100
Kalimat Indah Dalam Lirik Lagu Iwan Fals dkk ... lagu abadi...
--------------------------------------------------------
1.“Berhentilah
jangan salah gunakan, kehebatan ilmu pengetahuan untuk menghancurkan”
(Puing
– album Iwan Fals Sarjana
Muda 1981)
2.“Hei jangan ragu dan jangan malu, tunjukkan
pada dunia bahwa sebenarnya kita mampu”.
(Bangunlah Putra-Putri
Pertiwi – album Sarjana Muda 1981)
3."Cepatlah besar matahariku,
menangis yang keras janganlah ragu, hantamlah sombongnya dunia buah
hatiku, doa kami dinadimu”.
(Galang Rambu Anarki – album Iwan Fals Opini
1982)
4.“Jalan masih teramat jauh, mustahil berlabuh bila dayung
tak terkayuh”.
(Maaf Cintaku - album Iwan
Fals Sugali
1984)
5.“Jangan kau paksakan untuk tetap terus berlari, bila
luka di kaki belum terobati”.
(Berkacalah Jakarta - album Iwan Fals Sugali 1984)
6.“Riak
gelombang suatu rintangan, ingat itu pasti kan datang, karang tajam
sepintas seram, usah gentar bersatu terjang”.
(Cik - album Iwan Fals Sore
Tugu Pancoran 1985)
7.“Aku tak sanggup berjanji, hanya mampu
katakan aku cinta kau saat ini, entah esok hari, entah lusa nanti,
entah”.
(Entah - album Iwan Fals Ethiopia
1986)
8.“Mengapa bunga harus layu?, setelah kumbang dapatkan
madu, mengapa kumbang harus ingkar?, setelah bunga tak lagi mekar”.
(Bunga-Bunga
Kumbang-Kumbang - album Iwan Fals Ethiopia 1986)
9.“Ternyata
banyak hal yang tak selesai hanya dengan amarah”.
(Ya Ya Ya Oh Ya -
album Iwan Fals Aku
Sayang Kamu 1986)
10.“Dalam hari selalu ada kemungkinan,
dalam hari pasti ada kesempatan”.
(Selamat Tinggal Malam - album Iwan Fals Aku Sayang Kamu 1986)
--------------------------------------------------------
11.“Kota
adalah hutan belantara akal kuat dan berakar, menjurai didepan mata
siap menjerat leher kita”.
(Kota - album Iwan Fals Aku Sayang Kamu
1986)
12.“Jangan kita berpangku tangan, teruskan hasil perjuangan
dengan jalan apa saja yang pasti kita temukan”.
(Lancar - album Iwan Fals Lancar
1987)
13.“Jangan ragu jangan takut karang menghadang, bicaralah
yang lantang jangan hanya diam”.
(Surat Buat Wakil Rakyat - album Iwan Fals Wakil
Rakyat 1987)
14.“Kau anak harapanku yang lahir di zaman
gersang, segala sesuatu ada harga karena uang”.
(Nak - album Iwan Fals 1910
1988)
15.“Sampai kapan mimpi mimpi itu kita beli?, sampai nanti
sampai habis terjual harga diri”.
(Mimpi Yang Terbeli - album Iwan Fals 1910 1988)
16.“Seperti udara kasih yang engkau
berikan, tak mampu ku membalas, Ibu”.
(Ibu - album Iwan Fals 1910 1988)
17.“Memang usia kita muda namun cinta
soal hati, biar mereka bicara telinga kita terkunci”.
(Buku Ini Aku
Pinjam - album Iwan
Fals 1910 1988)
18.“Dendam ada dimana
mana di jantungku, di jantungmu, di jantung hari-hari”.
(Ada Lagi
Yang Mati - album Iwan
Fals 1910 1988)
19.“Hangatkan tubuh
di cerah pagi pada matahari, keringkan hati yang penuh tangis walau
hanya sesaat”.
(Perempuan Malam - album Iwan Fals Mata
Dewa 1989)
20.“Kucoba berkaca pada jejak yang ada, ternyata
aku sudah tertinggal, bahkan jauh tertinggal”.
(Nona - album Iwan Fals Mata Dewa 1989)
--------------------------------------------------------
21.“Oh
ya! ya nasib, nasibmu jelas bukan nasibku, oh ya! ya takdir, takdirmu
jelas bukan takdirku”.
(Oh Ya! - album Iwan Fals Swami
1989)
22.“Wahai kawan hei kawan, bangunlah dari tidurmu,
masih ada waktu untuk kita berbuat, luka di bumi ini milik bersama,
buanglah mimpi-mimpi”.
(Eseks eseks udug udug (Nyanyian Ujung Gang)
- album Iwan
Fals Swami 1989)
23.“Api revolusi,
haruskah padam digantikan figur yang tak pasti?”.
(Condet -
album Swami 1989)
24.“Kalau cinta sudah di buang, jangan harap
keadilan akan datang”.
(Bongkar - album Iwan Fals Swami 1989)
25.“Kesedihan
hanya tontonan, bagi mereka yang diperkuda jabatan”.
(Bongkar -
album Iwan Fals
Swami 1989)
26.“Orang tua pandanglah kami sebagai manusia, kami
bertanya tolong kau jawab dengan cinta”.
(Bongkar - album Iwan Fals Swami 1989)
27.“Satu
luka perasaan, maki puji dan hinaan, tidak merubah sang jagoan menjadi
makhluk picisan”.
(Rajawali - album Kantata
Takwa 1990)
28.“Kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah
bumi, keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan
kata kata”.
(Paman Doblang - album Kantata Takwa 1990)
29.“Mereka
yang pernah kalah, belum tentu menyerah”.
(Orang-Orang Kalah -
album Kantata Takwa 1990)
30.“Aku rasa hidup tanpa jiwa, orang
yang miskin ataupun kaya sama ganasnya terhadap harta”.
(Nocturno -
album Kantata Takwa 1990)
--------------------------------------------------------
31.“Orang
orang harus dibangunkan, kenyataan harus dikabarkan, aku bernyanyi
menjadi saksi”.
(Kesaksian - album Kantata Takwa 1990)
32.“Ingatlah
Allah yang menciptakan, Allah tempatku berpegang dan bertawakal, Allah
maha tinggi dan maha esa, Allah maha lembut”.
(Kantata Takwa -
album Kantata Takwa 1990)
33.“Kebimbangan lahirkan gelisah, jiwa
gelisah bagai halilintar”.
(Gelisah - album Kantata Takwa
1990)
34.“Bagaimanapun aku harus kembali, walau berat aku rasa
kau mengerti”.
(Air Mata - album Kantata Takwa 1990)
35.“Alam
semesta menerima perlakuan sia sia, diracun jalan napasnya diperkosa
kesuburannya”.
(Untuk Bram - album Iwan Fals Cikal
1991)
36.“Duhai langit, duhai bumi, duhai alam raya, kuserahkan
ragaku padamu, duhai ada, duhai tiada, duhai cinta, ku percaya”.
(Pulang
Kerja - album Iwan Fals Cikal 1991)
37.“Dimana
kehidupan disitulah jawaban”.
(Alam Malam - album Iwan Fals Cikal 1991)
38.“Ada dan tak ada nyatanya ada”.
(Ada
- album Iwan Fals Cikal 1991)
39.“Aku sering ditikam cinta, pernah
dilemparkan badai, tapi aku tetap berdiri”.
(Nyanyian Jiwa - album Swami
Il 1991)
40.“Aku mau jujur jujur saja, bicara apa adanya,
aku tak mau mengingkari hati nurani”.
(Hio - album Swami Il 1991)
--------------------------------------------------------
41.“Bibirku
bergerak tetap nyanyikan cinta walau aku tahu tak terdengar, jariku
menari tetap tak akan berhenti sampai wajah tak murung lagi”.
(Di
Mata Air Tidak Ada Air Mata - album Iwan Fals Belum
Ada Judul 1992)
42.“Mengapa besar selalu menang?, bebas
berbuat sewenang wenang, mengapa kecil selalu tersingkir?, harus
mengalah dan menyingkir”.
(Besar Dan Kecil - album Iwan Fals Belum Ada Judul 1992)
43.“Angin pagi dan nyanyian
sekelompok anak muda mengusik ingatanku, aku ingat mimpiku, aku ingat
harapan yang semakin hari semakin panjang tak berujung”.
(Aku Disini -
album Iwan Fals Belum Ada Judul 1992)
44.“Jalani hidup, tenang
tenang tenanglah seperti karang”.
(Lagu Satu - album Iwan Fals Hijau
1992)
45.“Sebentar lagi kita akan menjual air mata kita sendiri,
karena air mata kita adalah air kehidupan”.
(Lagu Dua - album Iwan Fals Hijau 1992)
46.“Kita harus mulai bekerja,
persoalan begitu menantang, satu niat satulah darah kita, kamu adalah
kamu aku adalah aku”.
(Lagu Tiga - album Iwan Fals Hijau 1992)
47.“Kenapa
kebenaran tak lagi dicari?, sudah tak pentingkah bagi manusia?”
(Lagu
Empat- album Iwan
Fals Hijau 1992)
48.“Kenapa banyak
orang ingin menang?, apakah itu hasil akhir kehidupan?”.
(Lagu Empat-
album Iwan Fals Hijau 1992)
49.“Anjingku menggonggong protes pada
situasi, hatiku melolong protes pada kamu”.
(Lagu Lima - album Iwan Fals Hijau 1992)
50.“Biar keadilan sulit terpenuhi,
biar kedamaian sulit terpenuhi, kami berdiri menjaga dirimu”.
(Karena
Kau Bunda Kami - album Dalbo
1993)
--------------------------------------------------------
51.“Apa
jadinya jika mulut dilarang bicara?, apa jadinya jika mata dilarang
melihat?, apa jadinya jika telinga dilarang mendengar?, jadilah robot
tanpa nyawa yang hanya mengabdi pada perintah”.
(Hura Hura Huru Hara -
album Dalbo 1993)
52.“Tertawa itu sehat, menipu itu jahat”.
(Hua
Ha Ha - album Dalbo 1993)
53.“Nyanyian duka nyanyian suka,
tarian duka tarian suka, apakah ada bedanya?”
(Terminal
– single 1994)
54.“Waktu terus bergulir, kita akan pergi dan
ditinggal pergi”.
(Satu Satu – album Iwan Fals Orang
Gila 1994)
55.“Pelan-pelan sayang kalau mulai bosan, jangan
marah-marah nanti cepat mati, santai sajalah”.
(Menunggu Ditimbang
Malah Muntah – album Iwan Fals Orang Gila 1994)
56.“Mau
insaf susah, desa sudah menjadi kota”.
(Menunggu Ditimbang Malah
Muntah – album Iwan
Fals Orang Gila 1994)
57.“Pertemuan
dan perpisahan, dimana awal akhirnya?, dimana bedanya?”.
(Doa Dalam
Sunyi – album Iwan
Fals Orang Gila 1994)
58.“Jika kata
tak lagi bermakna, lebih baik diam saja”.
(Awang Awang – album Iwan Fals Orang Gila 1994)
59.“Bagaimana bisa mengerti?,
sedang kita belum berpikir, bagaimana bisa dianggap diam?, sedang kita
belum bicara”.
(Awang Awang – album Iwan Fals Orang Gila 1994)
60.“Aku
bukan seperti nyamuk yang menghisap darahmu, aku manusia yang berbuat
sesuai aturan dan keinginan”.
(Nasib Nyamuk – album Iwan Fals & Sawung Jabo Anak
Wayang 1994)
--------------------------------------------------------
61.“Oh
susahnya hidup, urusan hati belum selesai, rumah tetangga digusur
raksasa, pengusaha zaman merdeka”.
(Oh – single
1995)
62.“Aku disampingmu begitu pasti, yang tak kumengerti
masih saja terasa sepi”.
(Mata
Hati – album Iwan
Fals Mata Hati 1995)
63.“Sang jari
menari jangan berhenti, kupasrahkan diriku digenggaman-Mu”.
(Lagu
Pemanjat – album Iwan
Fals Lagu
Pemanjat 1996)
64.“Lepaslah belenggu ragu yang membelit
hati, melangkah dengan pasti menuju gerbang baru”.
(Songsonglah –
album Kantata
Samsara 1998)
65.“Berani konsekuen pertanda jantan”.
(Nyanyian
Preman – album Kantata Samsara 1998)
66.“Dengarlah suara bening
dalam hatimu, biarlah nuranimu berbicara”.
(Langgam Lawu – album
Kantata Samsara 1998)
67.“Matinya seorang penyaksi bukan matinya
kesaksian”.
(Lagu Buat Penyaksi – album Kantata Samsara 1998)
68.“Bertahan
hidup harus bisa bersikap lembut, walau hati panas bahkan terbakar
sekalipun”.
(Di Ujung Abad - album Iwan Fals Suara
Hati 2002)
69.“Jangan goyah percayalah teman perang itu
melawan diri sendiri, selamat datang kemerdekaan kalau kita mampu
menahan diri”.
(Dendam Damai - album Iwan Fals Suara Hati 2002)
70.“Berdoalah
sambil berusaha, agar hidup jadi tak sia-sia”.
(Doa - album Iwan Fals Suara Hati 2002)
--------------------------------------------------------
71.“Harta
dunia jadi penggoda, membuat miskin jiwa kita”.
(Seperti Matahari -
album Iwan Fals Suara Hati 2002)
72.“Memberi itu terangkan hati,
seperti matahari yang menyinari bumi”.
(Seperti Matahari - album Iwan Fals Suara Hati 2002)
73.“Jangan heran korupsi menjadi
jadi, habis itulah yang diajarkan”.
(Politik Uang – album Iwan Fals Manusia
Setengah Dewa 2004)
74.“Gelombang cinta gelombang kesadaran
merobek langit yang mendung, menyongsong hari esok yang lebih baik”.
(Para
Tentara – album Iwan
Fals Manusia Setengah Dewa 2004)
75.“Terhadap
yang benar saja sewenang wenang, apalagi yang salah”.
(Mungkin –
album Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)
76.“Begitu mudahnya
nyawa melayang, padahal tanpa diundang pun kematian pasti datang”.
(Matahari
Bulan Dan Bintang – album Iwan Fals Manusia Setengah Dewa
2004)
77.“Dunia kita satu, kenapa kita tidak bersatu?”.
(Matahari
Bulan Dan Bintang – album Iwan Fals Manusia Setengah Dewa
2004)
78.“Urus saja moralmu urus saja akhlakmu, peraturan yang
sehat yang kami mau”.
(Manusia Setengah Dewa – album Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)
79.“Di lumbung kita
menabung, datang paceklik kita tak bingung”.
(Desa – album Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)
80.“Tutup lubang gali
lubang falsafah hidup jaman sekarang”.
(Dan Orde Paling Baru – album Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)
--------------------------------------------------------
81.“Buktikan
buktikan!, kalau hanya omong burung beo pun bisa”.
(Buktikan – album Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)
82.“Dunia politik
dunia bintang, dunia hura hura para binatang”.
(Asik Nggak Asik –
album Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)
83.“Dewa-dewa
kerjanya berpesta, sambil nyogok bangsa manusia”.
(17 Juli 1996 –
album Iwan Fals Manusia Setengah Dewa 2004)
84.“Tanam-tanam pohon
kehidupan, siram siram sirami dengan sayang, tanam tanam tanam masa
depan, benalu-benalu kita bersihkan”.
(Tanam-Tanam
Siram-Siram – single 2006 - album Iwan Fals Keseimbangan 2010)
85.“Ada
apa gerangan mengapa mesti tergesa gesa, tak bisakah tenang menikmati
bulan penuh dan bintang”.
(Haruskah
Pergi – 2006 - Iwan Fals & Indra Lesmana)
86.“Persoalan
hidup kalau diikuti tak ada habisnya, soal lama pergi soal baru datang”.
(Selancar
– 2006 - Iwan Fals & Indra Lesmana)
87.“Jaman berubah perilaku tak berubah, orang
berubah tingkah laku tak berubah”.
(Rubah – album Iwan Fals 50:50
2007)
88.“Satu hilang seribu terbilang, patah tumbuh hilang
berganti”.
(Pulanglah – album Iwan Fals 50:50 2007)
89.“Hidup ini indah berdua semua
mudah, yakinlah melangkah jangan lagi gelisah”.
(KaSaCiMa – album Iwan Fals 50:50 2007)
90.“Tak
ada yang lepas dari kematian, tak ada yang bisa sembunyi dari kematian,
pasti”.
(Ikan-Ikan – album Iwan Fals 50:50 2007)
--------------------------------------------------------
91.“Ada
kamu yang mengatur ini semua tapi rasanya percuma, ada juga yang
janjikan indahnya surga tapi neraka terasa”.
(Cemburu – album Iwan Fals 50:50 2007)
92.“Hukum
alam berjalan menggilas ludah, hukum Tuhan katakan “Sabar!”.
(Kemarau
– uncassette)
93.“Yang pasti hidup ini keras, tabahlah
terimalah”.
(Joned –
uncassette)
94.“Oh negeriku sayang bangkit kembali, jangan
berkecil hati bangkit kembali”.
(Harapan
Tak Boleh Mati – uncassette)
95.“Oh yang ditinggalkan
tabahlah sayang, ini rahmat dari Tuhan kita juga pasti pulang”.
(Harapan
Tak Boleh Mati – uncassette)
96.“Tuhan ampunilah kami, ampuni
dosa-dosa kami, ampuni kesombongan kami, ampuni bangsa kami, terimalah
disisi-Mu korban bencana ini”.
(Saat
Minggu Masih Pagi – uncassette)
97.“Nyatakan saja apa yang
terasa walau pahit biasanya, jangan disimpan jangan dipendam, merdekakan
jiwa”.
(Nyatakan
Saja – uncassette)
98.“Usiamu tak lagi muda untuk terus
terusan terjajah, jangan lagi membungkuk bungkuk agar dunia mengakuimu”.
(Merdeka
– uncassette)
99.“Kau paksa kami untuk menahan luka ini,
sedangkan kau sendiri telah lupa”.
(Luka
Lama – uncassette)
100. “Oh Tuhan tolonglah, lindungi kami
dari kekhilafan, oh ya Tuhan tolonglah, Ramadhan mengetuk hati orang
orang yang gila perang”.
(Selamat
Tinggal Ramadhan – uncassette)
Kamis, 13 Desember 2012
Sabtu, 08 Desember 2012
pemanjat
Antara hidup dan matiTak kan pernah aku kembaliNiatku sudah terpatriAntara hidup dan mati
Darah keringat di batuTerikat tali kehidupanRasa takut dan ragu-raguMengundang dewa kematian
Berada di ketinggianMenjawab segala tekananAngin kencang sebagai godaanKita harus mampu bertahan
Lagu pemanjatBukan lagu orang sekaratLagu pemanjatLagu orang yang kuat
Lagu pemanjatBukan hanya sekedar kuatLagu pemanjatLagu jiwa yang liat
Dinding dingin tebing terjalTerus melambai lambaikan tangannyaMemanggil aku untuk tetap memanjatiKehidupan yang penuh dengan misteri
Sang jari menariJangan berhentiKupasrahkan dirikuDigenggamanMu
Sang nyali bernyanyiDi ujung kakiKuikhlaskan hidupkuYa kuikhlaskan
Darah keringat di batuTerikat tali kehidupanRasa takut dan ragu-raguMengundang dewa kematian
Berada di ketinggianMenjawab segala tekananAngin kencang sebagai godaanKita harus mampu bertahan
Lagu pemanjatBukan lagu orang sekaratLagu pemanjatLagu orang yang kuat
Lagu pemanjatBukan hanya sekedar kuatLagu pemanjatLagu jiwa yang liat
Dinding dingin tebing terjalTerus melambai lambaikan tangannyaMemanggil aku untuk tetap memanjatiKehidupan yang penuh dengan misteri
Sang jari menariJangan berhentiKupasrahkan dirikuDigenggamanMu
Sang nyali bernyanyiDi ujung kakiKuikhlaskan hidupkuYa kuikhlaskan
Rabu, 28 November 2012
satu satu
Satu satu daun berguguran
Jatuh ke bumi dimakan usia
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda
Satu satu tunas muda bersemi
Mengisi hidup gantikan yang tua
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda
Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun daun berguguran
Tunas tunas muda bersemi
Satu satu daun jatuh kebumi
Satu satu tunas muda bersemi
Tak guna menangis tak guna tertawa
Redalah reda
Waktu terus bergulir
Kita akan pergi dan ditinggal pergi
Redalah tangis redalah tawa
Tunas tunas muda bersemi
Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun daun berguguran
Tunas tunas muda bersemi
Jatuh ke bumi dimakan usia
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda
Satu satu tunas muda bersemi
Mengisi hidup gantikan yang tua
Tak terdengar tangis tak terdengar tawa
Redalah reda
Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun daun berguguran
Tunas tunas muda bersemi
Satu satu daun jatuh kebumi
Satu satu tunas muda bersemi
Tak guna menangis tak guna tertawa
Redalah reda
Waktu terus bergulir
Kita akan pergi dan ditinggal pergi
Redalah tangis redalah tawa
Tunas tunas muda bersemi
Waktu terus bergulir
Semuanya mesti terjadi
Daun daun berguguran
Tunas tunas muda bersemi
Rabu, 07 November 2012
jangan bicara
Jangan bicara soal idealisme
Mari bicara berapa banyak uang di kantong kita
Atau berapa dahsyatnya
Ancaman yang membuat kita terpaksa onani
Jangan bicara soal nasionalisme
Mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri
Atau tentang kita yang buat
Bisul tumbuh subur
Di ujung hidung yang memang tak mancung
Jangan perdebatkan soal keadilan
Sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan
Jangan cerita soal kemakmuran
Sebab kemakmuran hanya untuk anjing si tuan polan
Lihat di sana... Di urip meratap
Di teras marmer direktur mutat
Lihat di sana... Si icih sedih
Di ranjang empuk waktu majikannya menindih
Lihat di sana.... Parade penganggur
Yang tampak murung di tepi kubur
Lihat di sana....... Antrian pencuri
Yang timbul sebab nasinya dicuri
Jangan bicara soal runtuhnya moral
Mari bicara tentang harga diri yang tak ada arti
Atau tentang tanggung jawab
Yang kini dianggap sepi
Mari bicara berapa banyak uang di kantong kita
Atau berapa dahsyatnya
Ancaman yang membuat kita terpaksa onani
Jangan bicara soal nasionalisme
Mari bicara tentang kita yang lupa warna bendera sendiri
Atau tentang kita yang buat
Bisul tumbuh subur
Di ujung hidung yang memang tak mancung
Jangan perdebatkan soal keadilan
Sebab keadilan bukan untuk diperdebatkan
Jangan cerita soal kemakmuran
Sebab kemakmuran hanya untuk anjing si tuan polan
Lihat di sana... Di urip meratap
Di teras marmer direktur mutat
Lihat di sana... Si icih sedih
Di ranjang empuk waktu majikannya menindih
Lihat di sana.... Parade penganggur
Yang tampak murung di tepi kubur
Lihat di sana....... Antrian pencuri
Yang timbul sebab nasinya dicuri
Jangan bicara soal runtuhnya moral
Mari bicara tentang harga diri yang tak ada arti
Atau tentang tanggung jawab
Yang kini dianggap sepi
Senin, 05 November 2012
Sabtu, 27 Oktober 2012
ijoooo
Hutanku,
Rusak !
Langitku,
Bocor !
Udara yang aku hisap,
Tercemar !
Makanan yang aku makan,
Racun !
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Hijau Dunia
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia
Hijau
Rusak !
Langitku,
Bocor !
Udara yang aku hisap,
Tercemar !
Makanan yang aku makan,
Racun !
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Hijau Dunia
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia
Hijau Hijauku Hijau
Hijau Dunia
Hijau
tampomas
Api menjalar dari sebuah kapal
Jerit ketakutan
Keras melebihi gemuruh gelombang
Yang datang
Sejuta lumba lumba mengawasi cemas
Risau camar membawa kabar
Tampomas terbakar
Risau camar memberi salam
Tampomas Dua tenggelam
Asap kematian
Dan bau daging terbakar
Terus menggelepar dalam ingatan
Hatiku rasa
Bukan takdir tuhan
Karena aku yakin itu tak mungkin
Korbankan ratusan jiwa
Mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa
Demi peringatan manusia
Korbankan ratusan jiwa
Mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa
Demi peringatan manusia
Bukan bukan itu
Aku rasa kita pun tahu
Petaka terjadi
Karena salah kita sendiri
Datangnya pertolongan
Yang sangat diharapkan
Bagai rindukan bulan
Lamban engkau pahlawan
Celoteh sang camar
Bermacam alasan
Tak mau kami dengar
Di pelupuk mata hanya terlihat
Jilat api dan jerit penumpang kapal
Tampomas sebuah kapal bekas
Tampomas terbakar di laut lepas
Tampomas tuh penumpang terjun bebas
Tampomas beli lewat jalur culas
Tampomas hati siapa yang tak panas
Tampomas kasus ini wajib tuntas
Tampomas koran koran seperti amblas
Tampomas pahlawanmu kurang tangkas
Tampomas cukup tamat bilang naas
Jerit ketakutan
Keras melebihi gemuruh gelombang
Yang datang
Sejuta lumba lumba mengawasi cemas
Risau camar membawa kabar
Tampomas terbakar
Risau camar memberi salam
Tampomas Dua tenggelam
Asap kematian
Dan bau daging terbakar
Terus menggelepar dalam ingatan
Hatiku rasa
Bukan takdir tuhan
Karena aku yakin itu tak mungkin
Korbankan ratusan jiwa
Mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa
Demi peringatan manusia
Korbankan ratusan jiwa
Mereka yang belum tentu berdosa
Korbankan ratusan jiwa
Demi peringatan manusia
Bukan bukan itu
Aku rasa kita pun tahu
Petaka terjadi
Karena salah kita sendiri
Datangnya pertolongan
Yang sangat diharapkan
Bagai rindukan bulan
Lamban engkau pahlawan
Celoteh sang camar
Bermacam alasan
Tak mau kami dengar
Di pelupuk mata hanya terlihat
Jilat api dan jerit penumpang kapal
Tampomas sebuah kapal bekas
Tampomas terbakar di laut lepas
Tampomas tuh penumpang terjun bebas
Tampomas beli lewat jalur culas
Tampomas hati siapa yang tak panas
Tampomas kasus ini wajib tuntas
Tampomas koran koran seperti amblas
Tampomas pahlawanmu kurang tangkas
Tampomas cukup tamat bilang naas
angan ingin
Sambil tersenyum dan tanpa beban
Sepanjang jalan menarik perhatian
Rambutnya panjang
Rampingnya pinggang
Celana blue jeans mengukir tubuhnya sempurna
Tua muda berangan melihatnya
Seperti aku ingin bersamanya
Tapi sayangnya
Angan dan ingin
Seperti angin
Tiada habisnya
Tiada hentinya
Melayang
Tiada habisnya
Tiada hentinya
Menggoyang
Tiada habisnya
Tiada hentinya
Menantang
Tiada habisnya
Tiada hentinya
Sehingga hujan turun mengecewakan
Sepanjang jalan menarik perhatian
Rambutnya panjang
Rampingnya pinggang
Celana blue jeans mengukir tubuhnya sempurna
Tua muda berangan melihatnya
Seperti aku ingin bersamanya
Tapi sayangnya
Angan dan ingin
Seperti angin
Tiada habisnya
Tiada hentinya
Melayang
Tiada habisnya
Tiada hentinya
Menggoyang
Tiada habisnya
Tiada hentinya
Menantang
Tiada habisnya
Tiada hentinya
Sehingga hujan turun mengecewakan
Kamis, 25 Oktober 2012
D K S H
Hangat mentari pagi ini
Antar ku pulang dari bermimpi
Ramah tersenyum matahari
Inginkan aku tuk bernyanyi
Indah pagi ini
Nada sumbang enyahlah kau
Biarkan kami
Perlahan kau bangunkan aku
Antarkan segelas kopi ( kopi susu )
Dengar canda adik adikmu
Inginkan aku segera bersatu
Indah pagi ini
Nada sumbang enyahlah kau
Biarkan kami
Semoga akan tetap abadi
Pagi ini
Pagi esok
Esok hari
Hari nanti
Semoga tak kan pernah berhenti
Canda hari ( pagi )
Canda pagi ( hari )
Damai kami Sepanjang hari
Antar ku pulang dari bermimpi
Ramah tersenyum matahari
Inginkan aku tuk bernyanyi
Indah pagi ini
Nada sumbang enyahlah kau
Biarkan kami
Perlahan kau bangunkan aku
Antarkan segelas kopi ( kopi susu )
Dengar canda adik adikmu
Inginkan aku segera bersatu
Indah pagi ini
Nada sumbang enyahlah kau
Biarkan kami
Semoga akan tetap abadi
Pagi ini
Pagi esok
Esok hari
Hari nanti
Semoga tak kan pernah berhenti
Canda hari ( pagi )
Canda pagi ( hari )
Damai kami Sepanjang hari
Senin, 22 Oktober 2012
Selasa, 16 Oktober 2012
jangan bungkam suara kami
Maka kami menolak untuk diam..
Kami menolak sejarah yang diputarbalikkan
Kami menolak pembangunan jadi ajang pemerasan, kami menolak penindasan!
Kalian telah kehilangan akal sehat, dan tak lagi peduli pada kesejahteraan rakyat
Kami menolak untuk diam
Kami menolak pikiran yang dikerdilkan
Kami menolak pendidikan yang dimesinkan, kami menolak pembodohan!
Karena kalian telah jual negara dengan hutang,
Sementara kami harus berebut pupuk di gudang,
Maka kami menolak untuk diam.
Kami menolak ladang-ladang petani ditaburi racun kimia,
Kami menolak alam dirusak demi kepentingan modal orang-orang kaya,
kami menolak menghancurkan Indonesia!
Karena kalian semena-mena mencabut subsidi,
Sementara kami mati di lumbung padi,
Maka kami menolak untuk diam.
Kami menolak segilintir bajingan berdasi menipu hasil panen petani,
Kami menolak pabrik-pabrik meracuni sungai dengan alasan efisiensi
Kami menolak keserakahan yang dilegitimasi!
kalian menganjurkan hidup sederhana, sementara kalian makin rakus makan uang negara,
Maka kami menolak untuk diam.
Kami menolak wakil-wakil rakyat yang kehilangan nuraninya,
Kami menolak politik dusta,
Kami menolak disuruh menjadi gila!
Kalian menganjurkan rekonsiliasi, dan menuduh kami dalang provokasi
Maka kami menolak untuk diam.
Kami menolak tentara yang menembaki rakyat jelata
Kami menolak hakim yang menjual hukum negara
Kami menolak bajingan birokrasi
Kami menolak pemeras yang berkedok polisi
Kami menolak kebencian dijadikan komoditi
Kami menolak semua ketidakadilan di negeri ini!
Dengarkan suara kami, wahai kaum yang berkuasa: Mulai detik ini, kami menolak penjajahan bangsa sendiri!
Kami menolak sejarah yang diputarbalikkan
Kami menolak pembangunan jadi ajang pemerasan, kami menolak penindasan!
Kalian telah kehilangan akal sehat, dan tak lagi peduli pada kesejahteraan rakyat
Kami menolak untuk diam
Kami menolak pikiran yang dikerdilkan
Kami menolak pendidikan yang dimesinkan, kami menolak pembodohan!
Karena kalian telah jual negara dengan hutang,
Sementara kami harus berebut pupuk di gudang,
Maka kami menolak untuk diam.
Kami menolak ladang-ladang petani ditaburi racun kimia,
Kami menolak alam dirusak demi kepentingan modal orang-orang kaya,
kami menolak menghancurkan Indonesia!
Karena kalian semena-mena mencabut subsidi,
Sementara kami mati di lumbung padi,
Maka kami menolak untuk diam.
Kami menolak segilintir bajingan berdasi menipu hasil panen petani,
Kami menolak pabrik-pabrik meracuni sungai dengan alasan efisiensi
Kami menolak keserakahan yang dilegitimasi!
kalian menganjurkan hidup sederhana, sementara kalian makin rakus makan uang negara,
Maka kami menolak untuk diam.
Kami menolak wakil-wakil rakyat yang kehilangan nuraninya,
Kami menolak politik dusta,
Kami menolak disuruh menjadi gila!
Kalian menganjurkan rekonsiliasi, dan menuduh kami dalang provokasi
Maka kami menolak untuk diam.
Kami menolak tentara yang menembaki rakyat jelata
Kami menolak hakim yang menjual hukum negara
Kami menolak bajingan birokrasi
Kami menolak pemeras yang berkedok polisi
Kami menolak kebencian dijadikan komoditi
Kami menolak semua ketidakadilan di negeri ini!
Dengarkan suara kami, wahai kaum yang berkuasa: Mulai detik ini, kami menolak penjajahan bangsa sendiri!
belajar hidup
Banyak hal yang masih belum bisa aku pahami hingga saat ini. Apalagi kenyataan hidup yang kadang sangat membuat aku merasa perih akan segala mimpi. Berjuta pengharapan dengan doa yang tiada henti membuat aku terus berlari mangejar matahari. Hati terus berkelana menari-nari dari satu gunung menuju gunung yang lain yang begitu terjal walaupun harus tertatih-tatih demi menggapain mimpi tak bertepi.
Begitu besar pengharapan akan diri-Nya yang selalu bermuara dalam hati, menepis segala keegoan yang ingin membatu dalam akar jiwa yang serasa mati. Studi hati dari segala kehidupan telah menapaki diri dan kian mengakar dalam jiwa, yang ingin mewujudkan semua mimpi dan menaklukkan segala perih yang terus berlomba merasuki persendian tubuh dan mengalir dalam aliran darah tanpa bisa berhenti.
Studi hati membuat diri menjadi kuat akan segala rintangan yang terus berusaha mendera tanpa ingin berhenti. Walaupun sesak dan terseok dalam langkah, dunia ini terus berputar tanpa pernah berhenti kecuali Dia telah berkehendak. Seuntai doa yang terus menghiasi bibir yang terus berkelana semakin membuat jiwa merasa semakin tegar atas segala ujian dan cobaan yang selalu menghadang.
Terima kasih Tuhan atas studi hati yang terus menari-nari dalam setiap detik kehidupan. Membuat segalanya menjadi nyata dan terbuka setiap jiwa yang serasa mati. Engkaulah yang memberi segala tanpa seorangpun bisa menolak. Karena aku tahu setiap yang Kau berikan adalah hal yang paling indah dan terbaik dalam setiap hembusan nafas kehidupan.
Begitu besar pengharapan akan diri-Nya yang selalu bermuara dalam hati, menepis segala keegoan yang ingin membatu dalam akar jiwa yang serasa mati. Studi hati dari segala kehidupan telah menapaki diri dan kian mengakar dalam jiwa, yang ingin mewujudkan semua mimpi dan menaklukkan segala perih yang terus berlomba merasuki persendian tubuh dan mengalir dalam aliran darah tanpa bisa berhenti.
Studi hati membuat diri menjadi kuat akan segala rintangan yang terus berusaha mendera tanpa ingin berhenti. Walaupun sesak dan terseok dalam langkah, dunia ini terus berputar tanpa pernah berhenti kecuali Dia telah berkehendak. Seuntai doa yang terus menghiasi bibir yang terus berkelana semakin membuat jiwa merasa semakin tegar atas segala ujian dan cobaan yang selalu menghadang.
Terima kasih Tuhan atas studi hati yang terus menari-nari dalam setiap detik kehidupan. Membuat segalanya menjadi nyata dan terbuka setiap jiwa yang serasa mati. Engkaulah yang memberi segala tanpa seorangpun bisa menolak. Karena aku tahu setiap yang Kau berikan adalah hal yang paling indah dan terbaik dalam setiap hembusan nafas kehidupan.
Kamis, 11 Oktober 2012
aku rindu kantata..
AKHIR dekade 1980-an lahir sebuah kelompok musik bernama Kantata
Takwa. Grup ini merupakan kumpulan tokoh-tokoh yang memiliki kharisma di
bidangnya masing-masing. Mereka adalah Iwan Fals dan Sawung Jabo,
pengarang lagu dan penyanyi berbobot dengan jutaan penggemar; Setiawan
Djody, pengusaha sukses sekaligus musisi ternama; WS Rendra, penyair dan
dramawan yang berwibawa; Jockie Suryoprayogo, arranger dan pemain
keyboard senior; Donny Fatah, pemain bas musik rock yang ulung; dan
Innisisri, seorang pemain drum dan perkusi yang kreatif.
Tahun 1990, mereka mengelurkan album perdana bertitel Kantata Takwa. Dari album yang juga menghadirkan permainan gitar Eet Sjahranie dan Raidy Noor, gebukan dram Budhy Haryono serta tiupan saksofon Embong Rahardjo ini, melejit nomor Kesaksian yang sangat ekspresif
Meskipun merupakan grup musik, Kantata mempunyai kekhasan dibanding grup-grup lain. Kantata lebih tepat disebut sebagai sebuah forum komunikasi, diskusi, dan pengejawantahan kreativitas dari sensitivitas sosio-estetik para personilnya. Visi yang kuat akan kondisi sosial budaya menjadikan mereka sebagai wujud representasi baru atas perjalanan panjang serta dinamika kehidupan masyarakat kita.
Bagi Kantata musik adalah sarana untuk mengomunikasikan lirik hasil perjalanan tersebut. Oleh karena itu, Kantata tidak mengikrarkan diri sebagai wakil dari jenis musik tertentu. Hal terpenting adalah meramu musik mana yang paling pas untuk mengiringi lirik masing-masing lagu mereka. Melodi lagu-lagu mereka tidak berniat membuai orang hingga lupa akan maknanya, tetapi cenderung lugas hingga pesan yang dikandung dalam lirik menjadi transparan.
Maka ketika kita mengapresiasi nyanyian Kantata, yang terbentang adalah potret-potret kehidupan, mulai dari yang religius hingga yang tragis. Simak, misalnya, lagu Kesaksian yang menggambarkan berbagai tregedi yang harus dikabarkan atau Orang-orang Kalah yang menggambarkan daya hidup “wong cilik”. Sementara itu, lagu Kantata Takwa sendiri merefleksikan kepasrahan manusia di hadapan Tuhan.
Sukses dengan album perdana yang terjual ratusan ribu keping, Kantata lantas membuat gebrakan di dunia pertunjukan. Malam itu, 23 Januari 1990 di Stadion Utama Senayan Jakarta berkumpul ratusan ribu penikmat musik untuk menikmati konser akbar Kantata. Konser tersebut tercatat sebagai salah satu konser terbesar dalam catatan sejarah musik Indonesia, baik dari segi kuantitas penonton maupun dalam kualitas penyelenggaraan.
Beberapa bulan kemudian, Kantata melakukan konser tur yang tak kalah akbarnya ke berbagai daerah, antara lain konser di Surabaya pada 11-12 Agustus 1990 dan konser di Solo pada 11-12 September 1990.
Setelah sukses dengan album perdana dan serangkaian turnya, Kantata Takwa tak terdengar lagi kabarnya. Para personilnya lebih terfokus pada aktivitas masing-masing. Iwan Fals menggarap album solonya, yakni Cikal, Belum Ada Judul, Hijau, dan Orang Gila. Setiawan Djody juga sibuk menggarap album solo perdananya, Dialog. Sedang-kan Sawung Jabo bersama kelompok Sirkus Barock menggarap album Fatamorgana.
Sebenarnya, beberapa dari personil Kantata tetap berkolaborasi, hanya saja mereka mengibarkan bendera yang berbeda. Iwan Fals, Sawung Jabo, Innisisri dan beberapa musisi lain sempat tergabung dalam kelompok Swami dan Dalbo. Pada 1994, Iwan Fals dan Sabung Jabo bahkan mengelurkan album duet berjudul Anak Wayang.
Indikasi kemunculan kembali Kantata baru terlihat pada awal 1995. Saat itu mereka manggung untuk kalangan terbatas di Hardrock Cafe Jakarta. Tak lama kemu-dian, tanggal 15 Oktober 1995 Kantata kembali menggelar konser akbar di lapangan terbuka di Surakarta. Hasil rekaman pertunjukan yang dijejali sekitar 300.000 penonton itu ditayangkan oleh TPI. Kini, lagu-lagu dari konser tersebut secara bergantian biasanya hadir pula pada acara Panggung Mania di TPI setiap Minggu malam.
Kantata nampaknya memang bertekad untuk kembali menghangatkan jagad musik Indonesia. Terbukti, menjelang akhir 1996 mereka berkumpul di Camping Lawu Resort, Tawangmangu, Solo, Jawa Tengah. Di bumi perkemahan seluas 14 hektar milik setiawan Djody ini Kantata menggarap album kedua.
Mereka yang berkumpul tidak banyak berubah dari album pertama. Mereka adalah Iwan Fals (gitar/harmonika/vokal), S. Djody (gitar/vokal), Sawung Jabo (gitar/timpani/vokal), WS Rendra (lirik), Jockie S. (music director /keyboard/vokal), Innisisri (drum/perkusi), dan Donny Fatah (bas). Sedangkan yang terbilang sebagai pendatang baru adalah Totok Tewel (gitar) dan Doddy Katamsi (vokal).
Maka pada awal 1997 keluarlah album mereka, Kantata Samsara. Seperti kata Setiawan Djody, lahirnya Kantata Samsara berangkat dari keinginan untuk menghidupkan kembali Kantata Takwa. Oleh karena itu, kata Samsara diambil yang dalam bahasa Sanskerta berarti “lahir kembali”.
Secara umum, Kantata Takwa dan Kantata Samsara memiliki kepekaan, daya kritis, dan totalitas daya hidup yang sama. Meskipun demikian, di antara keduanya memiliki tema yang agak berbeda. Kantata Samsara lebih berbicara tentang obsesi dan revitalisasi menyongsong tantangan abad XXI. Dalam konteks ini, Kantata berpihak pada keadilan dan kepastian hukum dengan berpegang pada solidaritas dan kebersama-an. Simak, penggalan lirik lagu Samsara berikut ini: “…Keadilan, kehidupan, ditegakkan / Kebersamaan, kemakmuran, dilautkan / Apakah masih ada angin cinta kebersamaan / gerhana meratap jiwa membara / kesatuan berbangsa, digemakan / Samsara…”
Hal yang juga agak berbeda bahwa lagu-lagu pada album Kantata Samsara terasa lebih kontemplatif serta banyak menggunakan bahasa simbol yang liris. Permenungan yang mendalam dan bahkan menyayat, begitu terasa pada lagu Anak Zaman, Songsonglah, dan Lagu Buat Penyaksi. Sementara itu, ramuan bahasa simbol dapat dinikmati pada lagu Nyanyian Preman, Asmaragama, dan Langgam Lawu. Kantata juga membuat lagu berlirik Inggris, For Green and Peace, sebuah lagu yang merefleksikan harapan akan kesejahteraan dan kedamaian.
Memasuki awal 1998, Kantata kembali hadir dengan mengeluarkan album ketiga, Kantata Takwa Samsara. Sebenarnya album ini merupakan kompilasi dari dua album sebelumnya. Walaupun demikian ada sedikit perbedaan. Untuk lagu Gelisah yang diambil dari album pertama mendapat penambahan aransemen pada intronya dan untuk lagu Kesaksian yang juga diambil dari album pertama ditambah dengan narasi WS Rendra.
Tahun 1999, tanpa didukung Iwan Fals, Kantata kembali melahirkan album berjudul Kantata Revolvere yang diproduksi Kantata Bangsa Foundation.
Tahun 1990, mereka mengelurkan album perdana bertitel Kantata Takwa. Dari album yang juga menghadirkan permainan gitar Eet Sjahranie dan Raidy Noor, gebukan dram Budhy Haryono serta tiupan saksofon Embong Rahardjo ini, melejit nomor Kesaksian yang sangat ekspresif
Meskipun merupakan grup musik, Kantata mempunyai kekhasan dibanding grup-grup lain. Kantata lebih tepat disebut sebagai sebuah forum komunikasi, diskusi, dan pengejawantahan kreativitas dari sensitivitas sosio-estetik para personilnya. Visi yang kuat akan kondisi sosial budaya menjadikan mereka sebagai wujud representasi baru atas perjalanan panjang serta dinamika kehidupan masyarakat kita.
Bagi Kantata musik adalah sarana untuk mengomunikasikan lirik hasil perjalanan tersebut. Oleh karena itu, Kantata tidak mengikrarkan diri sebagai wakil dari jenis musik tertentu. Hal terpenting adalah meramu musik mana yang paling pas untuk mengiringi lirik masing-masing lagu mereka. Melodi lagu-lagu mereka tidak berniat membuai orang hingga lupa akan maknanya, tetapi cenderung lugas hingga pesan yang dikandung dalam lirik menjadi transparan.
Maka ketika kita mengapresiasi nyanyian Kantata, yang terbentang adalah potret-potret kehidupan, mulai dari yang religius hingga yang tragis. Simak, misalnya, lagu Kesaksian yang menggambarkan berbagai tregedi yang harus dikabarkan atau Orang-orang Kalah yang menggambarkan daya hidup “wong cilik”. Sementara itu, lagu Kantata Takwa sendiri merefleksikan kepasrahan manusia di hadapan Tuhan.
Sukses dengan album perdana yang terjual ratusan ribu keping, Kantata lantas membuat gebrakan di dunia pertunjukan. Malam itu, 23 Januari 1990 di Stadion Utama Senayan Jakarta berkumpul ratusan ribu penikmat musik untuk menikmati konser akbar Kantata. Konser tersebut tercatat sebagai salah satu konser terbesar dalam catatan sejarah musik Indonesia, baik dari segi kuantitas penonton maupun dalam kualitas penyelenggaraan.
Beberapa bulan kemudian, Kantata melakukan konser tur yang tak kalah akbarnya ke berbagai daerah, antara lain konser di Surabaya pada 11-12 Agustus 1990 dan konser di Solo pada 11-12 September 1990.
Setelah sukses dengan album perdana dan serangkaian turnya, Kantata Takwa tak terdengar lagi kabarnya. Para personilnya lebih terfokus pada aktivitas masing-masing. Iwan Fals menggarap album solonya, yakni Cikal, Belum Ada Judul, Hijau, dan Orang Gila. Setiawan Djody juga sibuk menggarap album solo perdananya, Dialog. Sedang-kan Sawung Jabo bersama kelompok Sirkus Barock menggarap album Fatamorgana.
Sebenarnya, beberapa dari personil Kantata tetap berkolaborasi, hanya saja mereka mengibarkan bendera yang berbeda. Iwan Fals, Sawung Jabo, Innisisri dan beberapa musisi lain sempat tergabung dalam kelompok Swami dan Dalbo. Pada 1994, Iwan Fals dan Sabung Jabo bahkan mengelurkan album duet berjudul Anak Wayang.
Indikasi kemunculan kembali Kantata baru terlihat pada awal 1995. Saat itu mereka manggung untuk kalangan terbatas di Hardrock Cafe Jakarta. Tak lama kemu-dian, tanggal 15 Oktober 1995 Kantata kembali menggelar konser akbar di lapangan terbuka di Surakarta. Hasil rekaman pertunjukan yang dijejali sekitar 300.000 penonton itu ditayangkan oleh TPI. Kini, lagu-lagu dari konser tersebut secara bergantian biasanya hadir pula pada acara Panggung Mania di TPI setiap Minggu malam.
Kantata nampaknya memang bertekad untuk kembali menghangatkan jagad musik Indonesia. Terbukti, menjelang akhir 1996 mereka berkumpul di Camping Lawu Resort, Tawangmangu, Solo, Jawa Tengah. Di bumi perkemahan seluas 14 hektar milik setiawan Djody ini Kantata menggarap album kedua.
Mereka yang berkumpul tidak banyak berubah dari album pertama. Mereka adalah Iwan Fals (gitar/harmonika/vokal), S. Djody (gitar/vokal), Sawung Jabo (gitar/timpani/vokal), WS Rendra (lirik), Jockie S. (music director /keyboard/vokal), Innisisri (drum/perkusi), dan Donny Fatah (bas). Sedangkan yang terbilang sebagai pendatang baru adalah Totok Tewel (gitar) dan Doddy Katamsi (vokal).
Maka pada awal 1997 keluarlah album mereka, Kantata Samsara. Seperti kata Setiawan Djody, lahirnya Kantata Samsara berangkat dari keinginan untuk menghidupkan kembali Kantata Takwa. Oleh karena itu, kata Samsara diambil yang dalam bahasa Sanskerta berarti “lahir kembali”.
Secara umum, Kantata Takwa dan Kantata Samsara memiliki kepekaan, daya kritis, dan totalitas daya hidup yang sama. Meskipun demikian, di antara keduanya memiliki tema yang agak berbeda. Kantata Samsara lebih berbicara tentang obsesi dan revitalisasi menyongsong tantangan abad XXI. Dalam konteks ini, Kantata berpihak pada keadilan dan kepastian hukum dengan berpegang pada solidaritas dan kebersama-an. Simak, penggalan lirik lagu Samsara berikut ini: “…Keadilan, kehidupan, ditegakkan / Kebersamaan, kemakmuran, dilautkan / Apakah masih ada angin cinta kebersamaan / gerhana meratap jiwa membara / kesatuan berbangsa, digemakan / Samsara…”
Hal yang juga agak berbeda bahwa lagu-lagu pada album Kantata Samsara terasa lebih kontemplatif serta banyak menggunakan bahasa simbol yang liris. Permenungan yang mendalam dan bahkan menyayat, begitu terasa pada lagu Anak Zaman, Songsonglah, dan Lagu Buat Penyaksi. Sementara itu, ramuan bahasa simbol dapat dinikmati pada lagu Nyanyian Preman, Asmaragama, dan Langgam Lawu. Kantata juga membuat lagu berlirik Inggris, For Green and Peace, sebuah lagu yang merefleksikan harapan akan kesejahteraan dan kedamaian.
Memasuki awal 1998, Kantata kembali hadir dengan mengeluarkan album ketiga, Kantata Takwa Samsara. Sebenarnya album ini merupakan kompilasi dari dua album sebelumnya. Walaupun demikian ada sedikit perbedaan. Untuk lagu Gelisah yang diambil dari album pertama mendapat penambahan aransemen pada intronya dan untuk lagu Kesaksian yang juga diambil dari album pertama ditambah dengan narasi WS Rendra.
Tahun 1999, tanpa didukung Iwan Fals, Kantata kembali melahirkan album berjudul Kantata Revolvere yang diproduksi Kantata Bangsa Foundation.
mursala
Iwan Fals membuat lagu baru untuk Original SoundTrack film Mursala yang rencana tayang tahun 2012 ini. Lagunya saja sudah keren apalagi musiknya yang diaransemen oleh Iwang Noorsaid, makin mantab dah.
Selasa, 09 Oktober 2012
n e v e r d i e
Kalau kau datang
Hatiku senang
Berbunga bunga
Bulan dan bintang
Terangi malam
Sehabis hujan
Saling bicara
Tukar cerita
Berbagi rasa
Aku disini
Tetap di tepi
Masih bernyanyi
Dunia sedang dilanda kalut
Alam semesta seperti merintih
Kau dengarkah?
Aku tak bisa
Untuk tak peduli
Hati tersiksa
Aku bersumpah
Untuk berbuat
Yang aku bisa
Harus ada yang dikerjakan
Agar kehidupan berjalan wajar
Hidup hanya sekali wahai kawan
Aku tak mau mati dalam keraguan
Hatiku senang
Berbunga bunga
Bulan dan bintang
Terangi malam
Sehabis hujan
Saling bicara
Tukar cerita
Berbagi rasa
Aku disini
Tetap di tepi
Masih bernyanyi
Dunia sedang dilanda kalut
Alam semesta seperti merintih
Kau dengarkah?
Aku tak bisa
Untuk tak peduli
Hati tersiksa
Aku bersumpah
Untuk berbuat
Yang aku bisa
Harus ada yang dikerjakan
Agar kehidupan berjalan wajar
Hidup hanya sekali wahai kawan
Aku tak mau mati dalam keraguan
Rabu, 03 Oktober 2012
harga borong...
DAFTAR HARGA BORONGAN
- Galian Tanah = Rp. 27.500,- /m3
- Pas. Pondasi Batu Belah = Rp. 37.500,- / m3
- Beton Sloof 9/15 = Rp. 4.000,- / m'
- Beton Kolom 9/9 = Rp. 3.500,- /m'
- Beton Ring 9/9 = Rp. 4.500,- /m'
- Pas. Batu Bata = Rp. 8.000,- /m2
- Plesteran = Rp. 6.000,- /m2
- Acian = Rp. 4.000,- /m2
- Sponengan = Rp. 3.000,- /m'
- Rangka Atap Kayu+Atap Genteng+Kerpus= Rp.35.000,-/m2
- Reyaman = Rp. 5.500,- /m'
- Rangka Plafond Kayu + Plafon = Rp.15.000,-/m2(tanpa cat)
- Rabat Beton Lantai = Rp. 6.000,- /m2
- Pas. Keramik Lantai = Rp. 15.000,- /m2
- Pas. List Keramik Lantai = Rp. 3.500,- /m'
- Plamir+Cat Dinding = Rp. 7.000,- /m2
- Instalasi Listrik = Rp. 27.500,- /ttk
- Pas. Daun Pintu = Rp. 50.000,- /bh
- Pas. Daun Jendela = Rp. 30.000,- /bh
- Besi 22" berat 23,2 kg/bt
- Besi 16" berat 19 kg/bt
- Besi 12" berat 10,8 kg/bt
- Besi 10" berat 7,4 kg/bt
- Besi 8" berat 4,7 kg/bt
- Besi 6" ( begel ) --- BONUS PEKERJAAN
- HARGA Rp. 3.000,-/kg
- Khusus untuk Kolom Praktis 9/9 harga Rp. 4.000,- /m'
- Luasan 4 m2 = Rp. 1.300.000,- (komplet)
Borongan Tenaga Komplet =
Rp. 485.000,- / m2 (luas bangunan)Borongan Tenaga + Material = Satu Lantai
Rp. 2.000.000,- / m2 (luas bangunan)
Borongan Tenaga + Material = Dua Lantai
Lt. 01 = Rp. 2.200.000,- / m2 (luas bangunan)Lt. 02 = Rp. 1.700.000,- / m2
plester
ANALISA HARGA SATUAN, PLESTERAN BAG 3.
| 1 m2 | Plesteran 1 Pc : 2 Ps, Tebal 20 mm | |||||
| BAHAN | | | | | | |
| Semen Portland | | | 14.280 | Kg | x Rp. | |
| Pasir Pasang | | | 0.023 | M3 | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 1 | |
| | | | | | | |
| TENAGA | | | | | | |
| Pekerja | | | 0.250 | OH | x Rp. | |
| Tukang Batu | | | 0.200 | OH | x Rp. | |
| Kepala Tukang | | | 0.020 | OH | x Rp. | |
| Mandor | | | 0.0125 | OH | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 2 | |
| | | | | | Jumlah (1) + (2) | |
| | | | | | | |
| 1 m2 | Plesteran 1 Pc : 3 Ps, Tebal 20 mm | |||||
| BAHAN | | | | | | |
| Semen Portland | | | 10.800 | Kg | x Rp. | |
| Pasir Pasang | | | 0.026 | M3 | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 1 | |
| | | | | | | |
| TENAGA | | | | | | |
| Pekerja | | | 0.250 | OH | x Rp. | |
| Tukang Batu | | | 0.200 | OH | x Rp. | |
| Kepala Tukang | | | 0.020 | OH | x Rp. | |
| Mandor | | | 0.0125 | OH | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 2 | |
| | | | | | Jumlah (1) + (2) | |
| | | | | | | |
| 1 m2 | Plesteran 1 Pc : 4 Ps, Tebal 20 mm | |||||
| BAHAN | | | | | | |
| Semen Portland | | | 8.680 | Kg | x Rp. | |
| Pasir Pasang | | | 0.028 | M3 | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 1 | |
| | | | | | | |
| TENAGA | | | | | | |
| Pekerja | | | 0.250 | OH | x Rp. | |
| Tukang Batu | | | 0.200 | OH | x Rp. | |
| Kepala Tukang | | | 0.020 | OH | x Rp. | |
| Mandor | | | 0.0125 | OH | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 2 | |
| | | | | | Jumlah (1) + (2) | |
| | | | | | | |
| 1 m2 | Plesteran 1 Pc : 5 Ps, Tebal 20 mm | |||||
| BAHAN | | | | | | |
| Semen Portland | | | 7.290 | Kg | x Rp. | |
| Pasir Pasang | | | 0.028 | M3 | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 1 | |
| | | | | | | |
| TENAGA | | | | | | |
| Pekerja | | | 0.250 | OH | x Rp. | |
| Tukang Batu | | | 0.200 | OH | x Rp. | |
| Kepala Tukang | | | 0.020 | OH | x Rp. | |
| Mandor | | | 0.0125 | OH | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 2 | |
| | | | | | Jumlah (1) + (2) | |
| | | | | | | |
| 1 m2 | Plesteran 1 Pc : 6 Ps, Tebal 20 mm | |||||
| BAHAN | | | | | | |
| Semen Portland | | | 6.240 | Kg | x Rp. | |
| Pasir Pasang | | | 0.030 | M3 | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 1 | |
| | | | | | | |
| TENAGA | | | | | | |
| Pekerja | | | 0.250 | OH | x Rp. | |
| Tukang Batu | | | 0.200 | OH | x Rp. | |
| Kepala Tukang | | | 0.020 | OH | x Rp. | |
| Mandor | | | 0.0125 | OH | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 2 | |
| | | | | | Jumlah (1) + (2) | |
| | | | | | | |
| 1 m2 | Plesteran 1 Kp : 1 SM : 2 Ps, Tebal 20 mm | |||||
| BAHAN | | | | | | |
| Semen Merah | | | 0.009 | M3 | x Rp. | |
| Kapur Padam | | | 0.009 | M3 | x Rp. | |
| Pasir Pasang | | | 0.018 | M3 | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 1 | |
| | | | | | | |
| TENAGA | | | | | | |
| Pekerja | | | 0.250 | OH | x Rp. | |
| Tukang Batu | | | 0.200 | OH | x Rp. | |
| Kepala Tukang | | | 0.020 | OH | x Rp. | |
| Mandor | | | 0.0125 | OH | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 2 | |
| | | | | | Jumlah (1) + (2) | |
| | | | | | | |
| 1 m2 | Plesteran 1 Pc : 2 Ps, Tebal 25 mm | |||||
| BAHAN | | | | | | |
| Semen Portland | | | 15.500 | Kg | x Rp. | |
| Pasir Pasang | | | 0.013 | M3 | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 1 | |
| | | | | | | |
| TENAGA | | | | | | |
| Pekerja | | | 0.300 | OH | x Rp. | |
| Tukang Batu | | | 0.200 | OH | x Rp. | |
| Kepala Tukang | | | 0.020 | OH | x Rp. | |
| Mandor | | | 0.0130 | OH | x Rp. | |
| | | | | | Jumlah 2 | |
| | | | | | Jumlah (1) + (2) | |
Langganan:
Komentar (Atom)














