkan pennya sampai pas, sehingga
  • terpasanglah daun pintu pada kusen pintunya.
  • Coba daun pintu/jendela dengan cara membuka dan menutup.
  • Bila masih dianggap kurang pas, lepaskan daun pintu/jendela dengan cara melepaskan pen.
  • Stel lagi sampai daun  pintu/jendela dapat membuka dan menutup dengan  baik, rata dan lurus dengan kusen

  1. C.       Pemasangan kaca 
  • Letakkan daun pintu/jendela dengan posisi alur terletak pada bagian atas. Usahakan letakkan pada meja yang luasnya minimal sama dengan luas daun pintu. Atau letakkan pada lantai yang datar.
  • Haluskan seluruh sisi kaca agar tidak tajam.
  • Pasangkan lembaran kaca dengan hati-hati, gunakan selembar karton atau kain untuk memegang kaca.
  • Pasang paku pada list kayu sebelum dipasang pada keempat sisi daun pintu/jendela.
  • Setelah lis terpasang, perlahan masukkan paku dengan martil.
  • Sebaiknya letakkan selembar kain di atas permukaan kaca yang sedang dipasang lis kayu. Ini untuk menghindari goresan pada permukaan kaca karena gerakan martil
       VII.            PEKERJAAN PENUTUP ATAP
  1. A.       Pemasangan kuda-kuda
  • Pengangkutan kuda-kuda, bahan dan alat ke lokasi proyek
  • Pekerjaan pengecatan rangka kuda
  • Pekerjaan perangkaian kuda-kuda
  • Pekerjaan menaikan kuda-kuda keatas atap
  • Rangka kuda-kuda ditempatkan pada angkur yang terdedia, besi angkur merupakan tulangan dari kolom yang dilebihkan sebagai pengikat antara kuda-kuda dan dinding.Angkur kemudian ditempatkan pada plat dudukan kuda-kuda yang sudah dilobangi, kemudian angkur  dan plat dudukan kuda-kuda tersebut disambung dengan baut angkur 12 mm.
  1. B.       Pemasangan rangka atap
  • Perangkaian ikatan angin vertikal
  • Pekerjaan menaikkan ikatan angin vertikal
  • Setelah ikatan angin vertikal dinaikkan, pekerjaan selanjutnya adalah perangkaian antara ikatan angin vertikal dengan kuda-kuda
  • Setelah ikatan angin terpasang, kemudian balok nok dipasang pada rangka atap.
  1. C.       Pemasangan gording
  • Pengecatan gording
  • Memindahkan bahan gording ke lantai atas
  • Gording ditempatkan diatas kuda-kuda pada titik buhul kuda-kuda
  1. Pemasangan genteng
  • Sebelum dilakukan pekerjaan pemasangn genteng sebelumnya disiapkan diatas atap (disusun) pada titik-titik tertentu.
  • Genteng dipasang secarah horisontal terlebih dahulu pada bagian atas.
  • Setelah pada bagian paling atas terpasang diteruskan pada bagian bawahnyasecara horizontal.
  • Dengan cara pemasangan genteng pada bagian atas diangkat atau diungkit setelah itu dimasukan genteng pada bagian bawahnya.
  • Pertemuan dengan jurai genteng dipotong dengan bentuk segitiga agar rapi.

  1. E.       Pemasangan lisplank
  • Papan lisplank dipaku pada rangka listplank
  • Pada sambungan papan lisplank dibuat sambungan bibir lurus.
  • Setelah selesai pemasangan tahap berkutnya yaitu dilakukan pendempulan dan pengecatan
  1. F.        Pemasangan plafond gypsum
  • Tentukan / marking  elevasi   plafond  dan   buat garis  sipatan   pada  dinding & as  sumbu  ruangan   serta   titik – titik    paku   kait   pada   langit- langit  dengan  jarak  sesuai  shop  drawing.
  • Pasang  paku  kait. tembakan  paku – paku  kait  pada  marking  titik –       titik  yang  telah  ada  600  x  1200  mm.
  • Pasang  penggantung  rangka  plafond  (  rod  ) yang  terdiri   dari   hanger  dan  clip  adjuster  (  ex.  Boral  type  223  ),   dengan   posisi  tegak  lurus.
  • Pasang  rangka  tepi    (  steel  hollow  )  &   wall angle    profil    l    20  x  20   mm    atau    moulding profil  w   sebagai   list  tepi  tepat  pada  sipatan marking  elevasi  plafond.
  • Tentukan  jarak  penempatan  kait  penggantung.
  • Pasang  tarikan   benang  sebagai  pedoman   penentu  kelurusan  dan  ketinggian  rangka  plafon
  •  Pasang  rangka  utama  /  top  cross  rail  (  ex.boral  type  201  )  dengan  jarak  1200  mm.
  • Pasang  rangka  pembagi  /  furing  chanel  (  ex.boral  type  204  )  dengan  jarak  600  mm  menggunakan  locking  clip  (  ex.  Boral  type  210  ).
  • Pasang  dan  kencangkan  clip /  rod.
  • Pasang  panel  gypsum  pada  rangka  dengan sekrup  ceiling  menggunakan  screw  driver dengan  jarak   60  cm  dan  setiap  sambungan harus  tepat  pada  rangka.
  • Cek  kerapihan  dan  kerataan  bidang  plafond dengan  menggunakan  waterpass.
  • Perataan  sambungan  plafond  dengan  men gunakan  ceiling  net /  lakban.
  • Kemudian   ditutup   dengan   paper  tape  dan compound  ceiling.
  • Setelah  itu  diamplas
  • Finish  permukaan  plafond  gypsum  tersebut dengan  cat.
  • Ratakan  permukaan  plafon  gypsum  menggunakan  plamur  sampai  terlihat  rata  dan lurus.
  • Haluskan  dengan  amplas  sampai  rata  dan benar – benar  halus.
  • Cat   seluruh    permukaan    plafond   secara merata  dengan  kuas  untuk  bagian  tepi  dan sudut,  serta  rol  cat  untuk  bidang  luas

  1. G.      Pemasangan plafond tripleks
  •  Buat   marking  elevasi,  as  dan  jarak  penggantung   rangka    plafon  sesuai   dengan shopdrawing. ( untuk  menentukan  ketinggian  plafond )
  • Pasang  benang  nylon  dua  sisi  dan  sejajar sebagai   pedoman   kelurusan   &   ketinggian rangka,  sesuai  elevasi  yang  telah  dibuat.
  • Pasang   instalasi   terlebih   dahulu   sebelum memasang  rangka  plafond.
  • Pasang  rangka   plafond   (yang  telah  dihaluskan,  dimeni  &  dipotong)   sesuai   marking yang  telah  dibuat.
  • Periksa    kelurusan    dan    kerataan   rangka menggunakan  waterpass  &  siku  besi.
  • Potong    panel    plafond    plywood    dengan gergaji  sesuai  shop  drawing.
  • Haluskan  bekas  potongan  plywood  dengan amplas.
  • Pasang  panel  plafond  plywood  tersebut dengan  mengatur  :
  • kelurusan  &  kerapatan  nad  plafond
  • kerataan  plafond
  • Pemasangan    plafond    dimulai    dari    tepi ( mengikuti  gambar  kerja)  dan  diperkuat dengan   paku   yang  diketok  dengan   palu besi.
  • Cek  kerataan  permukaan  plafond  yang  sudah jadi  dengan  waterpass.
  • Rapikan   &   haluskan   permukaan   plafond plywood  yang   telah    terpasang    dengan amplas  sampai  rata / licin.
  • Bersihkan   permukaan   yang   telah   diamplas  dengan  kain  lap.
     VIII.            PEKERJAAN SANITASI
  1. A.    Pemasangan kloset duduk
  2. B.     Pemasangan kloset jongkok
  3. C.    Pemasangan kran air
  4. D.    Pemasangan bak cuci piring
  5. E.     Pekerjaan bak mandi
  6. F.     Pekerjaan bak peresapan
  7. G.    Pekerjaan septictank
  8. H.    Pemasangan pipa PVC 1/2”
  9. I.       Pemasangan pipa PVC 3/4”
  10. J.      Pemasangan pipa PVC 3”
  11. K.    Pemasangan pipa PVC 4”
IX.            PEMASANGAN KERAMIK
  1. A.       Pemasangan lantai keramik
  • Siapkan   peralatan   dan   bahan – bahan   yang  akan  digunakan.
  • Pahami  gambar  kerja,  pola  pemasangan  dan   lain – lain.
  • Sortir  keramik  agar  menghasilkan  keseragaman  :
-   ukuran / dimensi.
-   presisi.
-   warna.
  • Rendam  keramik  yang  akan  dipasang  kedalam  bak  air  ( ember )  selama  1  jam.
  • Keramik  dianginkan   dengan  cara  diletakan   pada  tempat  dudukan  / tatakan  keramik,  setelah  pro ses  perendaman.
  • Tentukan  garis  dasar  pasangan  serta  peil  dari  lantai. Penentuan  peil  ini  untuk  seluruh  kesatuan
  • Pasang  benang  arah  horizontal  dan   vertikal   pada  lantai  sesuai  elevasi  pada  shop  drawing. Kedudukan   benang  harus   datar   dan   siku , apabila    dinding   yang   ada   adalah    dinding keramik,  maka  kedudukan   nad  lantai   harus disesuaikan  dengan  yang  ada  pada  dinding.
  • Pasang  keramik   sebagai   pasangan  kepalaan ,  sepanjang  garis  dasar  yang  telah  terpasang
  • Cek   kesikuan   keramik   dengan   besi   siku   dan  kerataan  elevasi  keramik  dengan  waterpass.
  • Isi  bagian  /  daerah  permukaan  lantai  yang  lain nya  dengan  adukan / spesi.
  • Setelah   itu   pasang   keramik  berikutnya   sesuai  posisinya  sampai  selesai,  usahakan  supaya  tidak  ada  las – lasan
  • Jika  keramik  sudah  terpasang  semua,  ketuk  per mukaan  keramik  dengan  palu  karet untuk  mendatarkan  /  meratakan   permukaan   keramik   supaya   tidak  rusak  /  cacat.
  • Setelah  itu   cek  kerataan  elevasi  keramik  dengan waterpass
  • Bersihkan   permukaan   pasangan   keramik   yang telah  terpasang  dengan   kain  /  lap  basah  sampai  bersih.
  • Untuk  menghindari  naiknya  lantai  (  menggelembungnya  lantai  )  maka  buatlah  delatasi.
  • Kemudian  siapkan  isian  /  bahan  cor  nad  pada  bak air  ( ember )   dan  aduklah  hingga  rata
  • Setelah  adukan  rata ,  isi  sela – sela  nad  dengan bahan   cor   nad   dengan    menggunakan    sendok  spesi   (  sekop  ). Pengisian   nad  dilakukan   apabila   kedudukan keramik  telah  kuat  atau  spesi  telah  kering
  • Kemudian  rapikan  nad  tersebut  dengan  cape.
  • Diamkan  dan  tunggu  sampai  nad  tersebut  benar -benar  kering.
  • Setelah   kering,   bersihkan   permukaan   pasangan keramik   yang  sudah   dipasang  nad  dari  sisa – sisa bahan  cor   nad   dengan   menggunakan   kain  /  lap basah  sampai  bersih
  1. B.       Pemasangan dinding keramik (20×20)
  • Siapkan   peralatan   dan   bahan – bahan   yang  akan  digunakan.
  • Pahami  gambar  kerja,  pola  pemasangan  dan   lain – lain.
  • Sortir  keramik  agar  menghasilkan  keseragaman  :  :
    • ukuran / dimensi.
    • presisi.
    • warna.
    • Rendam  keramik  yang  akan  dipasang  kedalam  bak  air  ( ember )  selama  1  jam.
    • Keramik  dianginkan   dengan  cara  diletakan   pada  tempat  dudukan  / tatakan  keramik,  setelah  pro ses  perendaman.
    • Membuat garis-garis sipatan waterpas pada dinding keramik keliling +/- 1m untuk menentukan ketinggian dan kedataran pemasangan keramik.
    • Membuat lot pada dinding di tiap pojok ruangan dan kesikuannya serta garis pertengahan dinding untuk pembagian keramik.
    • Mengukur jarak-jarak dinding untuk lebar dan tinggi ruangan, serta bagian-bagian yang terpasang pada ruangan tersebut.
    • Berdasarkan data – data pengukuran kemudian membuat gambar kerja untuk pembagian pemasangan keramik dinding tersebut.
    • Ukuran pemasangan keramik mengikuti gambar yang sudah dibuat sebelumnya sebagai acuan kerja.
    • Pada pelaksanaan pekerjaan keramik dinding, sebaiknya keramik lantai belum terpasang sehingga nantinnya mendapat nut yang segaris antara dinding dan lantai.
    • Pemasangan keramik harus padat dan rata sehingga tidak ada keramik dengan spesi kosong
    • Membuat kepalaan keramik baik secara horisontal maupun vertikal mengikuti garis sipatan dan lot ketegakan yang telah dibuat sebelumnya.
    • Sebelum keramik dipasang sebelumnya dinding dibasahi terlebih dahulu dengan air.
              X.            PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK
  • Semua hantaran (kabel) yang ditarik dalam pipa / cabelduct harus diusahakan tidak tampak dari luar (tertanam).
  • Pemasangan pipa harus dilaksanakan sebelum pengecoran. Pemasangan sparing-sparing listrik yang melintas di plat, balok, kolom beton harus dipasang terlebih dahulu sebelum pengecoran, kabel diusahakan dimasukkan bersamaan dengan pemasangan sparing.
  • Pipa yang dipasang pada dinding dilaksanakan sebelum pekerjaan plesteran dan acian dikerjakan.
  • Penempatan sambungan/percabangan harus ditempatkan di daerah yang mudah dicapai untuk perbaikan (perawatan).
  • Sambungan harus menggunakan klem / isolasi kabel supaya terlindung dengan baik sehingga tidak tersentuh atau menggunakan lasdop dan ditempatkan pada Te Dos.
  • Lekukan/belokan pipa harus beradius > 3 kali diameter pipa dan harus rata (untuk memudahkan penarikan kabel).
  • Jaringan arde harus dipasang tersendiri/terpisah dengan arde penangkal petir.
-          tidak boleh ada sambungan
-          dihubungkan dengan elektroda pentanahan
-          ditanam sampai minimal mencapai air tanah
  • Pada hantaran di atas langit-langit, harus diklem pada bagian bawah plat / balok atau pada balok kayu rangka langit-langit.
  • Untuk hantaran/tarikan kabel yang menyusur dinding bata/beton pada shaft harus diklem atau dengan papan dan kabeltrey bila jaringan terlalu rumit (banyak).
  • Stop kontak dan saklar. Pemasangan stop kontak setinggi > 40 cm dari lantai, saklar dipasang setinggi
  • 150 cm dari lantai (bila tidak ditentukan spesifikasinya). Pemasangan stop kontak dan saklar harus rata dengan dinding.
  • Box / kotak Panel bodynya harus diarde, untuk menghindari adanya arus.
           XI.            PEKERJAAN KUNCI DAN TERALIS BESI
  1. Kunci tanam
  2. Kunci kamar mandi
  3. Engsel pintu
  4. Engsel jendela
  5. Teralis tangga
XII.            PEKERJAAN FINISHING
  1. A.    Pengecatan
  • Bersihkan permukaan dinding dari debu , kotoran dan bekas percikan plesteran dengan   kain lap.
  • Lindungi bahan – bahan / pekerjaan lain yang berbatasan dengan dinding yang akan  dicat dengan kertas semen / koran dan lakban.
  • Gunakan skrap untuk memperbaiki bagian – bagian dinding yang retak & kurang   rata dengan plamir, kemudian tunggu sampai kering.
  • Haluskan plamir yang telah kering dengan amplas hingga rata.
  • Cek, kerataan permukaan dinding.
  • Jika permukaan sudah rata, maka lakukan pengecatan dasar dengan alat rol pada bidang yang luas & dengan kwas untuk  bidang yang sempit ( sulit  ).
  • Jika cat dasar tersebut sudah kering, lakukan pengecatan finish yang pertama.
  • Jika cat finish yang pertama sudah kering, lakukan pengecatan finish yang kedua / terakhir ( jumlah pelapisan cat sesuai dengan spesifikasi  ).
  • Cek kerataan pengecatan yang terakhir.
  • Apabila sudah rata, bersihkan cat  –  cat   yang mengotori bahan – bahan  /  pekerjaan  lain yang seharusnya  tidak  terkena  cat dengan  kain  lap.

MPB*2

Didalam Pelaksanaan Proyek, metode pelaksanaan sangat penting dilaksanakan, hal ini untuk mengetahui pekerjaan mana yang harus segera dilakukan, dengan demikian  waktu pelaksanaan bisa tercapai seperti yang telah ditentukan. Pekerjaan dapat dilaksanakan dengan tahapan dan langkah-langkah pekerjaan sebagai berikut :

A.     Pekerjaan Persiapan
    Pekerjaan ini dilaksanakan sebelum pekerjaan yang lain dilaksanakan dengan terlebih dahulu melakukan :
1.    Pembersihan lokasi disekeliling areal pekerjaan yang akan dikerjakan dengan menggunakan Greader.
2.    Pengukuran/ Pemasangan Bowplank harus dilakukan dengan alat ukur, sehingga dapat terjamin tegak lurus terhadap sumbu X, tiang bowplank terbuat dari kayu dan pada posisi atasnya dipasang waterpass.
3.    Pengadaan P3K dan obat – obatan dalm melaksanakan pekerjaan pembangunan
4.    Administrasi  dokumentasi, bahan dan peralatan kelapangan pekerjaan.
5.    Pembuatan bangsal kerja untuk para pekerja.


B.    Pekerjaan Jalan
    Pekerjaan yang akan dilaksanakan pada pekerjaan ini harus diperhitungkan jenis tanah yang dijumpai dilapangan seperti tanah pasir, gambut, tanah keras (batuan), tanah liat dan lain sebagainya,.

1.    Timbunan LPA.
Bahan timbunan LPA yang dipergunakan sesuai dengan petunjuk direksi dan dikerjaan sesuai dengan gambar rencana, Bahan timbunan ini diperoleh dari tempat pengambilan tanah yang disetujui oleh Direksi. Timbunan ini dipadatkan lapis demi lapis dengan menggunakan stamper atau mesin gilas sehingga mencapai kepadatan yang cukup sesuai dengan persyaratan yang diinginkan. Pemadatan ini dilakukan dari tepi menggeser ketengah, berjalan paralel dengan as jalan dan diusahakan berjalan terus tanpa berhenti sampai seluruh permukaan dipadatkan.

2.    Bahu Jalan Pengurugan bekas galian pondasi diurug lapis demi lapis dan dipadatkan dengan mengunakan alat tumbuk.

3.    Pengurugan tanah dibawah lantai dilakukan lapis demi lapis, urugan ditumbuk hingga  hingga ketebalan yang cukup.

4.    Pengurugan dengan pasir dibawah lantai dilakukan dengan pasir pasangan dan pemadatan, ini dilakukan dengan menyiram air hingga jenuh, kemudian ditumbuk dengan alat yang sesuai untuk pemadatan.

C.    Pekerjaan Pasangan dan Pondasi
    Pekerjaan ini dilaksanakan setelah pekerjaan galian selesai dilaksanakan dan dimensi pondasi dilakukan sesuai dengan gambar, dibawah dasar pondasi didasari dengan dengan pasir pasang dan dipadatkan, diatas pasir dipasang aanstamping, pondasi batu gunung/batu belah, yang terdiri dari pasangan batu gunung dan pasir pasang (Pasangan Batu Kosong) sebelum dilakukan pengecoran terlebih dahulu dibuat papan cetakan untuk pondasi, Campuran yang digunakan untuk adukan Cyclopen dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi teknis.



D.    Pekerjaan beton bertulang dan tak bertulang.
    Besi beton yang digunakan adalah baja lunak denga mutu U 24, daya lekat baja tulangan harus dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya, Cetakan dan acuan beton yang digunakan harus bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai yang telah ditentukan.
    Mutu beton yang dipergunakan sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
  
    Pekerjaan pasangan bata dilaksanakan setelah pekerjaan pondasi dan kolom selesai dilaksanakan, adukan pasangan harus dibuat menurut spesifikasi dan pasangan ½ bata yang dimulai diatas sloff sampai setinggi 20 cm dari lantai

    Pekerjaan Plasteran dilakukan pada seluruh pasangan batu bata yang telah dipasang, beton bertulang, dan saluran keliling bangunan. Pekerjaan plasteran baru boleh dilaksanakan setelah pekerjaan penutup atap selesai dipasang dan pipa – pipa listrik selesai dipasang.

D.    Pekerjaan Kayu.
    Pekerjaan Kosen pintu dan jendela.
Pekerjaan ini dilakukan sejalan dengan pekerjaan pasangan bata, semua bidang kozen yang bersinggungan dengan dinding /beton dibuat alur. Konstruksi sambungan kayu haru srapi dan tidak longgar perkuatan.

Pekerjaan kuda – kuda dilaksanakan setelah semua pekerjaan bagian beton bertulang dan pasangan dinding selesai dilaksanakan, semua kayu untuk kuda – kuda diawetkan dengan residu kuda – kuda..Sambungan kayu kuda – kuda harus dibuat rapi dan tidak longgar perkuatan.

E.    Pekerjaan Penutup Atap.
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah perkayuan kuda – kuda selesai dilaksanakan, dengan menutup semua bidang atap bangunan, pemasangan seng saat pelaksanaan dikerjakan tanpa banyak sambungan seng, dan dipaku khusus, jenis seng yang digunakan sesuai dengan spesifikasi dan desin yang telah ditetapkan.

F.    Pekerjaan Langit-langit
Pekerjaan yang dilaksanakan untuk menutup langit-langit dilaksanakan setelah pekerjaan penutup atap selesai dilaksanakan, rangka langit-langit induk dipasang dengan urutan pertama, yang dipakukan pada gapit kuda – kuda (balok tarik), rangka ini kemudian dipakai penggantung dari papan berkualitas terbaik kekiri kuda – kuda dan gording

G.    Pekerjaan Lantai
Sebelum lantai dipasang, harus terlebih dahulu memeriksa semua pasangan pipa-pipa, saluran-saluran dan lain sebagainya yang sudah harus terpasang dengan baik, sebelum pemasangan lantai dimulai terlebih dahulu ditentukan peil lantai dengan menggunakan  waterpass.
Adukan beton dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditentukan, adukan untuk lantai harus benar benar padat, hal ini untuk menghindari terdapatnya rongga-rongga hingga melemahkan konstruksi.

    K    Pekerjaan Pengecatan
·    Pekerjaan pengecatan dilaksanakan setelah pemasangan plafond.
·    Pekerjaan meni harus betul-betul rata dan berwarna sama.
·    Pengecatan dinding harus dilakukan terlebih dahulu dengan meggosok dinding sampai rata dan halus kemudian dilap hingga bersih, pengecatan dipoles dengan rata.
·    Pengecatan plafond dilaksanakan dengan terlebih dahulu membersihkan bidang plafond yang akan dicat, pengecatan dilakukan sebanyak 3 lapis.
·    Pengecatan kozen pintu dan jendela dilaksanakan setelah semua kozen., pintu dan jendela di gosok permukaannya sampai halus dengan menggunakan cat minyak, pelapisan cat cat dikakukan hingga cat benar-benar merata.

H.    Pekerjaan Instalsi Listrik
Pekerjaan instalasi listrik dilaksanakan setelah pekerjaan dinding dan pekerjaan penutup rangka atap dan langit-langit, yang meliputi seluruh pemasangan instalasi didalam bangunan, pemasukan arus yang bersumber dari instalasi PLN jumlah titik lampu dan stop kontak yang harus dipasang disesuaikan dengan jumlah yang tertera dalam gambar. Titik lampu dan Stop Kontak mengandung maksud tempat mata lampu dan stop kontak yang telah dipasang kabel-kabel diperlukan, sehingga arus listrik sudah berfungsi pada titik tersebut.

I.    Pekerjaan Pengunci dan penggantung.
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah semua pintu dn jemdela sudah terpasang, pengunci dan penggantung dipasang pada semua pintu dan jendela, selanjut nya pada jendela dipasang grendel dan hak angin.

J.    Pekerjaan Pemipaan dan Perlengkapan sanitasi
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pembuatan unit saluran pembuangan air kotor, air bersih, air hujan dan toren, pemasangan pipa pipa didalam bangunan dipasang didalam dinding. Pasangan pipa – pipa tersebut harus vertikal dan horizontal dan vertikal serta tidak boleh miring.
  
K.    Pekerjaan Finishing.
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah semua pekerjaan selesai dilaksanakan, sebelum dilakukan serah terima, loaksi pekerjaan harus sudah bersih dari berbagai macam tumpukan bekas material dan bangsal kerja juga harus dibongkar.    

metode pelaksanaan bangunan *1

I.    PEKERJAAN PERSIAPAN
Pekerjaan Persiapan ini adalah pekerjaan yang harus dilakukan sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan. Adapun yang termasuk dalam pekerjaan persiapan adalah :

a)    Pembersihan Lapangan
Tahap Pertama yang dilakukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah membersihkan areal pekerjaan sesuai dengan volume yang ada dengan cara membersihkan sampah-sampah/kotoran yang ada disekitar lokasi agar dalam pelaksanaan pekerjaan nantinya tidak ada kendala.

b)    Pembuatan Direksi Keet/Gudang
Tahap Kedua adalah Pembuatan Direksi Keet/Gudang. Direksi Keet/Gudang ini adalah bangunan sementara dari kayu yang dibangun sebagai tempat penyimpanan bahan/material yang akan digunakan, tempat rapat/koordinasi lapangan antara pelaksana, konsultan perencana, konsultan pengawas dan instansi terkait baik rutin ataupun koordinasi yang sifatnya mendadak dan sebagai tempat peristirahatan para pekerja.

c)    Pemasangan Bouwplank/Pengukuran
Tahap Ketiga adalah pemasangan Bouwplank/Pengukuran dari papan dan kayu 5/7, untuk papan diketam halus atau lurus pada sisi atasnya dan dipasang Waterpass (timbang air) dengan sudut-sudutnya yang siku. Pekerjaan ini dilakukan adalah untuk menentukan dimana lokasi pembangunan yang akan dilaksanakan nantinya dan juga dalam pekerjaan ini akan ditentukan ketinggian lantai yang akan dilaksanakan. Pemasangan Bouwplank/Pengukuran ini dilakukan bersama-sama dengan Pemilik Proyek, Pelaksana Proyek, Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan Instansi Lain yang terkait.
II.    PEKERJAAN TANAH
a)    Pekerjaan Galian Tanah Pondasi
Pekerjaan ini adalah menggali tanah untuk perletakan titik pondasi tapak yang akan dikerjakan sesuai dengan volume yang tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya. Galian pondasi dilaksanakan setelah pasang bowplank dengan penandaan sumbu ke sumbu selesai diperiksa dan disetujui Konsultan Pengawas.Bentuk galian dilaksanakan sesuai dengan ukuran yang tertera dalam gambar. Apabila ditempat galian ditemukan pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, telepon atau lainnya yang masih berfungsi, maka secepatnya memberitahukan kepada Konsultan Pengawas atau kepada instansi yang berwenang untuk mendapat petunjuk seperlunya. Segala kerusakan yang diakibatkan pekerjaan galian tersebut diperbaiki segera. Apabila pada waktu penggalian ditemukan benda-benda purbakala, maka segera melaporkannya kepada Pemerintah Daerah setempat. Bila penggalian melebihi kedalaman yang telah ditentukan dalam gambar, maka segera mengisi kelebihan galian tersebut dengan pasir urug.
b)    Pekerjaan Urugan bekas galian
Pekerjaan urugan bekas galian dilakukan setelah tanah bekas galian tadi disemprotkan bahan kimia STEDFAST 15 EC. Pengurugan bekas galian pondasi diurug lapis demi lapis dengan ketebalan tiap lapis maksimum 15 cm. Tiap lapisan dipadatkan dengan menumbuk lapisan tersebut, menggunakan alat tumbuk yang baik. Setelah lapisan pertama padat, ditimbun dengan lapisan berikutnya dan dipadatkan kembali seperti diatas. Demikian seterusnya dilakukan sampai semua lubang bekas galian pondasi tertutup kembali. Pengurugan dengan tanah timbunan dibawah lantai dilakukan lapis demi lapis hingga ketebalan 10 cm dibawah lantai, ditumbuk hingga padat. Lapisan-lapisan urugan untuk ditumbuk ini dibuat maksimal 10 cm.
Pelaskanaan Rehab Pintu, Jendela dan KM/Wc
Ø    Tahap Pertama dari pekerjaan ini adalah membongkar Pintu, jendela dan kM/Wc lama dengan cara membobok dinding yang ada dengan alat seperti cangkul burung, palu besar ataupun cangkul sesuai dengan volume yang tercantum dalam RAB dan Gambar. Setelah itu bekas bongkaran dibersihkan dan diratakan dengan urugan pasir serta dipadatkan.
Ø    Tahap Kedua dari pekerjaan ini adalah Melaksanakan Pengecoran dengan perbandingan adukan bahan 1 Pc ; 3 Ps : 5 Kr dengan ketebalan maksimal 10 cm. Sebelum pengecoran dimulai, ramp harus diwaterpass dengan benar kemiringannya agar hasil pengecoran tidak bergelombang.
Ø    Tahap Ketiga dari pekerjaan ini adalah Pemasangan Pintu, Jendela dan Km/Wc. Setelah pengecoran selesai dan sudah kering pada pekerjaan

Pelaksanaan Rehab Lantai
Ø    Tahap Pertama dari pekerjaan ini adalah membongkar lantai keramik yang lama dengan cara membobok keramik yang ada dengan alat seperti cangkul burung, palu besar ataupun cangkul sesuai dengan volume yang tercantum dalam RAB dan Gambar. Setelah itu bekas bongkaran dibersihkan dan diratakan dengan urugan pasir serta dipadatkan.
Ø    Tahap Kedua dari pekerjaan ini adalah Melaksanakan Pengecoran Lantai dengan perbandingan adukan bahan 1 Pc ; 3 Ps : 5 Kr dengan ketebalan maksimal 10 cm. Sebelum pengecoran dimulai, lantai harus diwaterpass dengan benar agar hasil pengecoran tidak bergelombang.
Ø    Tahap Ketiga dari pekerjaan ini adalah Pemasangan Keramik Lantai ukuran                   30cm x 30cm. Setelah pengecoran selesai dan sudah kering pekerjaan terakhir adalah pemasangan keramik lantai. Keramik lantai yang digunakan adalah keramik ukuran 30cm x 30cm dengan permukaan keramik rata. Seperti pengecoran, dalam pemasangan keramik juga harus diwaterpass agar keramik yang dipasang hasilnya tidak bergelombang.
Ø    Setelah semua selesai barulah dilakukan pembersihan areal pekerjaan
Pedoman Pelaksanaan
Ø    Sebelum melaksanakan pengecoran beton pada bahagian utama dari konstruksi, maka terutama akan memberitahukan Pemberi Tugas untuk mendapat persetujuan.
Ø    Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat-syarat, maka sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø    Akan segera melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas apabila ada perbedaan yang didapat dalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur,

Ø    Adukan Beton
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat pengecoran  dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan Pengawas, yaitu : Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan. Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton memenuhi Peraturan Beton Bertulang Indonesia                                       SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø    Perawatan Beton
Beton yang sudah dicor dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk paling sedikit    21 hari. Untuk keperluan tersebut ditetapkan cara sebagai berikut : Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup beton. Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat, segera dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya menurut perintah Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki.





III.    PEKERJAAN BETON BERTULANG
Pekerjaan Tiang Diatas Pondasai tapak
Setelah semua pondasi Tapak selesai dicor dan bekisting dapat dibuka, pekerjaan selanjutnya adalah pekerjaan Tiang Diatas Pondasi Tapak.. Setelah semua bekisting untuk masing-masing type Tiang Diatas Pondasi tapak selesai dipasang dan semua penampang Tiang Diatas Pondasi tapak selesai dirakit serta telah disetujui oleh Direksi maka pekerjaan pengecoran dapat dilaksanakan sesuai persyaratan sebagai berikut :
Mutu Beton
Ø    Mutu Beton yang dipakai untuk pekerjaan sloof ini adalah mutu beton K225.
Bahan
Ø    Semen
Semen yang digunakan adalah Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak dipakai sebagai bahan campuran. Penyimpanan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk akan dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.



Ø    Pasir beton
Pasir beton berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø    Kerikil
Kerikil yang digunakan yang bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03. Penimbunan kerikil dengan pasir dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin aduk beton dengan komposisi material yang tepat.
Ø    A i r
Air yang digunakan air tawar, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini akan dipakai air yg dapat diminum.
Ø    Besi Beton
Besi beton yang digunakan adalah besi beton ulir ukuran Ø18mm untuk tulangan dan Ø10mm untuk begel dengan mutu yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang ada.     Daya lekat baja tulangan dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya. Besi beton disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak disimpan diudara terbuka dalam jangka waktu panjang. Membengkok dan meluruskan tulangan dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan meminta persetujuan Konsultan Pengawas terlebih dahulu. Jika dipasaran tidak ada diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan ada persetujuan Konsultan Pengawas. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak akan kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas).
Ø    Cetakan (Bekisting)
Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian pekerjaan. Pembuatan cetakan dan acuan dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan didalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Pedoman Pelaksanaan
Ø    Sama seperti dalam pedoman pelakasanaan Pekerjaan Pondasi, sebelum melaksanakan pengecoran beton pada bahagian utama dari konstruksi, maka terutama akan memberitahukan Pemberi Tugas untuk mendapat persetujuan.
Ø    Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat-syarat, maka sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø    Akan segera melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas apabila ada perbedaan yang didapat dalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur,
Ø    Adukan Beton
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat pengecoran  dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan Pengawas, yaitu : Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan. Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton memenuhi Peraturan Beton Bertulang Indonesia                                       SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø    Perawatan Beton
Beton yang sudah dicor dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk paling sedikit    21 hari. Untuk keperluan tersebut ditetapkan cara sebagai berikut : Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup beton. Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat, segera dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya menurut perintah Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki.
Pekerjaan Sloof
Setelah semua Tiang Diatas Pondasi Tapak selesai dicor dan bekisting dapat dibuka, pekerjaan selanjutnya adalah pekerjaan Sloof. Sloof yang digunakan dalam pekerjaan ini terdiri dari 3 ukuran penampang sloof yaitu : Sloof 40/60, Sloof 25/40 dan Sloof 20/30. Setelah semua bekisting untuk masing-masing type sloof selesai dipasang dan semua penampang sloof selesai dirakit serta telah disetujui oleh Direksi maka pekerjaan pengecoran dapat dilaksanakan sesuai persyaratan sebagai berikut :
Mutu Beton
Ø    Mutu Beton yang dipakai untuk pekerjaan sloof ini adalah mutu beton K225.
Bahan
Ø    Semen
Semen yang digunakan adalah Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak dipakai sebagai bahan campuran. Penyimpanan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk akan dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
Ø    Pasir beton
Pasir beton berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø    Kerikil
Kerikil yang digunakan yang bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03. Penimbunan kerikil dengan pasir dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin aduk beton dengan komposisi material yang tepat.
Ø    A i r
Air yang digunakan air tawar, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini akan dipakai air yg dapat diminum.
Ø    Besi Beton
Besi beton yang digunakan adalah besi beton ulir ukuran Ø18mm untuk tulangan dan Ø10mm untuk begel dengan mutu yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang ada.     Daya lekat baja tulangan dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya. Besi beton disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak disimpan diudara terbuka dalam jangka waktu panjang. Membengkok dan meluruskan tulangan dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan meminta persetujuan Konsultan Pengawas terlebih dahulu. Jika dipasaran tidak ada diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan ada persetujuan Konsultan Pengawas. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak akan kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas).
Ø    Cetakan (Bekisting)
Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian pekerjaan. Pembuatan cetakan dan acuan dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan didalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Pekerjaan Kolom
Setelah semua Pondasi Tapak, Pondasi Relak, Pondasi batu Gunung, Tiang Diatas Pondasi Tapak dan Sloof selesai dicor dan bekisting dapat dibuka, pekerjaan beton bertulang terakhir dari paket ini adalah pekerjaan Kolom untuk tribun. Dimensi penampang untuk kolom ini adalah 50/80 dengan ketinggian 2,25m. Setelah semua bekisting terpasanga dengan baik dan telah diperiksa dan disetujui oleh Direksi maka pekerjaan pengecoran dapat dilaksanakan sesuai persyaratan sebagai berikut :
Mutu Beton
Ø    Mutu Beton yang dipakai untuk pekerjaan sloof ini adalah mutu beton K225.

Bahan
Ø    Semen
Semen yang digunakan adalah Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak dipakai sebagai bahan campuran. Penyimpanan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk akan dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.

Ø    Pasir beton
Pasir beton berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø    Kerikil
Kerikil yang digunakan yang bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03. Penimbunan kerikil dengan pasir dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin aduk beton dengan komposisi material yang tepat.
Ø    A i r
Air yang digunakan air tawar, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini akan dipakai air yg dapat diminum.
Ø    Besi Beton
Besi beton yang digunakan adalah besi beton ulir ukuran Ø18mm untuk tulangan dan Ø10mm untuk begel dengan mutu yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang ada.     Daya lekat baja tulangan dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya. Besi beton disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak disimpan diudara terbuka dalam jangka waktu panjang. Membengkok dan meluruskan tulangan dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan meminta persetujuan Konsultan Pengawas terlebih dahulu. Jika dipasaran tidak ada diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan ada persetujuan Konsultan Pengawas. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak akan kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas).
Ø    Cetakan (Bekisting)
Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian pekerjaan. Pembuatan cetakan dan acuan dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan didalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Pedoman Pelaksanaan
Ø    Sama seperti dalam pedoman pelakasanaan Pekerjaan Pondasi, sebelum melaksanakan pengecoran beton pada bahagian utama dari konstruksi, maka terutama akan memberitahukan Pemberi Tugas untuk mendapat persetujuan.
Ø    Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat-syarat, maka sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø    Akan segera melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas apabila ada perbedaan yang didapat dalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur,
Ø    Adukan Beton
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat pengecoran  dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan Pengawas, yaitu : Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan. Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton memenuhi Peraturan Beton Bertulang Indonesia                                       SK-SNI-T-15-1919-03.

Ø    Perawatan Beton
Beton yang sudah dicor dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk paling sedikit   21 hari. Untuk keperluan tersebut ditetapkan cara sebagai berikut : Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup beton. Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat, segera dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya menurut perintah Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki.
IV.    PEKERJAAN PLESTERAN
Pekerjaan plesteran yang dilakukan pada pekerjaan ini adalah plesteran untuk pondasi relak dengan perbandingan 1Pc : 2 Ps dengan ketebalan 15 mm. Adapun persyaratn pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
Bahan
Ø    Semen
Semen yang digunakan adalah Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak dipakai sebagai bahan campuran. Penyimpanan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk akan dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
Ø    Pasir beton
Pasir beton berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø    A i r
Air yang digunakan air tawar, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini akan dipakai air yg dapat diminum.

Pedoman Pelaksanaan
Ø    Sama seperti dalam pedoman pelakasanaan Pekerjaan Pondasi, sebelum melaksanakan pekerjaan haru memberitahukan Direksi untuk mendapat persetujuan.
Ø    Membersihkan semua kolom dari kotoran-kotan yang akan mengganggu pelaksanaan pekerjaan plesteran.
Ø    Sebelum melakukan plesteran kolom dibasahi dengan air dan air terserap dengan baik kedalam kolom.
Ø    Ketebalan Plesteran harus sesuai dengan spesifikasi teknis dan plesteran yang tidak sempurna dilaksanakan harus dibongkar dan diplester kembali.
Ø    Hasil plesteran harus dijaga kelembabannya selama kurang lebih 7            ( tujuh) hari dari masa pekerjaan plesteran


Pedoman Pelaksanaan Lantai

Ø    Dibawah lantai, sub lapisan kerikil yang padat (8-16 mm) dengan ketebalan minimal 5 cm harus dihamparkan guna menghindari lembab dibawah lantai.
Ø    Untuk pekerjaan pengecoran lantai cor dipakai campuran 1 Pc : 3 Ps : 6 Kr dengan ketebalan 15 cm dan Aci halus permukaannya.
Ø    Untuk beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 6 Kr dan diplester dengan campuran 1 Pc : 3 Ps.

Pelaksanaan  Kusen, Pintu dan Jendela

Ø    Seluruh kusen, pintu dan jendela terbuat dari kayu kelas I dan legal sertifikasi ukuran sesuai gambar dari jenis yang cukup baik, tua, bersih dan kering dengan maksimum kelembaban 18 % serta tidak terdapat cacat kayu yang akan mengurangi kekuatan serta keindahan konstruksi.
Ø    Pintu/jendela panel terbuat dari jenis kayu Meuranti yang cukup baik, sedangkan tebal pintu dan jendela t = 4 cm dengan bentuk dan ukuran sesuai gambar.
Ø    Listplank dibuat dari papan yang berkualitas baik dengan ukuran 2,5/25 cm.
Ø    Pintu dipasang dengan dua bua engsel secara baik, dimana tinggi antara lantai dengan pintu 1 cm.
Ø    Setiap daun pintu dipasang dua buah engsel, dengan bukaan dua arah kesebelah kiri dan kanan.
Ø    Kaca untuk jendela dipasang kaca polos tebal 5 mm. Pasangan kaca harus memperhatikan muai susut baik dari kusen, maupun bahan kaca tersebut.


Pelakanaan  Atap

Ø    Rangka atap (kuda-kuda, gording dan ikatan angin) seluruhnya menggunakan kayu kelas I yang bermutu baik dengna kelembaban maksimum 18 %, tidak ada celah atau rusak mengenai ukuran penempatan sesuai dengan gambar bestek/detail.
Ø    Seluruh atap yang dipasang pada bagnunan ini adalah atap genteng Rubitel.

Pelaksanaan Plafon

Ø    Untuk plafon digunakan plafond tripleks 3 mm pada seluruh ruangan. Ukuran dan ketinggian sesuai dengan gambar bestek/detail.
Ø    Rangka langit-langit induk memakai kayu kelas II ukuran 5/10 cm kualitas yang baik. Rangka pembagi menggunakan kayu kelas II ukuran 5/7 cm.
Ø    Sambungan antar tripleks dipasang lat kayu kelas II dengan ukuran 1/3 cm, termasuk pada bagian pinggir yang berhubungan dengan dinding.

Pekerjaan Instalasi Listrik

Ø    Pemasangan instalasi listrik disesuaikan dengan gambar detail atau petunjuk dari direksi/pengawas lapangan.
Ø    Kabel listrik dipasang dalam pipa plastic dari PVC guna menghindari kecelakaan.

Pelaksana  Sanitair

Ø    Untuk instalasi air kotor digunakan pipa PVC 3”, pemasangan harus rapi dan teratur sesuai gambar detail dengan kemiringan minimum 3%. Kontraktor harus menyediakan seluruh kebutuhan pelengkap/accessories. Pipa PVC harus disambung dengan baik untuk menghindari kebocoran.
Ø    Untuk instalasi air bersih digunakan pipa PVC ½” termasuk seluruh accessories disediakan oleh kontraktor, pemasangan harus rapi dan teratur sesuai gambar detail. Pipa PVC harus disambung dengan baik untuk menghindari kebocoran.
Ø    Untuk pemasangan kloset, kran air kondisi (tidak berkarat), floor drain dan sebagainya dipakai merk KIA atau yang sejenis disediakan oleh kontraktor. Warna sesuai pilihan pemilik.


Pelaksanaan Pengecetan

Ø    Pengecetan dilaksanakan pada semua bidang permukaan kayu yang tampak, dimana sebelum pengecetan permukaan kayu harus dibersihkan dan digosok dengan kertas amplas dan pada bagian yang berlobang harus didempul  atau diplamur, setelah kering lalu dogosok hingga rata kemudian di cat dasar sampai rata satu kali baru dengan cat berkualitas baik (sesuai pilihan pemilik) minimal 2 lapisan.
Ø    Seluruh permukaan bidang-bidang tembok/ beton yang tang tampak harus dilabur dengan cat tembok 2-3 lapisan, pengecetan dilakukan pada permukaan dinding yang kering dan telah diplaster. Lapisan plaster dihaluskan, dibersihkan dan diratakan. Sebelum permukaan tembok dicat, permukaan bidang tersebut harus didempul dengan plamur yang dicampur dengan semen putih 25 % berat. Setelah dempul kering kemudian diamplas barulah dicat dasar 1 (satu) kali hingga rata benar. Untuk warna cat akan ditentukan oleh pihak direksi dimana pengecetannya dilakukan sebanyak 2-3 kali.

Pelaksanaan Finishing dan Lain-Lain

Ø    Suatu keharusan bagi kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan semua standard yang disebutkan.
Ø    Setiap saat selama masa pekerjaan konstruksi, kontraktor senantiasa diwajibkan untuk menjaga kebersihan lahan dari sisa-sisa bahan bangunan dan kotoran bekas. Sebelum serah terima kepada Direksi/ Sponsor Proyek, kontraktor membersihkan seluruh bangunan dengan baik, dan siap digunakan.

Minggu, 12 Oktober 2014

soedirman

Jenderal Besar Raden Soedirman (EYD: Sudirman; lahir 24 Januari 1916 – meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun[a]) adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah. Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena ketaatannya pada Islam. Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah pada tahun 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat. Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut. Pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff. Sembari menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa. Pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18 Desember. Selama tiga tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati –yang turut disusun oleh Soedirman – dan kemudian Perjanjian Renville –yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia. Ia juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Ia kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.
Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto. Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
Kematian Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia. Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometer (62 mil) yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer. Soedirman ditampilkan dalam uang kertas rupiah keluaran 1968, dan namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan, universitas, museum, dan monumen. Pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.