IX
|
Pekerjaan Instalasi Listrik
| |||||||
1
|
Penyambungan Lisrik
|
1,00
|
unit
|
Rp 2.500.000,00
|
Rp 2.500.000,00
| |||
2
|
Pasang Box Panel
|
1,00
|
unit
|
Rp 314.130,00
|
Rp 314.130,00
| |||
3
|
Pekerjaan Ground Panel
|
1,00
|
unit
|
Rp 200.000,00
|
Rp 200.000,00
| |||
4
|
Pasang Kabel Puding
|
1,00
|
ls
|
Rp 90.000,00
|
Rp 90.000,00
| |||
Minggu, 23 November 2014
pasang listrik
Kamis, 23 Oktober 2014
MPB*3
METODE PELAKSANAAN BANGUNAN
Pemasangan pasangan batu bata dilakukan diatas sloof. Pemasangan harus lurus, tegak, tidak siar dan tidak ada batu bata yang pecah melebihi 5 % dan pemasangan batu bata maksimal 1 m per hari.
Pekerjaan plester yaitu bagian yang akan diplester disiram dengan air terlebih dahulu dan plesteran harus menghasilkan bidang yang rata dan sponeng yang lurus. Semua dinding harus diplester dengan 1pc : 3ps untuk pasangan.
II. PEKERJAAN TANAH
IV. PEKERJAAN BETON BERTULANG
- presisi.
- warna.
- dihubungkan dengan elektroda pentanahan
- ditanam sampai minimal mencapai air tanah
- A. PEKERJAAN PERSIAPAN
- B. PEKERJAAN TANAH
- C. PEKERJAAN PONDASI
- D. PEKERJAAN BETON BERTULANG
- E. PEKERJAAN DINDING
Pemasangan pasangan batu bata dilakukan diatas sloof. Pemasangan harus lurus, tegak, tidak siar dan tidak ada batu bata yang pecah melebihi 5 % dan pemasangan batu bata maksimal 1 m per hari.
Pekerjaan plester yaitu bagian yang akan diplester disiram dengan air terlebih dahulu dan plesteran harus menghasilkan bidang yang rata dan sponeng yang lurus. Semua dinding harus diplester dengan 1pc : 3ps untuk pasangan.
- F. PEKERJAAN KUSEN, PINTU, DAN JENDELA
- G. PEKERJAAN PENUTUP ATAP
- H. PEKERJAAN SANITASI
- I. PEKERJAAN KERAMIK
- J. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK
- K. PEKERJAAN KUNCI DAN TERALIS TANGGA
- L. PEKERJAAN FINISHING
PENJELASAN TIAP ITEM PEKERJAAN
I. PEKERJAAN PERSIAPAN - A. Pembersihan lahan
- Membersihkan lahan dari rumput, humus, pohon dan dari sampah.
- Arah pekerjaan ditentukan dengan mempertimbangkan urutan pekerjaan yang akan dilaksanakan berikutnya
- pembersihan yang merata.
- B. Pembuatan pagar pengaman
- Pagar terbuat dari seng gelombang dengan tinggi 2 m dan kayu dolken.
- Dipasang mengelilingi lahan proyek
- C. Penentuan as dan peil bangunan
- As dan peil bangunan menentukan letak/posisi dan orientasi bangunan
- Posisi As bangunan diukur dari titik acuan yang telah ditentukan
- As bangunan harus ditandai dengan jelas(umumnya dengan warna merah) dan diletakan pada ketinggian referensi (mis. + 0,00)
- As bangunan ini menjadi acuan/referensi as-as yang lain untuk mementukan posisi pondasi, kolom, lantai, dll, pada bangunan yang akan dibuat
- D. Pemasangan bouwplank
- Bowplank adalah papan-papan yang dipasang disekitar lokasi pekerjaan
- Kayu yang digunakan adalah kayu 5/7 x 4m dan kayu papan 3/20
- Bowplank dipasang mendatar sesuai ketinggian rencana, dan dipaku pada beberapa tempat untuk menarik benang-benang as
- Benang-benang as ini menjadi acuan dalam semua pekerjaan yang menyangkut letak elemen bangunan, lebar pondasi dan tembok, kedalaman galian, dan ketinggian elemen bangunan (lantai, pintu, jendela, dll)
- Bowplank tidak perlu dipasang menerus, pada beberapa tempat dapat dikosongkan untuk jalan pekerja
II. PEKERJAAN TANAH
- A. Pekerjaan galian tanah
- Gali tanah sesuai lebar pondasi bagian bawah dan kedalaman rencana
- Gali sisi-sisi miringnya sehinga dicapai sudut kemiringan yang tepat
- Tanah hasil galian diletakkan di pinggir galian diluar bouwplank, yang nantinya untuk pekerjaan pengurugan kembali.
- Cek posisi, lebar, kedalaman, dan kerapiannya, sesuai dengan rencana
- Pekerjaan urugan pasir
- Parit pondasi diurug pasir setebal 10 cm
- C. Pekerjaan urugan tanah
- Dilakukan urugan kembali terhadap pondasi yang telah terpasang.
- Pemborong harus melaporkan kepada konsultan pengawas tentang rencana jaringan listrik, telepon, septictank dan lain-lain apabila akan memulai pekerjaan pondasi.
- Bekas lubang dan parit dalam bangunan harus ditimbun dengan pasir urug dan dipadatkan.
- A. Pasangan pondasi batu kali
- Pondasi bangunan yang digunakan adalah pondasi batu kali / batu gunung yang memenuhi persyaratan teknis atau sesuai keadaan dilapangan .
- Pasangan pondasi adalah dari batu kali, ukuran pondasi sesuai dengan gambar rencana pondasi atau pondasi batu belah dengan perekat 1pc : 3kp : 10 ps dan kemudian diplester kasar , bagian bawah pondasi dipasang batu kosong (aanstamping) tebal 20 cm dengan sela- selanya disisi pasir urug, disiram air sampai Penuh dan ditumbuk hingga padat dan rata.
- Celah–celah yang besar antara batu diisi dengan batu kecil yang cocok padatnya.
- Pasangan pondasi batu kali tidak saling bersentuhan dan selalu ada perekat diantaranya hinga rapat.
- Pada pasangan batu kali sudah harus disiapkan anker besi untuk kolom, kedalaman anker 30 cm harus dicor dan panjang besi yang muncul diatasnya minimal 75 cm.
- Cor stek kolom dan rapikan kembali
- Setelah pasangan mengeras, tanah dapat diurug kembali
IV. PEKERJAAN BETON BERTULANG
- A. Pembesian
- Buat tulangan sengkang dengan syarat :
- bengkokan kait minimal 90o ditambah perpanjangan 12d
- atau bengkokan kait 135o ditambah perpanjangan 6d
- pembengkokan dilakukan dalam keadaan dingin
- Potong tulangan memanjang dan bentuk sesuai gambar kerja
- Masukan tulangan-tulangan memanjang balok pada sela-sela tulangan kolom/balok disebelahnya sesuai dengan dimensi balok dan posisi tulangan
- Masukan sengkang-sengkang balok sesuai dengan jumlahnya
- Masukan tulangan-tulangan memanjang balok pada ujung yang lain ke sela-sela kolom/balok sebelahnya
- Ikat sengkang dengan tulangan memenjang sesuai dengan jarak sengkang yang ditentukan dengan menggunakan kawat bendrat
- Cek kembali hasil pabrikasi dengan gambar kerja yang ada
- Pasang pengatur jarak selimut beton/ decking
- B. Bekisting
- Bekisting dibuat dengan bahan kayu kelas III (terentang) dan balok kayu kelas II, serta dolken diameter 8/400
- Cek jarak sabuk kolom/balok/sloof/ring balk
- Cek pertemuan panel sudut bekisting
- Permukaan plywood dibersihkan dan dilumasi minyak bekisting
- Penyetelan sabuk dan kayu support bekisting
- Pemberian mortar pada dudukan bekisting, pastikan mortar yang ditabur mengering
- C. Betonisasi
- Digunakan beton mutu K-300 dengan campuran 1PC:2PS:3KR
- Untuk kolom pengecoran dilakukan tiap satu meter
- Untuk plat dan balok pengecoran dilakukan sekaligus
- Vibrasi yang cukup selama pengecoran
- Pengetokan pada keliling luar bekisting
- Untuk beton pada lantai 2 dari molen diangkut secara bertahap ke lantai 2
- D. Pelepasan bekisting
- Satu hari setelah pengecoran, bekisting dilepas
- Melepas scafolding
- Melepas plywood
- E. Perawatan beton
- Menyiram beton setiap siang dan sore selama minimal 3 hari
- Menutupi dengan karung basah
- A. Pekerjaan pasangan batu bata
- Pasang acuan kayu (profil) secara vertikal pada setiap ujung dinding yang akan dipasang.
- Di ukur dan di tandai jarak setiap ketinggian pasangan bata / batako dan di kontrol kesetimbangan horisontalnya antara ujung satu dengan yang lainnya.
- Basahi bata yang akan di pasang sampai tidak menyerap air.
- Beri adukan mortar (sebagai perekat) pada setiap sambungan antara batu bata dan pada setiap sambungan atas dan bawah dari batu bata tidak boleh membentuk garis lurus/vertikal.
- Usahakan potongan batu bata yang besarnya kurang dari setengahnya tidak dipakai atau tidak dipasang.
- Tinggi pemasangan dinding batu bata dalam satu hari supaya tidak lebih dari 1 meter, untuk menjaga keruntuhan.
- B. Pekerjaan plesteran dinding
- Siapkan material yang akan di pakai pada lokasi yang terdekat atau strategis dari dinding yang akan di plester.
- Siram permukaan bata / bataco dengan air sampai basah secara merata ( curing ).
- Buat adukan untuk kamprotan dengan perbandingan tertentu (misalkan = 1 pc : 2 ps)
- Lakukan kamprotan pada bidang yang telah dicuring dengan jarak lemparan ± 50 cm dari permukaan yang dikamprot dengan ketebalan 15 ~ 20 mm.
- Setelah bidang yang dikamprot kering, lakukan penyiraman ( curing ) selama 3 hari ; pagi, siang & sore.
- Setelah itu mulailah membuat caplakan dengan adukan 1 pc : 3 ps.
- Buat kepalaan dengan ketebalan 15 mm.
- Lanjutkan dengan penyiraman jika kepalaan telah mengering.
- Pastikan bidang yang akan diplester telah dicuring.
- Buat adukan 1 pc : 3 ps, gunakan pasir yang diayak ( halus ).
- Lakukan plesteran pada bidang – bidang yang telah ada kepalaannya sampai selesai seluruh permukaan pada setiap bagian dengan cara dilempar dari jarak ± 50 cm
- Gunakan jidar untuk meratakan permukaan sesuai dengan kepalaan.
- Saat plesteran setengah kering, gunakan roskam untuk mengosok permukaan dinding sampai halus & rata.
- Lanjutkan dengan curing selama 7 hari : pagi, siang dan sore sampai permukaan plesteran benar – benar basah seluruhnya.
- Setelah cukup usia curing, keringkan bidang tersebut selama 1 hari.
- Haluskan permukaan dinding dengan amplas halus.
- Plamir bidang – bidang plesteran yang telah kering dengan menggunakan plamir yang baik.
- Lakukan sebanyak 3 lapis ( tiga kali pelaksanaan ) sampai dinding benar – benar rata dan halus.
- A. Pemasangan kusen
- Siapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan mudah dijangkau.
- Rentangkan benang berjarak separuh dari tebal kusen terhadap as bouwplank untuk menentukan kedudukan kusen.
- Pasang angker pada kusen secukupnya.
- Dirikan kusen dan tentukan tinggi kedudukan kusen pintu/jendela.
- Setel kedudukan kusen pintu/jendela sehingga berdiri tegak dengan menggunakan unting-unting.
- Pasang skur sehingga kedudukannya stabil dan kokoh.
- Pasang patok untuk diikat bersama dengan skur sehingga kedudukan menjadi kokoh.
- Cek kembali kedudukan kusen pintu/jendela, apakah sudah sesuai pada tempatnya, ketinggian dan ketegakan dari kusen.
- Bersihkan tempat sekelilingnya.
- B. Pemasangan daun pintu dan jendela
- Ukur lebar dan tinggi kusen pintu/jendela.
- Ukur lebar dan tinggi daun pintu/jendela.
- Ketam dan potong daun pintu/jendela (bila terlalu lebar dan terlalu tinggi).
- Masukkan/pasang daun pintu/jendela pada kusennya, stel sampai masuk dengan toleransi kelonggaran 3 – 5 mm, baik ke arah lebar maupun kearah tinggi.
- Lepaskan daun pintu/jendela, pasang/tanam engsel daun pintu pada tiang daun pintu (sisi tebal) dengan jarak dari sisi bagian bawah 30 cm, dan dari sisi bagian atas 25 cm (untuk pintu/jendela dengan 2 engsel), dan pada bagian tengah (untuk pintu dengan 3 engsel)
- Masukkan/pasang lagi daun pintu/jendela pada kusennya, stel sampai baik kedudukannya, kemudian beri tanda pada tiang kusen pintu/jendela tempat engsel yang sesuai dengan engsel pada daun pintu/jendela.
- Lepaskan sebelah bagian engsel pada daun pintu/jendela dengan cara melepas pennya, kemudian pasang/tanam pada tiang kusen
- Pasang kembali daun pintu/jendela pada kusennya dengan memasangkan engselnya, kemudian masukkan pennya sampai pas, sehingga
- terpasanglah daun pintu pada kusen pintunya.
- Coba daun pintu/jendela dengan cara membuka dan menutup.
- Bila masih dianggap kurang pas, lepaskan daun pintu/jendela dengan cara melepaskan pen.
- Stel lagi sampai daun pintu/jendela dapat membuka dan menutup dengan baik, rata dan lurus dengan kusen
- C. Pemasangan kaca
- Letakkan daun pintu/jendela dengan posisi alur terletak pada bagian atas. Usahakan letakkan pada meja yang luasnya minimal sama dengan luas daun pintu. Atau letakkan pada lantai yang datar.
- Haluskan seluruh sisi kaca agar tidak tajam.
- Pasangkan lembaran kaca dengan hati-hati, gunakan selembar karton atau kain untuk memegang kaca.
- Pasang paku pada list kayu sebelum dipasang pada keempat sisi daun pintu/jendela.
- Setelah lis terpasang, perlahan masukkan paku dengan martil.
- Sebaiknya letakkan selembar kain di atas permukaan kaca yang sedang dipasang lis kayu. Ini untuk menghindari goresan pada permukaan kaca karena gerakan martil
- A. Pemasangan kuda-kuda
- Pengangkutan kuda-kuda, bahan dan alat ke lokasi proyek
- Pekerjaan pengecatan rangka kuda
- Pekerjaan perangkaian kuda-kuda
- Pekerjaan menaikan kuda-kuda keatas atap
- Rangka kuda-kuda ditempatkan pada angkur yang terdedia, besi angkur merupakan tulangan dari kolom yang dilebihkan sebagai pengikat antara kuda-kuda dan dinding.Angkur kemudian ditempatkan pada plat dudukan kuda-kuda yang sudah dilobangi, kemudian angkur dan plat dudukan kuda-kuda tersebut disambung dengan baut angkur 12 mm.
- B. Pemasangan rangka atap
- Perangkaian ikatan angin vertikal
- Pekerjaan menaikkan ikatan angin vertikal
- Setelah ikatan angin vertikal dinaikkan, pekerjaan selanjutnya adalah perangkaian antara ikatan angin vertikal dengan kuda-kuda
- Setelah ikatan angin terpasang, kemudian balok nok dipasang pada rangka atap.
- C. Pemasangan gording
- Pengecatan gording
- Memindahkan bahan gording ke lantai atas
- Gording ditempatkan diatas kuda-kuda pada titik buhul kuda-kuda
- Pemasangan genteng
- Sebelum dilakukan pekerjaan pemasangn genteng sebelumnya disiapkan diatas atap (disusun) pada titik-titik tertentu.
- Genteng dipasang secarah horisontal terlebih dahulu pada bagian atas.
- Setelah pada bagian paling atas terpasang diteruskan pada bagian bawahnyasecara horizontal.
- Dengan cara pemasangan genteng pada bagian atas diangkat atau diungkit setelah itu dimasukan genteng pada bagian bawahnya.
- Pertemuan dengan jurai genteng dipotong dengan bentuk segitiga agar rapi.
- E. Pemasangan lisplank
- Papan lisplank dipaku pada rangka listplank
- Pada sambungan papan lisplank dibuat sambungan bibir lurus.
- Setelah selesai pemasangan tahap berkutnya yaitu dilakukan pendempulan dan pengecatan
- F. Pemasangan plafond gypsum
- Tentukan / marking elevasi plafond dan buat garis sipatan pada dinding & as sumbu ruangan serta titik – titik paku kait pada langit- langit dengan jarak sesuai shop drawing.
- Pasang paku kait. tembakan paku – paku kait pada marking titik – titik yang telah ada 600 x 1200 mm.
- Pasang penggantung rangka plafond ( rod ) yang terdiri dari hanger dan clip adjuster ( ex. Boral type 223 ), dengan posisi tegak lurus.
- Pasang rangka tepi ( steel hollow ) & wall angle profil l 20 x 20 mm atau moulding profil w sebagai list tepi tepat pada sipatan marking elevasi plafond.
- Tentukan jarak penempatan kait penggantung.
- Pasang tarikan benang sebagai pedoman penentu kelurusan dan ketinggian rangka plafon
- Pasang rangka utama / top cross rail ( ex.boral type 201 ) dengan jarak 1200 mm.
- Pasang rangka pembagi / furing chanel ( ex.boral type 204 ) dengan jarak 600 mm menggunakan locking clip ( ex. Boral type 210 ).
- Pasang dan kencangkan clip / rod.
- Pasang panel gypsum pada rangka dengan sekrup ceiling menggunakan screw driver dengan jarak 60 cm dan setiap sambungan harus tepat pada rangka.
- Cek kerapihan dan kerataan bidang plafond dengan menggunakan waterpass.
- Perataan sambungan plafond dengan men gunakan ceiling net / lakban.
- Kemudian ditutup dengan paper tape dan compound ceiling.
- Setelah itu diamplas
- Finish permukaan plafond gypsum tersebut dengan cat.
- Ratakan permukaan plafon gypsum menggunakan plamur sampai terlihat rata dan lurus.
- Haluskan dengan amplas sampai rata dan benar – benar halus.
- Cat seluruh permukaan plafond secara merata dengan kuas untuk bagian tepi dan sudut, serta rol cat untuk bidang luas
- G. Pemasangan plafond tripleks
- Buat marking elevasi, as dan jarak penggantung rangka plafon sesuai dengan shopdrawing. ( untuk menentukan ketinggian plafond )
- Pasang benang nylon dua sisi dan sejajar sebagai pedoman kelurusan & ketinggian rangka, sesuai elevasi yang telah dibuat.
- Pasang instalasi terlebih dahulu sebelum memasang rangka plafond.
- Pasang rangka plafond (yang telah dihaluskan, dimeni & dipotong) sesuai marking yang telah dibuat.
- Periksa kelurusan dan kerataan rangka menggunakan waterpass & siku besi.
- Potong panel plafond plywood dengan gergaji sesuai shop drawing.
- Haluskan bekas potongan plywood dengan amplas.
- Pasang panel plafond plywood tersebut dengan mengatur :
- kelurusan & kerapatan nad plafond
- kerataan plafond
- Pemasangan plafond dimulai dari tepi ( mengikuti gambar kerja) dan diperkuat dengan paku yang diketok dengan palu besi.
- Cek kerataan permukaan plafond yang sudah jadi dengan waterpass.
- Rapikan & haluskan permukaan plafond plywood yang telah terpasang dengan amplas sampai rata / licin.
- Bersihkan permukaan yang telah diamplas dengan kain lap.
- A. Pemasangan kloset duduk
- B. Pemasangan kloset jongkok
- C. Pemasangan kran air
- D. Pemasangan bak cuci piring
- E. Pekerjaan bak mandi
- F. Pekerjaan bak peresapan
- G. Pekerjaan septictank
- H. Pemasangan pipa PVC 1/2”
- I. Pemasangan pipa PVC 3/4”
- J. Pemasangan pipa PVC 3”
- K. Pemasangan pipa PVC 4”
- A. Pemasangan lantai keramik
- Siapkan peralatan dan bahan – bahan yang akan digunakan.
- Pahami gambar kerja, pola pemasangan dan lain – lain.
- Sortir keramik agar menghasilkan keseragaman :
- presisi.
- warna.
- Rendam keramik yang akan dipasang kedalam bak air ( ember ) selama 1 jam.
- Keramik dianginkan dengan cara diletakan pada tempat dudukan / tatakan keramik, setelah pro ses perendaman.
- Tentukan garis dasar pasangan serta peil dari lantai. Penentuan peil ini untuk seluruh kesatuan
- Pasang benang arah horizontal dan vertikal pada lantai sesuai elevasi pada shop drawing. Kedudukan benang harus datar dan siku , apabila dinding yang ada adalah dinding keramik, maka kedudukan nad lantai harus disesuaikan dengan yang ada pada dinding.
- Pasang keramik sebagai pasangan kepalaan , sepanjang garis dasar yang telah terpasang
- Cek kesikuan keramik dengan besi siku dan kerataan elevasi keramik dengan waterpass.
- Isi bagian / daerah permukaan lantai yang lain nya dengan adukan / spesi.
- Setelah itu pasang keramik berikutnya sesuai posisinya sampai selesai, usahakan supaya tidak ada las – lasan
- Jika keramik sudah terpasang semua, ketuk per mukaan keramik dengan palu karet untuk mendatarkan / meratakan permukaan keramik supaya tidak rusak / cacat.
- Setelah itu cek kerataan elevasi keramik dengan waterpass
- Bersihkan permukaan pasangan keramik yang telah terpasang dengan kain / lap basah sampai bersih.
- Untuk menghindari naiknya lantai ( menggelembungnya lantai ) maka buatlah delatasi.
- Kemudian siapkan isian / bahan cor nad pada bak air ( ember ) dan aduklah hingga rata
- Setelah adukan rata , isi sela – sela nad dengan bahan cor nad dengan menggunakan sendok spesi ( sekop ). Pengisian nad dilakukan apabila kedudukan keramik telah kuat atau spesi telah kering
- Kemudian rapikan nad tersebut dengan cape.
- Diamkan dan tunggu sampai nad tersebut benar -benar kering.
- Setelah kering, bersihkan permukaan pasangan keramik yang sudah dipasang nad dari sisa – sisa bahan cor nad dengan menggunakan kain / lap basah sampai bersih
- B. Pemasangan dinding keramik (20×20)
- Siapkan peralatan dan bahan – bahan yang akan digunakan.
- Pahami gambar kerja, pola pemasangan dan lain – lain.
- Sortir keramik agar menghasilkan keseragaman : :
- ukuran / dimensi.
- presisi.
- warna.
- Rendam keramik yang akan dipasang kedalam bak air ( ember ) selama 1 jam.
- Keramik dianginkan dengan cara diletakan pada tempat dudukan / tatakan keramik, setelah pro ses perendaman.
- Membuat garis-garis sipatan waterpas pada dinding keramik keliling +/- 1m untuk menentukan ketinggian dan kedataran pemasangan keramik.
- Membuat lot pada dinding di tiap pojok ruangan dan kesikuannya serta garis pertengahan dinding untuk pembagian keramik.
- Mengukur jarak-jarak dinding untuk lebar dan tinggi ruangan, serta bagian-bagian yang terpasang pada ruangan tersebut.
- Berdasarkan data – data pengukuran kemudian membuat gambar kerja untuk pembagian pemasangan keramik dinding tersebut.
- Ukuran pemasangan keramik mengikuti gambar yang sudah dibuat sebelumnya sebagai acuan kerja.
- Pada pelaksanaan pekerjaan keramik dinding, sebaiknya keramik lantai belum terpasang sehingga nantinnya mendapat nut yang segaris antara dinding dan lantai.
- Pemasangan keramik harus padat dan rata sehingga tidak ada keramik dengan spesi kosong
- Membuat kepalaan keramik baik secara horisontal maupun vertikal mengikuti garis sipatan dan lot ketegakan yang telah dibuat sebelumnya.
- Sebelum keramik dipasang sebelumnya dinding dibasahi terlebih dahulu dengan air.
- Semua hantaran (kabel) yang ditarik dalam pipa / cabelduct harus diusahakan tidak tampak dari luar (tertanam).
- Pemasangan pipa harus dilaksanakan sebelum pengecoran. Pemasangan sparing-sparing listrik yang melintas di plat, balok, kolom beton harus dipasang terlebih dahulu sebelum pengecoran, kabel diusahakan dimasukkan bersamaan dengan pemasangan sparing.
- Pipa yang dipasang pada dinding dilaksanakan sebelum pekerjaan plesteran dan acian dikerjakan.
- Penempatan sambungan/percabangan harus ditempatkan di daerah yang mudah dicapai untuk perbaikan (perawatan).
- Sambungan harus menggunakan klem / isolasi kabel supaya terlindung dengan baik sehingga tidak tersentuh atau menggunakan lasdop dan ditempatkan pada Te Dos.
- Lekukan/belokan pipa harus beradius > 3 kali diameter pipa dan harus rata (untuk memudahkan penarikan kabel).
- Jaringan arde harus dipasang tersendiri/terpisah dengan arde penangkal petir.
- dihubungkan dengan elektroda pentanahan
- ditanam sampai minimal mencapai air tanah
- Pada hantaran di atas langit-langit, harus diklem pada bagian bawah plat / balok atau pada balok kayu rangka langit-langit.
- Untuk hantaran/tarikan kabel yang menyusur dinding bata/beton pada shaft harus diklem atau dengan papan dan kabeltrey bila jaringan terlalu rumit (banyak).
- Stop kontak dan saklar. Pemasangan stop kontak setinggi > 40 cm dari lantai, saklar dipasang setinggi
- 150 cm dari lantai (bila tidak ditentukan spesifikasinya). Pemasangan stop kontak dan saklar harus rata dengan dinding.
- Box / kotak Panel bodynya harus diarde, untuk menghindari adanya arus.
- Kunci tanam
- Kunci kamar mandi
- Engsel pintu
- Engsel jendela
- Teralis tangga
- A. Pengecatan
- Bersihkan permukaan dinding dari debu , kotoran dan bekas percikan plesteran dengan kain lap.
- Lindungi bahan – bahan / pekerjaan lain yang berbatasan dengan dinding yang akan dicat dengan kertas semen / koran dan lakban.
- Gunakan skrap untuk memperbaiki bagian – bagian dinding yang retak & kurang rata dengan plamir, kemudian tunggu sampai kering.
- Haluskan plamir yang telah kering dengan amplas hingga rata.
- Cek, kerataan permukaan dinding.
- Jika permukaan sudah rata, maka lakukan pengecatan dasar dengan alat rol pada bidang yang luas & dengan kwas untuk bidang yang sempit ( sulit ).
- Jika cat dasar tersebut sudah kering, lakukan pengecatan finish yang pertama.
- Jika cat finish yang pertama sudah kering, lakukan pengecatan finish yang kedua / terakhir ( jumlah pelapisan cat sesuai dengan spesifikasi ).
- Cek kerataan pengecatan yang terakhir.
- Apabila sudah rata, bersihkan cat – cat yang mengotori bahan – bahan / pekerjaan lain yang seharusnya tidak terkena cat dengan kain lap.
MPB*2
Didalam Pelaksanaan Proyek, metode pelaksanaan sangat penting
dilaksanakan, hal ini untuk mengetahui pekerjaan mana yang harus segera
dilakukan, dengan demikian waktu pelaksanaan bisa tercapai seperti yang
telah ditentukan. Pekerjaan dapat dilaksanakan dengan tahapan dan
langkah-langkah pekerjaan sebagai berikut :
A. Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan ini dilaksanakan sebelum pekerjaan yang lain dilaksanakan dengan terlebih dahulu melakukan :
1. Pembersihan lokasi disekeliling areal pekerjaan yang akan dikerjakan dengan menggunakan Greader.
2. Pengukuran/ Pemasangan Bowplank harus dilakukan dengan alat ukur, sehingga dapat terjamin tegak lurus terhadap sumbu X, tiang bowplank terbuat dari kayu dan pada posisi atasnya dipasang waterpass.
3. Pengadaan P3K dan obat – obatan dalm melaksanakan pekerjaan pembangunan
4. Administrasi dokumentasi, bahan dan peralatan kelapangan pekerjaan.
5. Pembuatan bangsal kerja untuk para pekerja.
B. Pekerjaan Jalan
Pekerjaan yang akan dilaksanakan pada pekerjaan ini harus diperhitungkan jenis tanah yang dijumpai dilapangan seperti tanah pasir, gambut, tanah keras (batuan), tanah liat dan lain sebagainya,.
1. Timbunan LPA.
Bahan timbunan LPA yang dipergunakan sesuai dengan petunjuk direksi dan dikerjaan sesuai dengan gambar rencana, Bahan timbunan ini diperoleh dari tempat pengambilan tanah yang disetujui oleh Direksi. Timbunan ini dipadatkan lapis demi lapis dengan menggunakan stamper atau mesin gilas sehingga mencapai kepadatan yang cukup sesuai dengan persyaratan yang diinginkan. Pemadatan ini dilakukan dari tepi menggeser ketengah, berjalan paralel dengan as jalan dan diusahakan berjalan terus tanpa berhenti sampai seluruh permukaan dipadatkan.
2. Bahu Jalan Pengurugan bekas galian pondasi diurug lapis demi lapis dan dipadatkan dengan mengunakan alat tumbuk.
3. Pengurugan tanah dibawah lantai dilakukan lapis demi lapis, urugan ditumbuk hingga hingga ketebalan yang cukup.
4. Pengurugan dengan pasir dibawah lantai dilakukan dengan pasir pasangan dan pemadatan, ini dilakukan dengan menyiram air hingga jenuh, kemudian ditumbuk dengan alat yang sesuai untuk pemadatan.
C. Pekerjaan Pasangan dan Pondasi
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah pekerjaan galian selesai dilaksanakan dan dimensi pondasi dilakukan sesuai dengan gambar, dibawah dasar pondasi didasari dengan dengan pasir pasang dan dipadatkan, diatas pasir dipasang aanstamping, pondasi batu gunung/batu belah, yang terdiri dari pasangan batu gunung dan pasir pasang (Pasangan Batu Kosong) sebelum dilakukan pengecoran terlebih dahulu dibuat papan cetakan untuk pondasi, Campuran yang digunakan untuk adukan Cyclopen dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi teknis.
D. Pekerjaan beton bertulang dan tak bertulang.
Besi beton yang digunakan adalah baja lunak denga mutu U 24, daya lekat baja tulangan harus dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya, Cetakan dan acuan beton yang digunakan harus bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai yang telah ditentukan.
Mutu beton yang dipergunakan sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
Pekerjaan pasangan bata dilaksanakan setelah pekerjaan pondasi dan kolom selesai dilaksanakan, adukan pasangan harus dibuat menurut spesifikasi dan pasangan ½ bata yang dimulai diatas sloff sampai setinggi 20 cm dari lantai
Pekerjaan Plasteran dilakukan pada seluruh pasangan batu bata yang telah dipasang, beton bertulang, dan saluran keliling bangunan. Pekerjaan plasteran baru boleh dilaksanakan setelah pekerjaan penutup atap selesai dipasang dan pipa – pipa listrik selesai dipasang.
D. Pekerjaan Kayu.
Pekerjaan Kosen pintu dan jendela.
Pekerjaan ini dilakukan sejalan dengan pekerjaan pasangan bata, semua bidang kozen yang bersinggungan dengan dinding /beton dibuat alur. Konstruksi sambungan kayu haru srapi dan tidak longgar perkuatan.
Pekerjaan kuda – kuda dilaksanakan setelah semua pekerjaan bagian beton bertulang dan pasangan dinding selesai dilaksanakan, semua kayu untuk kuda – kuda diawetkan dengan residu kuda – kuda..Sambungan kayu kuda – kuda harus dibuat rapi dan tidak longgar perkuatan.
E. Pekerjaan Penutup Atap.
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah perkayuan kuda – kuda selesai dilaksanakan, dengan menutup semua bidang atap bangunan, pemasangan seng saat pelaksanaan dikerjakan tanpa banyak sambungan seng, dan dipaku khusus, jenis seng yang digunakan sesuai dengan spesifikasi dan desin yang telah ditetapkan.
F. Pekerjaan Langit-langit
Pekerjaan yang dilaksanakan untuk menutup langit-langit dilaksanakan setelah pekerjaan penutup atap selesai dilaksanakan, rangka langit-langit induk dipasang dengan urutan pertama, yang dipakukan pada gapit kuda – kuda (balok tarik), rangka ini kemudian dipakai penggantung dari papan berkualitas terbaik kekiri kuda – kuda dan gording
G. Pekerjaan Lantai
Sebelum lantai dipasang, harus terlebih dahulu memeriksa semua pasangan pipa-pipa, saluran-saluran dan lain sebagainya yang sudah harus terpasang dengan baik, sebelum pemasangan lantai dimulai terlebih dahulu ditentukan peil lantai dengan menggunakan waterpass.
Adukan beton dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditentukan, adukan untuk lantai harus benar benar padat, hal ini untuk menghindari terdapatnya rongga-rongga hingga melemahkan konstruksi.
K Pekerjaan Pengecatan
· Pekerjaan pengecatan dilaksanakan setelah pemasangan plafond.
· Pekerjaan meni harus betul-betul rata dan berwarna sama.
· Pengecatan dinding harus dilakukan terlebih dahulu dengan meggosok dinding sampai rata dan halus kemudian dilap hingga bersih, pengecatan dipoles dengan rata.
· Pengecatan plafond dilaksanakan dengan terlebih dahulu membersihkan bidang plafond yang akan dicat, pengecatan dilakukan sebanyak 3 lapis.
· Pengecatan kozen pintu dan jendela dilaksanakan setelah semua kozen., pintu dan jendela di gosok permukaannya sampai halus dengan menggunakan cat minyak, pelapisan cat cat dikakukan hingga cat benar-benar merata.
H. Pekerjaan Instalsi Listrik
Pekerjaan instalasi listrik dilaksanakan setelah pekerjaan dinding dan pekerjaan penutup rangka atap dan langit-langit, yang meliputi seluruh pemasangan instalasi didalam bangunan, pemasukan arus yang bersumber dari instalasi PLN jumlah titik lampu dan stop kontak yang harus dipasang disesuaikan dengan jumlah yang tertera dalam gambar. Titik lampu dan Stop Kontak mengandung maksud tempat mata lampu dan stop kontak yang telah dipasang kabel-kabel diperlukan, sehingga arus listrik sudah berfungsi pada titik tersebut.
I. Pekerjaan Pengunci dan penggantung.
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah semua pintu dn jemdela sudah terpasang, pengunci dan penggantung dipasang pada semua pintu dan jendela, selanjut nya pada jendela dipasang grendel dan hak angin.
J. Pekerjaan Pemipaan dan Perlengkapan sanitasi
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pembuatan unit saluran pembuangan air kotor, air bersih, air hujan dan toren, pemasangan pipa pipa didalam bangunan dipasang didalam dinding. Pasangan pipa – pipa tersebut harus vertikal dan horizontal dan vertikal serta tidak boleh miring.
K. Pekerjaan Finishing.
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah semua pekerjaan selesai dilaksanakan, sebelum dilakukan serah terima, loaksi pekerjaan harus sudah bersih dari berbagai macam tumpukan bekas material dan bangsal kerja juga harus dibongkar.
A. Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan ini dilaksanakan sebelum pekerjaan yang lain dilaksanakan dengan terlebih dahulu melakukan :
1. Pembersihan lokasi disekeliling areal pekerjaan yang akan dikerjakan dengan menggunakan Greader.
2. Pengukuran/ Pemasangan Bowplank harus dilakukan dengan alat ukur, sehingga dapat terjamin tegak lurus terhadap sumbu X, tiang bowplank terbuat dari kayu dan pada posisi atasnya dipasang waterpass.
3. Pengadaan P3K dan obat – obatan dalm melaksanakan pekerjaan pembangunan
4. Administrasi dokumentasi, bahan dan peralatan kelapangan pekerjaan.
5. Pembuatan bangsal kerja untuk para pekerja.
B. Pekerjaan Jalan
Pekerjaan yang akan dilaksanakan pada pekerjaan ini harus diperhitungkan jenis tanah yang dijumpai dilapangan seperti tanah pasir, gambut, tanah keras (batuan), tanah liat dan lain sebagainya,.
1. Timbunan LPA.
Bahan timbunan LPA yang dipergunakan sesuai dengan petunjuk direksi dan dikerjaan sesuai dengan gambar rencana, Bahan timbunan ini diperoleh dari tempat pengambilan tanah yang disetujui oleh Direksi. Timbunan ini dipadatkan lapis demi lapis dengan menggunakan stamper atau mesin gilas sehingga mencapai kepadatan yang cukup sesuai dengan persyaratan yang diinginkan. Pemadatan ini dilakukan dari tepi menggeser ketengah, berjalan paralel dengan as jalan dan diusahakan berjalan terus tanpa berhenti sampai seluruh permukaan dipadatkan.
2. Bahu Jalan Pengurugan bekas galian pondasi diurug lapis demi lapis dan dipadatkan dengan mengunakan alat tumbuk.
3. Pengurugan tanah dibawah lantai dilakukan lapis demi lapis, urugan ditumbuk hingga hingga ketebalan yang cukup.
4. Pengurugan dengan pasir dibawah lantai dilakukan dengan pasir pasangan dan pemadatan, ini dilakukan dengan menyiram air hingga jenuh, kemudian ditumbuk dengan alat yang sesuai untuk pemadatan.
C. Pekerjaan Pasangan dan Pondasi
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah pekerjaan galian selesai dilaksanakan dan dimensi pondasi dilakukan sesuai dengan gambar, dibawah dasar pondasi didasari dengan dengan pasir pasang dan dipadatkan, diatas pasir dipasang aanstamping, pondasi batu gunung/batu belah, yang terdiri dari pasangan batu gunung dan pasir pasang (Pasangan Batu Kosong) sebelum dilakukan pengecoran terlebih dahulu dibuat papan cetakan untuk pondasi, Campuran yang digunakan untuk adukan Cyclopen dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi teknis.
D. Pekerjaan beton bertulang dan tak bertulang.
Besi beton yang digunakan adalah baja lunak denga mutu U 24, daya lekat baja tulangan harus dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya, Cetakan dan acuan beton yang digunakan harus bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai yang telah ditentukan.
Mutu beton yang dipergunakan sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
Pekerjaan pasangan bata dilaksanakan setelah pekerjaan pondasi dan kolom selesai dilaksanakan, adukan pasangan harus dibuat menurut spesifikasi dan pasangan ½ bata yang dimulai diatas sloff sampai setinggi 20 cm dari lantai
Pekerjaan Plasteran dilakukan pada seluruh pasangan batu bata yang telah dipasang, beton bertulang, dan saluran keliling bangunan. Pekerjaan plasteran baru boleh dilaksanakan setelah pekerjaan penutup atap selesai dipasang dan pipa – pipa listrik selesai dipasang.
D. Pekerjaan Kayu.
Pekerjaan Kosen pintu dan jendela.
Pekerjaan ini dilakukan sejalan dengan pekerjaan pasangan bata, semua bidang kozen yang bersinggungan dengan dinding /beton dibuat alur. Konstruksi sambungan kayu haru srapi dan tidak longgar perkuatan.
Pekerjaan kuda – kuda dilaksanakan setelah semua pekerjaan bagian beton bertulang dan pasangan dinding selesai dilaksanakan, semua kayu untuk kuda – kuda diawetkan dengan residu kuda – kuda..Sambungan kayu kuda – kuda harus dibuat rapi dan tidak longgar perkuatan.
E. Pekerjaan Penutup Atap.
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah perkayuan kuda – kuda selesai dilaksanakan, dengan menutup semua bidang atap bangunan, pemasangan seng saat pelaksanaan dikerjakan tanpa banyak sambungan seng, dan dipaku khusus, jenis seng yang digunakan sesuai dengan spesifikasi dan desin yang telah ditetapkan.
F. Pekerjaan Langit-langit
Pekerjaan yang dilaksanakan untuk menutup langit-langit dilaksanakan setelah pekerjaan penutup atap selesai dilaksanakan, rangka langit-langit induk dipasang dengan urutan pertama, yang dipakukan pada gapit kuda – kuda (balok tarik), rangka ini kemudian dipakai penggantung dari papan berkualitas terbaik kekiri kuda – kuda dan gording
G. Pekerjaan Lantai
Sebelum lantai dipasang, harus terlebih dahulu memeriksa semua pasangan pipa-pipa, saluran-saluran dan lain sebagainya yang sudah harus terpasang dengan baik, sebelum pemasangan lantai dimulai terlebih dahulu ditentukan peil lantai dengan menggunakan waterpass.
Adukan beton dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi teknis yang telah ditentukan, adukan untuk lantai harus benar benar padat, hal ini untuk menghindari terdapatnya rongga-rongga hingga melemahkan konstruksi.
K Pekerjaan Pengecatan
· Pekerjaan pengecatan dilaksanakan setelah pemasangan plafond.
· Pekerjaan meni harus betul-betul rata dan berwarna sama.
· Pengecatan dinding harus dilakukan terlebih dahulu dengan meggosok dinding sampai rata dan halus kemudian dilap hingga bersih, pengecatan dipoles dengan rata.
· Pengecatan plafond dilaksanakan dengan terlebih dahulu membersihkan bidang plafond yang akan dicat, pengecatan dilakukan sebanyak 3 lapis.
· Pengecatan kozen pintu dan jendela dilaksanakan setelah semua kozen., pintu dan jendela di gosok permukaannya sampai halus dengan menggunakan cat minyak, pelapisan cat cat dikakukan hingga cat benar-benar merata.
H. Pekerjaan Instalsi Listrik
Pekerjaan instalasi listrik dilaksanakan setelah pekerjaan dinding dan pekerjaan penutup rangka atap dan langit-langit, yang meliputi seluruh pemasangan instalasi didalam bangunan, pemasukan arus yang bersumber dari instalasi PLN jumlah titik lampu dan stop kontak yang harus dipasang disesuaikan dengan jumlah yang tertera dalam gambar. Titik lampu dan Stop Kontak mengandung maksud tempat mata lampu dan stop kontak yang telah dipasang kabel-kabel diperlukan, sehingga arus listrik sudah berfungsi pada titik tersebut.
I. Pekerjaan Pengunci dan penggantung.
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah semua pintu dn jemdela sudah terpasang, pengunci dan penggantung dipasang pada semua pintu dan jendela, selanjut nya pada jendela dipasang grendel dan hak angin.
J. Pekerjaan Pemipaan dan Perlengkapan sanitasi
Pekerjaan ini meliputi pekerjaan pembuatan unit saluran pembuangan air kotor, air bersih, air hujan dan toren, pemasangan pipa pipa didalam bangunan dipasang didalam dinding. Pasangan pipa – pipa tersebut harus vertikal dan horizontal dan vertikal serta tidak boleh miring.
K. Pekerjaan Finishing.
Pekerjaan ini dilaksanakan setelah semua pekerjaan selesai dilaksanakan, sebelum dilakukan serah terima, loaksi pekerjaan harus sudah bersih dari berbagai macam tumpukan bekas material dan bangsal kerja juga harus dibongkar.
metode pelaksanaan bangunan *1
I. PEKERJAAN PERSIAPAN
Pekerjaan Persiapan ini adalah pekerjaan yang harus dilakukan sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan. Adapun yang termasuk dalam pekerjaan persiapan adalah :
a) Pembersihan Lapangan
Tahap Pertama yang dilakukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah membersihkan areal pekerjaan sesuai dengan volume yang ada dengan cara membersihkan sampah-sampah/kotoran yang ada disekitar lokasi agar dalam pelaksanaan pekerjaan nantinya tidak ada kendala.
b) Pembuatan Direksi Keet/Gudang
Tahap Kedua adalah Pembuatan Direksi Keet/Gudang. Direksi Keet/Gudang ini adalah bangunan sementara dari kayu yang dibangun sebagai tempat penyimpanan bahan/material yang akan digunakan, tempat rapat/koordinasi lapangan antara pelaksana, konsultan perencana, konsultan pengawas dan instansi terkait baik rutin ataupun koordinasi yang sifatnya mendadak dan sebagai tempat peristirahatan para pekerja.
c) Pemasangan Bouwplank/Pengukuran
Tahap Ketiga adalah pemasangan Bouwplank/Pengukuran dari papan dan kayu 5/7, untuk papan diketam halus atau lurus pada sisi atasnya dan dipasang Waterpass (timbang air) dengan sudut-sudutnya yang siku. Pekerjaan ini dilakukan adalah untuk menentukan dimana lokasi pembangunan yang akan dilaksanakan nantinya dan juga dalam pekerjaan ini akan ditentukan ketinggian lantai yang akan dilaksanakan. Pemasangan Bouwplank/Pengukuran ini dilakukan bersama-sama dengan Pemilik Proyek, Pelaksana Proyek, Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan Instansi Lain yang terkait.
II. PEKERJAAN TANAH
a) Pekerjaan Galian Tanah Pondasi
Pekerjaan ini adalah menggali tanah untuk perletakan titik pondasi tapak yang akan dikerjakan sesuai dengan volume yang tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya. Galian pondasi dilaksanakan setelah pasang bowplank dengan penandaan sumbu ke sumbu selesai diperiksa dan disetujui Konsultan Pengawas.Bentuk galian dilaksanakan sesuai dengan ukuran yang tertera dalam gambar. Apabila ditempat galian ditemukan pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, telepon atau lainnya yang masih berfungsi, maka secepatnya memberitahukan kepada Konsultan Pengawas atau kepada instansi yang berwenang untuk mendapat petunjuk seperlunya. Segala kerusakan yang diakibatkan pekerjaan galian tersebut diperbaiki segera. Apabila pada waktu penggalian ditemukan benda-benda purbakala, maka segera melaporkannya kepada Pemerintah Daerah setempat. Bila penggalian melebihi kedalaman yang telah ditentukan dalam gambar, maka segera mengisi kelebihan galian tersebut dengan pasir urug.
b) Pekerjaan Urugan bekas galian
Pekerjaan urugan bekas galian dilakukan setelah tanah bekas galian tadi disemprotkan bahan kimia STEDFAST 15 EC. Pengurugan bekas galian pondasi diurug lapis demi lapis dengan ketebalan tiap lapis maksimum 15 cm. Tiap lapisan dipadatkan dengan menumbuk lapisan tersebut, menggunakan alat tumbuk yang baik. Setelah lapisan pertama padat, ditimbun dengan lapisan berikutnya dan dipadatkan kembali seperti diatas. Demikian seterusnya dilakukan sampai semua lubang bekas galian pondasi tertutup kembali. Pengurugan dengan tanah timbunan dibawah lantai dilakukan lapis demi lapis hingga ketebalan 10 cm dibawah lantai, ditumbuk hingga padat. Lapisan-lapisan urugan untuk ditumbuk ini dibuat maksimal 10 cm.
Pelaskanaan Rehab Pintu, Jendela dan KM/Wc
Ø Tahap Pertama dari pekerjaan ini adalah membongkar Pintu, jendela dan kM/Wc lama dengan cara membobok dinding yang ada dengan alat seperti cangkul burung, palu besar ataupun cangkul sesuai dengan volume yang tercantum dalam RAB dan Gambar. Setelah itu bekas bongkaran dibersihkan dan diratakan dengan urugan pasir serta dipadatkan.
Ø Tahap Kedua dari pekerjaan ini adalah Melaksanakan Pengecoran dengan perbandingan adukan bahan 1 Pc ; 3 Ps : 5 Kr dengan ketebalan maksimal 10 cm. Sebelum pengecoran dimulai, ramp harus diwaterpass dengan benar kemiringannya agar hasil pengecoran tidak bergelombang.
Ø Tahap Ketiga dari pekerjaan ini adalah Pemasangan Pintu, Jendela dan Km/Wc. Setelah pengecoran selesai dan sudah kering pada pekerjaan
Pelaksanaan Rehab Lantai
Ø Tahap Pertama dari pekerjaan ini adalah membongkar lantai keramik yang lama dengan cara membobok keramik yang ada dengan alat seperti cangkul burung, palu besar ataupun cangkul sesuai dengan volume yang tercantum dalam RAB dan Gambar. Setelah itu bekas bongkaran dibersihkan dan diratakan dengan urugan pasir serta dipadatkan.
Ø Tahap Kedua dari pekerjaan ini adalah Melaksanakan Pengecoran Lantai dengan perbandingan adukan bahan 1 Pc ; 3 Ps : 5 Kr dengan ketebalan maksimal 10 cm. Sebelum pengecoran dimulai, lantai harus diwaterpass dengan benar agar hasil pengecoran tidak bergelombang.
Ø Tahap Ketiga dari pekerjaan ini adalah Pemasangan Keramik Lantai ukuran 30cm x 30cm. Setelah pengecoran selesai dan sudah kering pekerjaan terakhir adalah pemasangan keramik lantai. Keramik lantai yang digunakan adalah keramik ukuran 30cm x 30cm dengan permukaan keramik rata. Seperti pengecoran, dalam pemasangan keramik juga harus diwaterpass agar keramik yang dipasang hasilnya tidak bergelombang.
Ø Setelah semua selesai barulah dilakukan pembersihan areal pekerjaan
Pedoman Pelaksanaan
Ø Sebelum melaksanakan pengecoran beton pada bahagian utama dari konstruksi, maka terutama akan memberitahukan Pemberi Tugas untuk mendapat persetujuan.
Ø Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat-syarat, maka sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Akan segera melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas apabila ada perbedaan yang didapat dalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur,
Ø Adukan Beton
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat pengecoran dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan Pengawas, yaitu : Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan. Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton memenuhi Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Perawatan Beton
Beton yang sudah dicor dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk paling sedikit 21 hari. Untuk keperluan tersebut ditetapkan cara sebagai berikut : Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup beton. Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat, segera dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya menurut perintah Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki.
III. PEKERJAAN BETON BERTULANG
Pekerjaan Tiang Diatas Pondasai tapak
Setelah semua pondasi Tapak selesai dicor dan bekisting dapat dibuka, pekerjaan selanjutnya adalah pekerjaan Tiang Diatas Pondasi Tapak.. Setelah semua bekisting untuk masing-masing type Tiang Diatas Pondasi tapak selesai dipasang dan semua penampang Tiang Diatas Pondasi tapak selesai dirakit serta telah disetujui oleh Direksi maka pekerjaan pengecoran dapat dilaksanakan sesuai persyaratan sebagai berikut :
Mutu Beton
Ø Mutu Beton yang dipakai untuk pekerjaan sloof ini adalah mutu beton K225.
Bahan
Ø Semen
Semen yang digunakan adalah Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak dipakai sebagai bahan campuran. Penyimpanan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk akan dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
Ø Pasir beton
Pasir beton berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Kerikil
Kerikil yang digunakan yang bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03. Penimbunan kerikil dengan pasir dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin aduk beton dengan komposisi material yang tepat.
Ø A i r
Air yang digunakan air tawar, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini akan dipakai air yg dapat diminum.
Ø Besi Beton
Besi beton yang digunakan adalah besi beton ulir ukuran Ø18mm untuk tulangan dan Ø10mm untuk begel dengan mutu yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang ada. Daya lekat baja tulangan dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya. Besi beton disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak disimpan diudara terbuka dalam jangka waktu panjang. Membengkok dan meluruskan tulangan dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan meminta persetujuan Konsultan Pengawas terlebih dahulu. Jika dipasaran tidak ada diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan ada persetujuan Konsultan Pengawas. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak akan kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas).
Ø Cetakan (Bekisting)
Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian pekerjaan. Pembuatan cetakan dan acuan dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan didalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Pedoman Pelaksanaan
Ø Sama seperti dalam pedoman pelakasanaan Pekerjaan Pondasi, sebelum melaksanakan pengecoran beton pada bahagian utama dari konstruksi, maka terutama akan memberitahukan Pemberi Tugas untuk mendapat persetujuan.
Ø Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat-syarat, maka sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Akan segera melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas apabila ada perbedaan yang didapat dalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur,
Ø Adukan Beton
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat pengecoran dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan Pengawas, yaitu : Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan. Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton memenuhi Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Perawatan Beton
Beton yang sudah dicor dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk paling sedikit 21 hari. Untuk keperluan tersebut ditetapkan cara sebagai berikut : Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup beton. Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat, segera dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya menurut perintah Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki.
Pekerjaan Sloof
Setelah semua Tiang Diatas Pondasi Tapak selesai dicor dan bekisting dapat dibuka, pekerjaan selanjutnya adalah pekerjaan Sloof. Sloof yang digunakan dalam pekerjaan ini terdiri dari 3 ukuran penampang sloof yaitu : Sloof 40/60, Sloof 25/40 dan Sloof 20/30. Setelah semua bekisting untuk masing-masing type sloof selesai dipasang dan semua penampang sloof selesai dirakit serta telah disetujui oleh Direksi maka pekerjaan pengecoran dapat dilaksanakan sesuai persyaratan sebagai berikut :
Mutu Beton
Ø Mutu Beton yang dipakai untuk pekerjaan sloof ini adalah mutu beton K225.
Bahan
Ø Semen
Semen yang digunakan adalah Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak dipakai sebagai bahan campuran. Penyimpanan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk akan dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
Ø Pasir beton
Pasir beton berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Kerikil
Kerikil yang digunakan yang bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03. Penimbunan kerikil dengan pasir dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin aduk beton dengan komposisi material yang tepat.
Ø A i r
Air yang digunakan air tawar, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini akan dipakai air yg dapat diminum.
Ø Besi Beton
Besi beton yang digunakan adalah besi beton ulir ukuran Ø18mm untuk tulangan dan Ø10mm untuk begel dengan mutu yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang ada. Daya lekat baja tulangan dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya. Besi beton disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak disimpan diudara terbuka dalam jangka waktu panjang. Membengkok dan meluruskan tulangan dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan meminta persetujuan Konsultan Pengawas terlebih dahulu. Jika dipasaran tidak ada diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan ada persetujuan Konsultan Pengawas. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak akan kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas).
Ø Cetakan (Bekisting)
Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian pekerjaan. Pembuatan cetakan dan acuan dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan didalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Pekerjaan Kolom
Setelah semua Pondasi Tapak, Pondasi Relak, Pondasi batu Gunung, Tiang Diatas Pondasi Tapak dan Sloof selesai dicor dan bekisting dapat dibuka, pekerjaan beton bertulang terakhir dari paket ini adalah pekerjaan Kolom untuk tribun. Dimensi penampang untuk kolom ini adalah 50/80 dengan ketinggian 2,25m. Setelah semua bekisting terpasanga dengan baik dan telah diperiksa dan disetujui oleh Direksi maka pekerjaan pengecoran dapat dilaksanakan sesuai persyaratan sebagai berikut :
Mutu Beton
Ø Mutu Beton yang dipakai untuk pekerjaan sloof ini adalah mutu beton K225.
Bahan
Ø Semen
Semen yang digunakan adalah Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak dipakai sebagai bahan campuran. Penyimpanan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk akan dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
Ø Pasir beton
Pasir beton berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Kerikil
Kerikil yang digunakan yang bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03. Penimbunan kerikil dengan pasir dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin aduk beton dengan komposisi material yang tepat.
Ø A i r
Air yang digunakan air tawar, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini akan dipakai air yg dapat diminum.
Ø Besi Beton
Besi beton yang digunakan adalah besi beton ulir ukuran Ø18mm untuk tulangan dan Ø10mm untuk begel dengan mutu yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang ada. Daya lekat baja tulangan dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya. Besi beton disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak disimpan diudara terbuka dalam jangka waktu panjang. Membengkok dan meluruskan tulangan dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan meminta persetujuan Konsultan Pengawas terlebih dahulu. Jika dipasaran tidak ada diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan ada persetujuan Konsultan Pengawas. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak akan kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas).
Ø Cetakan (Bekisting)
Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian pekerjaan. Pembuatan cetakan dan acuan dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan didalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Pedoman Pelaksanaan
Ø Sama seperti dalam pedoman pelakasanaan Pekerjaan Pondasi, sebelum melaksanakan pengecoran beton pada bahagian utama dari konstruksi, maka terutama akan memberitahukan Pemberi Tugas untuk mendapat persetujuan.
Ø Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat-syarat, maka sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Akan segera melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas apabila ada perbedaan yang didapat dalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur,
Ø Adukan Beton
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat pengecoran dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan Pengawas, yaitu : Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan. Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton memenuhi Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Perawatan Beton
Beton yang sudah dicor dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk paling sedikit 21 hari. Untuk keperluan tersebut ditetapkan cara sebagai berikut : Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup beton. Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat, segera dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya menurut perintah Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki.
IV. PEKERJAAN PLESTERAN
Pekerjaan plesteran yang dilakukan pada pekerjaan ini adalah plesteran untuk pondasi relak dengan perbandingan 1Pc : 2 Ps dengan ketebalan 15 mm. Adapun persyaratn pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
Bahan
Ø Semen
Semen yang digunakan adalah Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak dipakai sebagai bahan campuran. Penyimpanan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk akan dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
Ø Pasir beton
Pasir beton berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø A i r
Air yang digunakan air tawar, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini akan dipakai air yg dapat diminum.
Pedoman Pelaksanaan
Ø Sama seperti dalam pedoman pelakasanaan Pekerjaan Pondasi, sebelum melaksanakan pekerjaan haru memberitahukan Direksi untuk mendapat persetujuan.
Ø Membersihkan semua kolom dari kotoran-kotan yang akan mengganggu pelaksanaan pekerjaan plesteran.
Ø Sebelum melakukan plesteran kolom dibasahi dengan air dan air terserap dengan baik kedalam kolom.
Ø Ketebalan Plesteran harus sesuai dengan spesifikasi teknis dan plesteran yang tidak sempurna dilaksanakan harus dibongkar dan diplester kembali.
Ø Hasil plesteran harus dijaga kelembabannya selama kurang lebih 7 ( tujuh) hari dari masa pekerjaan plesteran
Pedoman Pelaksanaan Lantai
Ø Dibawah lantai, sub lapisan kerikil yang padat (8-16 mm) dengan ketebalan minimal 5 cm harus dihamparkan guna menghindari lembab dibawah lantai.
Ø Untuk pekerjaan pengecoran lantai cor dipakai campuran 1 Pc : 3 Ps : 6 Kr dengan ketebalan 15 cm dan Aci halus permukaannya.
Ø Untuk beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 6 Kr dan diplester dengan campuran 1 Pc : 3 Ps.
Pelaksanaan Kusen, Pintu dan Jendela
Ø Seluruh kusen, pintu dan jendela terbuat dari kayu kelas I dan legal sertifikasi ukuran sesuai gambar dari jenis yang cukup baik, tua, bersih dan kering dengan maksimum kelembaban 18 % serta tidak terdapat cacat kayu yang akan mengurangi kekuatan serta keindahan konstruksi.
Ø Pintu/jendela panel terbuat dari jenis kayu Meuranti yang cukup baik, sedangkan tebal pintu dan jendela t = 4 cm dengan bentuk dan ukuran sesuai gambar.
Ø Listplank dibuat dari papan yang berkualitas baik dengan ukuran 2,5/25 cm.
Ø Pintu dipasang dengan dua bua engsel secara baik, dimana tinggi antara lantai dengan pintu 1 cm.
Ø Setiap daun pintu dipasang dua buah engsel, dengan bukaan dua arah kesebelah kiri dan kanan.
Ø Kaca untuk jendela dipasang kaca polos tebal 5 mm. Pasangan kaca harus memperhatikan muai susut baik dari kusen, maupun bahan kaca tersebut.
Pelakanaan Atap
Ø Rangka atap (kuda-kuda, gording dan ikatan angin) seluruhnya menggunakan kayu kelas I yang bermutu baik dengna kelembaban maksimum 18 %, tidak ada celah atau rusak mengenai ukuran penempatan sesuai dengan gambar bestek/detail.
Ø Seluruh atap yang dipasang pada bagnunan ini adalah atap genteng Rubitel.
Pelaksanaan Plafon
Ø Untuk plafon digunakan plafond tripleks 3 mm pada seluruh ruangan. Ukuran dan ketinggian sesuai dengan gambar bestek/detail.
Ø Rangka langit-langit induk memakai kayu kelas II ukuran 5/10 cm kualitas yang baik. Rangka pembagi menggunakan kayu kelas II ukuran 5/7 cm.
Ø Sambungan antar tripleks dipasang lat kayu kelas II dengan ukuran 1/3 cm, termasuk pada bagian pinggir yang berhubungan dengan dinding.
Pekerjaan Instalasi Listrik
Ø Pemasangan instalasi listrik disesuaikan dengan gambar detail atau petunjuk dari direksi/pengawas lapangan.
Ø Kabel listrik dipasang dalam pipa plastic dari PVC guna menghindari kecelakaan.
Pelaksana Sanitair
Ø Untuk instalasi air kotor digunakan pipa PVC 3”, pemasangan harus rapi dan teratur sesuai gambar detail dengan kemiringan minimum 3%. Kontraktor harus menyediakan seluruh kebutuhan pelengkap/accessories. Pipa PVC harus disambung dengan baik untuk menghindari kebocoran.
Ø Untuk instalasi air bersih digunakan pipa PVC ½” termasuk seluruh accessories disediakan oleh kontraktor, pemasangan harus rapi dan teratur sesuai gambar detail. Pipa PVC harus disambung dengan baik untuk menghindari kebocoran.
Ø Untuk pemasangan kloset, kran air kondisi (tidak berkarat), floor drain dan sebagainya dipakai merk KIA atau yang sejenis disediakan oleh kontraktor. Warna sesuai pilihan pemilik.
Pelaksanaan Pengecetan
Ø Pengecetan dilaksanakan pada semua bidang permukaan kayu yang tampak, dimana sebelum pengecetan permukaan kayu harus dibersihkan dan digosok dengan kertas amplas dan pada bagian yang berlobang harus didempul atau diplamur, setelah kering lalu dogosok hingga rata kemudian di cat dasar sampai rata satu kali baru dengan cat berkualitas baik (sesuai pilihan pemilik) minimal 2 lapisan.
Ø Seluruh permukaan bidang-bidang tembok/ beton yang tang tampak harus dilabur dengan cat tembok 2-3 lapisan, pengecetan dilakukan pada permukaan dinding yang kering dan telah diplaster. Lapisan plaster dihaluskan, dibersihkan dan diratakan. Sebelum permukaan tembok dicat, permukaan bidang tersebut harus didempul dengan plamur yang dicampur dengan semen putih 25 % berat. Setelah dempul kering kemudian diamplas barulah dicat dasar 1 (satu) kali hingga rata benar. Untuk warna cat akan ditentukan oleh pihak direksi dimana pengecetannya dilakukan sebanyak 2-3 kali.
Pelaksanaan Finishing dan Lain-Lain
Ø Suatu keharusan bagi kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan semua standard yang disebutkan.
Ø Setiap saat selama masa pekerjaan konstruksi, kontraktor senantiasa diwajibkan untuk menjaga kebersihan lahan dari sisa-sisa bahan bangunan dan kotoran bekas. Sebelum serah terima kepada Direksi/ Sponsor Proyek, kontraktor membersihkan seluruh bangunan dengan baik, dan siap digunakan.
Pekerjaan Persiapan ini adalah pekerjaan yang harus dilakukan sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan. Adapun yang termasuk dalam pekerjaan persiapan adalah :
a) Pembersihan Lapangan
Tahap Pertama yang dilakukan dalam pelaksanaan pekerjaan ini adalah membersihkan areal pekerjaan sesuai dengan volume yang ada dengan cara membersihkan sampah-sampah/kotoran yang ada disekitar lokasi agar dalam pelaksanaan pekerjaan nantinya tidak ada kendala.
b) Pembuatan Direksi Keet/Gudang
Tahap Kedua adalah Pembuatan Direksi Keet/Gudang. Direksi Keet/Gudang ini adalah bangunan sementara dari kayu yang dibangun sebagai tempat penyimpanan bahan/material yang akan digunakan, tempat rapat/koordinasi lapangan antara pelaksana, konsultan perencana, konsultan pengawas dan instansi terkait baik rutin ataupun koordinasi yang sifatnya mendadak dan sebagai tempat peristirahatan para pekerja.
c) Pemasangan Bouwplank/Pengukuran
Tahap Ketiga adalah pemasangan Bouwplank/Pengukuran dari papan dan kayu 5/7, untuk papan diketam halus atau lurus pada sisi atasnya dan dipasang Waterpass (timbang air) dengan sudut-sudutnya yang siku. Pekerjaan ini dilakukan adalah untuk menentukan dimana lokasi pembangunan yang akan dilaksanakan nantinya dan juga dalam pekerjaan ini akan ditentukan ketinggian lantai yang akan dilaksanakan. Pemasangan Bouwplank/Pengukuran ini dilakukan bersama-sama dengan Pemilik Proyek, Pelaksana Proyek, Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan Instansi Lain yang terkait.
II. PEKERJAAN TANAH
a) Pekerjaan Galian Tanah Pondasi
Pekerjaan ini adalah menggali tanah untuk perletakan titik pondasi tapak yang akan dikerjakan sesuai dengan volume yang tercantum dalam Rencana Anggaran Biaya. Galian pondasi dilaksanakan setelah pasang bowplank dengan penandaan sumbu ke sumbu selesai diperiksa dan disetujui Konsultan Pengawas.Bentuk galian dilaksanakan sesuai dengan ukuran yang tertera dalam gambar. Apabila ditempat galian ditemukan pipa-pipa pembuangan, kabel listrik, telepon atau lainnya yang masih berfungsi, maka secepatnya memberitahukan kepada Konsultan Pengawas atau kepada instansi yang berwenang untuk mendapat petunjuk seperlunya. Segala kerusakan yang diakibatkan pekerjaan galian tersebut diperbaiki segera. Apabila pada waktu penggalian ditemukan benda-benda purbakala, maka segera melaporkannya kepada Pemerintah Daerah setempat. Bila penggalian melebihi kedalaman yang telah ditentukan dalam gambar, maka segera mengisi kelebihan galian tersebut dengan pasir urug.
b) Pekerjaan Urugan bekas galian
Pekerjaan urugan bekas galian dilakukan setelah tanah bekas galian tadi disemprotkan bahan kimia STEDFAST 15 EC. Pengurugan bekas galian pondasi diurug lapis demi lapis dengan ketebalan tiap lapis maksimum 15 cm. Tiap lapisan dipadatkan dengan menumbuk lapisan tersebut, menggunakan alat tumbuk yang baik. Setelah lapisan pertama padat, ditimbun dengan lapisan berikutnya dan dipadatkan kembali seperti diatas. Demikian seterusnya dilakukan sampai semua lubang bekas galian pondasi tertutup kembali. Pengurugan dengan tanah timbunan dibawah lantai dilakukan lapis demi lapis hingga ketebalan 10 cm dibawah lantai, ditumbuk hingga padat. Lapisan-lapisan urugan untuk ditumbuk ini dibuat maksimal 10 cm.
Pelaskanaan Rehab Pintu, Jendela dan KM/Wc
Ø Tahap Pertama dari pekerjaan ini adalah membongkar Pintu, jendela dan kM/Wc lama dengan cara membobok dinding yang ada dengan alat seperti cangkul burung, palu besar ataupun cangkul sesuai dengan volume yang tercantum dalam RAB dan Gambar. Setelah itu bekas bongkaran dibersihkan dan diratakan dengan urugan pasir serta dipadatkan.
Ø Tahap Kedua dari pekerjaan ini adalah Melaksanakan Pengecoran dengan perbandingan adukan bahan 1 Pc ; 3 Ps : 5 Kr dengan ketebalan maksimal 10 cm. Sebelum pengecoran dimulai, ramp harus diwaterpass dengan benar kemiringannya agar hasil pengecoran tidak bergelombang.
Ø Tahap Ketiga dari pekerjaan ini adalah Pemasangan Pintu, Jendela dan Km/Wc. Setelah pengecoran selesai dan sudah kering pada pekerjaan
Pelaksanaan Rehab Lantai
Ø Tahap Pertama dari pekerjaan ini adalah membongkar lantai keramik yang lama dengan cara membobok keramik yang ada dengan alat seperti cangkul burung, palu besar ataupun cangkul sesuai dengan volume yang tercantum dalam RAB dan Gambar. Setelah itu bekas bongkaran dibersihkan dan diratakan dengan urugan pasir serta dipadatkan.
Ø Tahap Kedua dari pekerjaan ini adalah Melaksanakan Pengecoran Lantai dengan perbandingan adukan bahan 1 Pc ; 3 Ps : 5 Kr dengan ketebalan maksimal 10 cm. Sebelum pengecoran dimulai, lantai harus diwaterpass dengan benar agar hasil pengecoran tidak bergelombang.
Ø Tahap Ketiga dari pekerjaan ini adalah Pemasangan Keramik Lantai ukuran 30cm x 30cm. Setelah pengecoran selesai dan sudah kering pekerjaan terakhir adalah pemasangan keramik lantai. Keramik lantai yang digunakan adalah keramik ukuran 30cm x 30cm dengan permukaan keramik rata. Seperti pengecoran, dalam pemasangan keramik juga harus diwaterpass agar keramik yang dipasang hasilnya tidak bergelombang.
Ø Setelah semua selesai barulah dilakukan pembersihan areal pekerjaan
Pedoman Pelaksanaan
Ø Sebelum melaksanakan pengecoran beton pada bahagian utama dari konstruksi, maka terutama akan memberitahukan Pemberi Tugas untuk mendapat persetujuan.
Ø Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat-syarat, maka sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Akan segera melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas apabila ada perbedaan yang didapat dalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur,
Ø Adukan Beton
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat pengecoran dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan Pengawas, yaitu : Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan. Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton memenuhi Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Perawatan Beton
Beton yang sudah dicor dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk paling sedikit 21 hari. Untuk keperluan tersebut ditetapkan cara sebagai berikut : Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup beton. Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat, segera dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya menurut perintah Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki.
III. PEKERJAAN BETON BERTULANG
Pekerjaan Tiang Diatas Pondasai tapak
Setelah semua pondasi Tapak selesai dicor dan bekisting dapat dibuka, pekerjaan selanjutnya adalah pekerjaan Tiang Diatas Pondasi Tapak.. Setelah semua bekisting untuk masing-masing type Tiang Diatas Pondasi tapak selesai dipasang dan semua penampang Tiang Diatas Pondasi tapak selesai dirakit serta telah disetujui oleh Direksi maka pekerjaan pengecoran dapat dilaksanakan sesuai persyaratan sebagai berikut :
Mutu Beton
Ø Mutu Beton yang dipakai untuk pekerjaan sloof ini adalah mutu beton K225.
Bahan
Ø Semen
Semen yang digunakan adalah Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak dipakai sebagai bahan campuran. Penyimpanan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk akan dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
Ø Pasir beton
Pasir beton berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Kerikil
Kerikil yang digunakan yang bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03. Penimbunan kerikil dengan pasir dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin aduk beton dengan komposisi material yang tepat.
Ø A i r
Air yang digunakan air tawar, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini akan dipakai air yg dapat diminum.
Ø Besi Beton
Besi beton yang digunakan adalah besi beton ulir ukuran Ø18mm untuk tulangan dan Ø10mm untuk begel dengan mutu yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang ada. Daya lekat baja tulangan dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya. Besi beton disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak disimpan diudara terbuka dalam jangka waktu panjang. Membengkok dan meluruskan tulangan dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan meminta persetujuan Konsultan Pengawas terlebih dahulu. Jika dipasaran tidak ada diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan ada persetujuan Konsultan Pengawas. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak akan kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas).
Ø Cetakan (Bekisting)
Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian pekerjaan. Pembuatan cetakan dan acuan dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan didalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Pedoman Pelaksanaan
Ø Sama seperti dalam pedoman pelakasanaan Pekerjaan Pondasi, sebelum melaksanakan pengecoran beton pada bahagian utama dari konstruksi, maka terutama akan memberitahukan Pemberi Tugas untuk mendapat persetujuan.
Ø Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat-syarat, maka sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Akan segera melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas apabila ada perbedaan yang didapat dalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur,
Ø Adukan Beton
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat pengecoran dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan Pengawas, yaitu : Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan. Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton memenuhi Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Perawatan Beton
Beton yang sudah dicor dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk paling sedikit 21 hari. Untuk keperluan tersebut ditetapkan cara sebagai berikut : Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup beton. Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat, segera dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya menurut perintah Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki.
Pekerjaan Sloof
Setelah semua Tiang Diatas Pondasi Tapak selesai dicor dan bekisting dapat dibuka, pekerjaan selanjutnya adalah pekerjaan Sloof. Sloof yang digunakan dalam pekerjaan ini terdiri dari 3 ukuran penampang sloof yaitu : Sloof 40/60, Sloof 25/40 dan Sloof 20/30. Setelah semua bekisting untuk masing-masing type sloof selesai dipasang dan semua penampang sloof selesai dirakit serta telah disetujui oleh Direksi maka pekerjaan pengecoran dapat dilaksanakan sesuai persyaratan sebagai berikut :
Mutu Beton
Ø Mutu Beton yang dipakai untuk pekerjaan sloof ini adalah mutu beton K225.
Bahan
Ø Semen
Semen yang digunakan adalah Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak dipakai sebagai bahan campuran. Penyimpanan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk akan dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
Ø Pasir beton
Pasir beton berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Kerikil
Kerikil yang digunakan yang bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03. Penimbunan kerikil dengan pasir dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin aduk beton dengan komposisi material yang tepat.
Ø A i r
Air yang digunakan air tawar, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini akan dipakai air yg dapat diminum.
Ø Besi Beton
Besi beton yang digunakan adalah besi beton ulir ukuran Ø18mm untuk tulangan dan Ø10mm untuk begel dengan mutu yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang ada. Daya lekat baja tulangan dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya. Besi beton disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak disimpan diudara terbuka dalam jangka waktu panjang. Membengkok dan meluruskan tulangan dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan meminta persetujuan Konsultan Pengawas terlebih dahulu. Jika dipasaran tidak ada diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan ada persetujuan Konsultan Pengawas. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak akan kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas).
Ø Cetakan (Bekisting)
Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian pekerjaan. Pembuatan cetakan dan acuan dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan didalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Pekerjaan Kolom
Setelah semua Pondasi Tapak, Pondasi Relak, Pondasi batu Gunung, Tiang Diatas Pondasi Tapak dan Sloof selesai dicor dan bekisting dapat dibuka, pekerjaan beton bertulang terakhir dari paket ini adalah pekerjaan Kolom untuk tribun. Dimensi penampang untuk kolom ini adalah 50/80 dengan ketinggian 2,25m. Setelah semua bekisting terpasanga dengan baik dan telah diperiksa dan disetujui oleh Direksi maka pekerjaan pengecoran dapat dilaksanakan sesuai persyaratan sebagai berikut :
Mutu Beton
Ø Mutu Beton yang dipakai untuk pekerjaan sloof ini adalah mutu beton K225.
Bahan
Ø Semen
Semen yang digunakan adalah Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak dipakai sebagai bahan campuran. Penyimpanan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk akan dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
Ø Pasir beton
Pasir beton berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Kerikil
Kerikil yang digunakan yang bersih dan bermutu baik, serta mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03. Penimbunan kerikil dengan pasir dipisahkan agar kedua jenis material tersebut tidak tercampur untuk menjamin aduk beton dengan komposisi material yang tepat.
Ø A i r
Air yang digunakan air tawar, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini akan dipakai air yg dapat diminum.
Ø Besi Beton
Besi beton yang digunakan adalah besi beton ulir ukuran Ø18mm untuk tulangan dan Ø10mm untuk begel dengan mutu yang sesuai dengan spesifikasi teknis yang ada. Daya lekat baja tulangan dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan lainnya. Besi beton disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak disimpan diudara terbuka dalam jangka waktu panjang. Membengkok dan meluruskan tulangan dilakukan dalam keadaan batang dingin. Tulangan dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar dan meminta persetujuan Konsultan Pengawas terlebih dahulu. Jika dipasaran tidak ada diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan dalam gambar, maka dilakukan penukaran dengan diameter yang terdekat dengan catatan ada persetujuan Konsultan Pengawas. Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak akan kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yang dimaksud adalah jumlah luas).
Ø Cetakan (Bekisting)
Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan bermutu baik sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian pekerjaan. Pembuatan cetakan dan acuan dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan didalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Pedoman Pelaksanaan
Ø Sama seperti dalam pedoman pelakasanaan Pekerjaan Pondasi, sebelum melaksanakan pengecoran beton pada bahagian utama dari konstruksi, maka terutama akan memberitahukan Pemberi Tugas untuk mendapat persetujuan.
Ø Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat-syarat, maka sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Akan segera melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas apabila ada perbedaan yang didapat dalam gambar konstruksi dan gambar arsitektur,
Ø Adukan Beton
Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat pengecoran dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan Pengawas, yaitu : Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan. Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk berbagai pekerjaan beton memenuhi Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø Perawatan Beton
Beton yang sudah dicor dijaga agar tidak kehilangan kelembaban untuk paling sedikit 21 hari. Untuk keperluan tersebut ditetapkan cara sebagai berikut : Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai penutup beton. Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan tidak mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat, segera dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya menurut perintah Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki.
IV. PEKERJAAN PLESTERAN
Pekerjaan plesteran yang dilakukan pada pekerjaan ini adalah plesteran untuk pondasi relak dengan perbandingan 1Pc : 2 Ps dengan ketebalan 15 mm. Adapun persyaratn pekerjaan ini adalah sebagai berikut :
Bahan
Ø Semen
Semen yang digunakan adalah Portland Cement jenis I menurut NI – 8 tahun 1972 dan memenuhi S – 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972). Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak semen, tidak dipakai sebagai bahan campuran. Penyimpanan dilakukan sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk akan dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.
Ø Pasir beton
Pasir beton berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari bahan-bahan organis, Lumpur dan memenuhi komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
Ø A i r
Air yang digunakan air tawar, tidak mengandung minyak, asam, alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini akan dipakai air yg dapat diminum.
Pedoman Pelaksanaan
Ø Sama seperti dalam pedoman pelakasanaan Pekerjaan Pondasi, sebelum melaksanakan pekerjaan haru memberitahukan Direksi untuk mendapat persetujuan.
Ø Membersihkan semua kolom dari kotoran-kotan yang akan mengganggu pelaksanaan pekerjaan plesteran.
Ø Sebelum melakukan plesteran kolom dibasahi dengan air dan air terserap dengan baik kedalam kolom.
Ø Ketebalan Plesteran harus sesuai dengan spesifikasi teknis dan plesteran yang tidak sempurna dilaksanakan harus dibongkar dan diplester kembali.
Ø Hasil plesteran harus dijaga kelembabannya selama kurang lebih 7 ( tujuh) hari dari masa pekerjaan plesteran
Pedoman Pelaksanaan Lantai
Ø Dibawah lantai, sub lapisan kerikil yang padat (8-16 mm) dengan ketebalan minimal 5 cm harus dihamparkan guna menghindari lembab dibawah lantai.
Ø Untuk pekerjaan pengecoran lantai cor dipakai campuran 1 Pc : 3 Ps : 6 Kr dengan ketebalan 15 cm dan Aci halus permukaannya.
Ø Untuk beton tumbuk 1 Pc : 3 Ps : 6 Kr dan diplester dengan campuran 1 Pc : 3 Ps.
Pelaksanaan Kusen, Pintu dan Jendela
Ø Seluruh kusen, pintu dan jendela terbuat dari kayu kelas I dan legal sertifikasi ukuran sesuai gambar dari jenis yang cukup baik, tua, bersih dan kering dengan maksimum kelembaban 18 % serta tidak terdapat cacat kayu yang akan mengurangi kekuatan serta keindahan konstruksi.
Ø Pintu/jendela panel terbuat dari jenis kayu Meuranti yang cukup baik, sedangkan tebal pintu dan jendela t = 4 cm dengan bentuk dan ukuran sesuai gambar.
Ø Listplank dibuat dari papan yang berkualitas baik dengan ukuran 2,5/25 cm.
Ø Pintu dipasang dengan dua bua engsel secara baik, dimana tinggi antara lantai dengan pintu 1 cm.
Ø Setiap daun pintu dipasang dua buah engsel, dengan bukaan dua arah kesebelah kiri dan kanan.
Ø Kaca untuk jendela dipasang kaca polos tebal 5 mm. Pasangan kaca harus memperhatikan muai susut baik dari kusen, maupun bahan kaca tersebut.
Pelakanaan Atap
Ø Rangka atap (kuda-kuda, gording dan ikatan angin) seluruhnya menggunakan kayu kelas I yang bermutu baik dengna kelembaban maksimum 18 %, tidak ada celah atau rusak mengenai ukuran penempatan sesuai dengan gambar bestek/detail.
Ø Seluruh atap yang dipasang pada bagnunan ini adalah atap genteng Rubitel.
Pelaksanaan Plafon
Ø Untuk plafon digunakan plafond tripleks 3 mm pada seluruh ruangan. Ukuran dan ketinggian sesuai dengan gambar bestek/detail.
Ø Rangka langit-langit induk memakai kayu kelas II ukuran 5/10 cm kualitas yang baik. Rangka pembagi menggunakan kayu kelas II ukuran 5/7 cm.
Ø Sambungan antar tripleks dipasang lat kayu kelas II dengan ukuran 1/3 cm, termasuk pada bagian pinggir yang berhubungan dengan dinding.
Pekerjaan Instalasi Listrik
Ø Pemasangan instalasi listrik disesuaikan dengan gambar detail atau petunjuk dari direksi/pengawas lapangan.
Ø Kabel listrik dipasang dalam pipa plastic dari PVC guna menghindari kecelakaan.
Pelaksana Sanitair
Ø Untuk instalasi air kotor digunakan pipa PVC 3”, pemasangan harus rapi dan teratur sesuai gambar detail dengan kemiringan minimum 3%. Kontraktor harus menyediakan seluruh kebutuhan pelengkap/accessories. Pipa PVC harus disambung dengan baik untuk menghindari kebocoran.
Ø Untuk instalasi air bersih digunakan pipa PVC ½” termasuk seluruh accessories disediakan oleh kontraktor, pemasangan harus rapi dan teratur sesuai gambar detail. Pipa PVC harus disambung dengan baik untuk menghindari kebocoran.
Ø Untuk pemasangan kloset, kran air kondisi (tidak berkarat), floor drain dan sebagainya dipakai merk KIA atau yang sejenis disediakan oleh kontraktor. Warna sesuai pilihan pemilik.
Pelaksanaan Pengecetan
Ø Pengecetan dilaksanakan pada semua bidang permukaan kayu yang tampak, dimana sebelum pengecetan permukaan kayu harus dibersihkan dan digosok dengan kertas amplas dan pada bagian yang berlobang harus didempul atau diplamur, setelah kering lalu dogosok hingga rata kemudian di cat dasar sampai rata satu kali baru dengan cat berkualitas baik (sesuai pilihan pemilik) minimal 2 lapisan.
Ø Seluruh permukaan bidang-bidang tembok/ beton yang tang tampak harus dilabur dengan cat tembok 2-3 lapisan, pengecetan dilakukan pada permukaan dinding yang kering dan telah diplaster. Lapisan plaster dihaluskan, dibersihkan dan diratakan. Sebelum permukaan tembok dicat, permukaan bidang tersebut harus didempul dengan plamur yang dicampur dengan semen putih 25 % berat. Setelah dempul kering kemudian diamplas barulah dicat dasar 1 (satu) kali hingga rata benar. Untuk warna cat akan ditentukan oleh pihak direksi dimana pengecetannya dilakukan sebanyak 2-3 kali.
Pelaksanaan Finishing dan Lain-Lain
Ø Suatu keharusan bagi kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan semua standard yang disebutkan.
Ø Setiap saat selama masa pekerjaan konstruksi, kontraktor senantiasa diwajibkan untuk menjaga kebersihan lahan dari sisa-sisa bahan bangunan dan kotoran bekas. Sebelum serah terima kepada Direksi/ Sponsor Proyek, kontraktor membersihkan seluruh bangunan dengan baik, dan siap digunakan.
Minggu, 12 Oktober 2014
soedirman
Jenderal Besar Raden Soedirman (EYD: Sudirman; lahir 24 Januari 1916 – meninggal 29 Januari 1950 pada umur 34 tahun[a]) adalah seorang perwira tinggi Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Menjadi panglima besar Tentara Nasional Indonesia pertama, ia secara luas terus dihormati di Indonesia. Terlahir dari pasangan rakyat biasa di Purbalingga, Hindia Belanda, Soedirman diadopsi oleh pamannya yang seorang priyayi. Setelah keluarganya pindah ke Cilacap
pada tahun 1916, Soedirman tumbuh menjadi seorang siswa rajin; ia
sangat aktif dalam kegiatan ekstrakurikuler, termasuk mengikuti program
kepanduan yang dijalankan oleh organisasi Islam Muhammadiyah.
Saat di sekolah menengah, Soedirman mulai menunjukkan kemampuannya
dalam memimpin dan berorganisasi, dan dihormati oleh masyarakat karena
ketaatannya pada Islam. Setelah berhenti kuliah keguruan, pada 1936 ia
mulai bekerja sebagai seorang guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah,
di sekolah dasar Muhammadiyah; ia juga aktif dalam kegiatan
Muhammadiyah lainnya dan menjadi pemimpin Kelompok Pemuda Muhammadiyah
pada tahun 1937. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada 1942, Soedirman tetap mengajar. Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Selama menjabat, Soedirman bersama rekannya sesama prajurit melakukan pemberontakan, namun kemudian diasingkan ke Bogor.
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat. Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut. Pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff. Sembari menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa. Pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18 Desember. Selama tiga tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati –yang turut disusun oleh Soedirman – dan kemudian Perjanjian Renville –yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia. Ia juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Ia kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.
Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto. Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
Kematian Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia. Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometer (62 mil) yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer. Soedirman ditampilkan dalam uang kertas rupiah keluaran 1968, dan namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan, universitas, museum, dan monumen. Pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, Soedirman melarikan diri dari pusat penahanan, kemudian pergi ke Jakarta untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Ia ditugaskan untuk mengawasi proses penyerahan diri tentara Jepang di Banyumas, yang dilakukannya setelah mendirikan divisi lokal Badan Keamanan Rakyat. Pasukannya lalu dijadikan bagian dari Divisi V pada 20 Oktober oleh panglima sementara Oerip Soemohardjo, dan Soedirman bertanggung jawab atas divisi tersebut. Pada tanggal 12 November 1945, dalam sebuah pemilihan untuk menentukan panglima besar TKR di Yogyakarta, Soedirman terpilih menjadi panglima besar, sedangkan Oerip, yang telah aktif di militer sebelum Soedirman lahir, menjadi kepala staff. Sembari menunggu pengangkatan, Soedirman memerintahkan serangan terhadap pasukan Inggris dan Belanda di Ambarawa. Pertempuran ini dan penarikan diri tentara Inggris menyebabkan semakin kuatnya dukungan rakyat terhadap Soedirman, dan ia akhirnya diangkat sebagai panglima besar pada tanggal 18 Desember. Selama tiga tahun berikutnya, Soedirman menjadi saksi kegagalan negosiasi dengan tentara kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia, yang pertama adalah Perjanjian Linggarjati –yang turut disusun oleh Soedirman – dan kemudian Perjanjian Renville –yang menyebabkan Indonesia harus mengembalikan wilayah yang diambilnya dalam Agresi Militer I kepada Belanda dan penarikan 35.000 tentara Indonesia. Ia juga menghadapi pemberontakan dari dalam, termasuk upaya kudeta pada 1948. Ia kemudian menyalahkan peristiwa-peristiwa tersebut sebagai penyebab penyakit tuberkulosis-nya; karena infeksi tersebut, paru-paru kanannya dikempeskan pada bulan November 1948.
Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari rumah sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Di saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di kraton sultan, Soedirman, beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto. Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
Kematian Soedirman menjadi duka bagi seluruh rakyat Indonesia. Bendera setengah tiang dikibarkan dan ribuan orang berkumpul untuk menyaksikan prosesi upacara pemakaman. Soedirman terus dihormati oleh rakyat Indonesia. Perlawanan gerilyanya ditetapkan sebagai sarana pengembangan esprit de corps bagi tentara Indonesia, dan rute gerilya sepanjang 100-kilometer (62 mil) yang ditempuhnya harus diikuti oleh taruna Indonesia sebelum lulus dari Akademi Militer. Soedirman ditampilkan dalam uang kertas rupiah keluaran 1968, dan namanya diabadikan menjadi nama sejumlah jalan, universitas, museum, dan monumen. Pada tanggal 10 Desember 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Langganan:
Komentar (Atom)

